Mesin Pencarian

Kamis, 01 Januari 2009

Shi Shang Tze You Mama Hao

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari
keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut.
Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan,
tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat
sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan
membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua
sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota
tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya,
mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria
berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan
keputusannya,
apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb
bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen
dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang
belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang
anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar
menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk
anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka
akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan
untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun
ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria.
Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar
dan
dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan
sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut
dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria... Mereka kemudian memohon
pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.

Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,
reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.
Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut
secara perlahan2.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar
wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan
menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai
hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis
tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan
bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi
menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya.
Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk
surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang
pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak
mau meneruskan usaha orang tuanya. 'Walaupun ia kelak bukan suamimu,
bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah
untuk kebaikan kalian berdua', kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia
sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa
keberadaannya hanya
akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah
melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam
menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat
lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah. Tetesan air
mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak
antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu,
sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad
untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.



==========0000000000==============

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang
ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk
membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah
industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan
menyulam
sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan
ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup
berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena
ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah
mengeluh dengan pekerjaannya...

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya
sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus
menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah
menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan
itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada
siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup
ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat2 herbal dan daging sapi untuk
dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya
mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk
membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah
berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk
mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya,
untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada
di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur
dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari
pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat
mulutnya dengan sepotong kain... Darah berhamburan. Sang ibu tengah
berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan
suara kesakitan yang teramat
sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang
ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.
Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan
oleh sang ibu ............ .


==========0000000000==============

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan,
cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya... Di hari
minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan
bersama2 menyanyikan lagu 'Shi Sang Chi You Mama Hau' (terjemahannya
'Di
Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik').

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.

Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di
malam
hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan
biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat
membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini
Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah
pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu
mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain
yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia
akan membelinya bulan depan. 'Apakah kamu punya uang?'
tanya sang pemilik toko. 'Tidak sekarang, nanti saya akan punya', kata
sang
anak dengan serius.


Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb.
Sang kakek
juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.

Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya 'Dari mana kamu mendapatkan
uang itu? Bukan mencuri kan ?'. 'Saya tidak mencuri, kakek...
Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang
pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari
sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam
ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku
tentang hal ini. Ia akan marah' kata sang anak. Sang pemilik toko tampak
kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera
memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang
ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini
memang adalah impiannya.. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari mana uang
untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau
menjawab.

'Apakah kamu mencuri, Nak?' Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak
ingin
ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.
Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya
telah mencuri. 'Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah
ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?' kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada
anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,
sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena
ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi
kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah
tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. 'Ia
sebenarnya anak yang baik', kata salah satu tetangganya.
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke
rumah salah satu
tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah
itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera
menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke
arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada
ibunya.

'Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya'. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.
Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak
tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam
tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang
tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke
rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan
uang membeli jam tangan kesukaan
ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb,
begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,
keduanya menangis dengan tersedu-sedu.'Maafkan saya, Nak.'

'Tidak Bu, saya yang bersalah'............... ..

===========000=================

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya
mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini,
karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.

Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan,
mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari
bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia
mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya
hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa
bantuanmu.


Berita ini segera diketahui
oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin
melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

===========000==================

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan
bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau
kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya
medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang
tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah,
karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota
, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan
lagu 'Shi Sang Chi You Mama Hau', lagu kesayangan mereka. Untuk
sejenak,
sang ibu melupakan semua
penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan
bersama sang anak.

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak
menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.
'Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak' kata ibu.
'Tidak
apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama2
dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya
perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu',
kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah
keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang
melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2
ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan
mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama
ibunya, sang
anak menolak. 'Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu',
teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis,
sang ibu berkata 'Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini.
Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.' 'Tidak, aku tidak mau
mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang
saya?Ibu sekarang tidak mau saya lagi', sang anak mulai menangis.


Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak
didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 'Kalau ibu sayang
padaku, bawalah saya pergi, Bu'. Sampai pada akhirnya, ibunya
memaksa dengan mengatakan 'Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah
disini', ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya
meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
hati, ia telah berpisah dengan
anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk
anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara
isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan
satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak
akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa
anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan,
demi anaknya juga........... ..

============000=========

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja
yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani
perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.

Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah
payah
mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak
pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya,
yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai
bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah
kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia
akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya.
Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong.
Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana
ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan
rumah tsb, menangis 'Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.'

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah
pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.

Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini
adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya
mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil
menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,
setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang
ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya
dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang
ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah
pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila
kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih.
Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.

Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon
agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan, demamnya
tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke
rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan
berguling2 jatuh ke bawah.......... ..

============000==============

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah.
Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh
dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak
menghabiskan uang untuk mencari ibunya
kemana2, tetapi hasilnya nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama
pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil
mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah
'Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?'

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu.. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu 'Shi Sang Ci You Mama Hau' dengan suara perlahan, tak
disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka
berdua menyanyi bersama. Ia
segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua
itu dan berteriak dengan haru 'Ibu? Ini saya ibu'.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,
'Apakah kamu ??..(nama anak itu)?' 'Benar bu, saya adalah anak
ibu?'.

Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi
bumi ............... .

Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang
ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya,
tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai
orang gila.

====================000===========================

Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu
bahkan rela mengorbankan nyawanya..
Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini,
di saat Ibu masih muda,
ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku
sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda,
diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ...........


Tidak diragukan lagi 'Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia
ini'



Ingin bergabung dalam sebuah MISI MULIA ? Ada 2 tindakan yang dapat Anda
lakukan :

1. Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini), ajaklah ia untuk
keluar makan atau jalan2 MALAM INI JUGA. Jangan ditunda2. Bila Ibu Anda
tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan Anda, telponlah dia malam ini
juga, just to say 'hello'. Catatlah hari ulang tahunnya, rayakan,
dan
bahagiakanlah dia semampu Anda... Hidangkan makanan favoritnya, dst.

2. Kirimkan kisah film ini kepada saudara/i Anda, teman2 Anda, maupun
rekan2 kerja Anda (minimal 5, kalau 100 org lbh baik lagi). Bagi sebagian
dari mereka, kisah ini mungkin akan seperti setetes embun yang menyegarkan
jiwa mereka, yang terkadang terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri.

Anda sungguh berjasa dalam hal ini??


Mom, my beloved. I love you Mom forever???in my deep heart?. I always
missing you Mom??..

Hati-hati jika pulang kantor

Pulang kantor sekitar jam 20.30 saya naik no.75 jurusan Blok M ?C Pasar Minggu.
Saya duduk sendiri di belakang seorang pria pendek , sedikit kucel yang juga duduk sendiri . Usia sekitar 25 ?C 30 thn .
Ngga berapa lama, saya mulai mencium bau aneh agak2 kaya parfum .
Tadinya saya pikir bau berasal dari cologne anak-anak di tas saya yang kebetulan baru saya beli.
Tapi lama-lama kok saya jadi sering menguap lalu tambah mengantuk.
Saya mulai curiga dan langsung waspada sama pria di depan saya.
Setelah saya perhatikan ternyata dia suka mengesek-gesek rambut belakangnya di depan saya dan diam-diam melirik terus ke belakang.
Mungkin ngecheck apakah mangsanya sudah berhasil ditaklukkan belum .
Saya tahan ngantuk sekuat mungkin dan berniat menantang dia . Saya pelototin pria itu terus biar dia tahu bahwa saya udah nyadar gerak-geriknya.
Ngga berapa lama badannya berputar 180' dan menghadap saya , dia kelihatan kesal sekali .
Dia berbalik lagi dan mulai menggosok-gosok lengan dalamnya dengan cepat .
Saat itu juga saya mulai mencium bau yang lebih menyengat lagi sampai saya pusing banget dan rasanya mau pingsan .
Akhirnya akal sehat saya memutuskan untuk segera turun walau belum sampai tujuan dan melanjutkan dengan ojek .
Saya berjalan oleng dan badan ini rasanya lemas sekali, ngomong ke tukang ojek aja ngga jelas kaya orang mabok.
Saya ngga tahu yang terjadi kalau tadi saya ngga waspada dan nekat diam di metro mini itu 5 menit lagi .
Sebelum saya turun, saya juga sempat memperhatikan dia mulai melirik-lirik mangsa baru, seorang wanita kantor berbaju rapi.
So ladies yang suka pulang malem ati-ati kalau mulai mencium bau-bauan yang aneh mending turun deh . Rugi di ongkos ngga apa-apa daripada rugi lebih banyak lagi.
Intinya jangan pernah ngelamun di kendaraan umum ( taksi / angkot ) dan keramaian . Daaan tetap waspada.
Carefull gals ??


DEAR ALL,
TEMAN SAYA BARU BARU INI TERKENA MUSIBAH,MOBILNYA YANG DIA PARKIR DI SEKITAR BLOK M DI CURI DENGAN CARA YANG BENAR 2 TIDAK DIDUGA DIA CERITA SEKITAR JAM 18.30 DIA KELUAR DARI PASAR RAYA KEMUDIAN DIA BERJALAN KEARAH LUAR ( KARENA MOBILNYA DIPARKIR DILUAR AREA).

BEGITU DIA SUDAH SAMPAI DI MOBILNYA DAN KEMUDIAN MEMBUKA PINTU MOBIL,TIBA-TIBA ADA 2 ORANG SALES PROMOTION ( 1 WANITA + 1 PRIA) YANG MENAWARKAN MINYAK WANGI YANG DISEMPROTKAN PADA SELEMBAR TISSUE/KERTAS DAN KEMUDIAN MENAWARKAN KPD TEMEN SAYA TERSEBUT.

TANPA CURIGA KEMUDIAN TEMEN SAYA MENCIUM AROMA MINYAK WANGI TERSEBUT DAN KEMUDIAN DIA MERASA PUSING DAN MENGANTUK YANG AMAT SANGAT......

BEGITU DIA BANGUN (SEKITAR JAM 22.00) TERNYATA MOBILNYA SUDAH TIDAK ADA DITEMPAT SEDANGKAN DIA DIDUDUKKAN DI TROTOAR SEKITAR JALAN TERSEBUT MAKA HATI-HATI KARENA SIAPA TAHU HAL TERSEBUT DAPAT MENIMPA ANDA ATAU ORANG ORANG TERDEKAT DISEKITAR ANDA.

Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba
melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, "Bagaimana saya tahu kalo
saya menikah dengan orang yang tepat?"
Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya,
jadi saya menjawab "Ya.. tergantung. Apakah pria di sebelah anda itu
suami anda?"
Dengan sangat serius dia balik bertanya "Bagaimana anda tahu?!"

"Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini."

Inilah jawabannya!
SETIAP ikatan memiliki siklus. Pada saat-saat awal sebuah hubungan,
anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda.
Telepon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian
sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang
bersemangat, begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. Jatuh cinta
merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan.
Ngga perlu berbuat apapun.
Makanya dikatakan "jatuh" cinta!

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan "aku mabuk cinta"
Bayangkan ekspresi tersebut!
Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba
sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda.

Jatuh cinta itu mudah.
Sesuatu yang pasif dan spontan.
Tapi?
Setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar,
perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan.

Perlahan tapi pasti.. telepon darinya menjadi hal yang merepotkan,
belaiannya ngga selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang bersemangat
bukannya jadi hal yang manis, tapi malah nambahin penat yang ada?

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu,
namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan
mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat
anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan
kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?"
mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari
keduanya.. Nah lho!

Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia
cinta yang pernah terjadi.. anda mungkin mulai berhasrat menyelami
eforia-eforia cinta itu dengan orang lain.

Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas? Masing-masing sibuk
menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari
pelampiasan diluar.
Berbagai macam cara, bentuk, dan ukuran untuk pelampiasan ini.
Mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas.

Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya,
hobinya, pertemanannya, nonton TV sampe TVnya bosen ditonton, ataupun
hal-hal yang menyolok lainnya.

Tapi tau ngga?!
Bahwa jawaban atas dilema ini ngga ada diluar, justru jawaban ini
hanya ada didalam pernikahan itu sendiri.

Selingkuh?? Ya mungkin itu jawabannya. Saya ngga mengatakan kalo anda
ngga boleh ataupun ngga bisa selingkuh, Anda bisa!

Bisa saja ataupun boleh saja anda selingkuh, dan pada saat itu anda
akan merasa lebih baik.

Tapi itu bersifat temporer, dan setelah beberapa tahun anda akan
mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda).
Perselingkuhan yang dilakukan sama dengan proses berpacaran yang
pernah anda lakukan dengan pasangan anda, penuh gairah.

Tetapi, seandainya proses itu dilanjutkan, maka anda akan mendapati
keadaan yang sama dengan pernikahan anda sekarang.
Itu adalah siklus...

Karena.. (pahamilah dengan seksama hal ini)
KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN
KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN
DAN TERUS MENERUS..!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan
Cinta NGGA AKAN PERNAH begitu saja terjadi! Kita ngga akan bisa
MENEMUKAN cinta yang selamanya Kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke
hari.

Benar juga ungkapan "diperbudak cinta"
Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling
penting, cinta itu butuh sikap BIJAK

Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga
berjalan dengan baik .

Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini. Cinta bukanlah MISTERI

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa
pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar.
Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika (seperti gaya
Grafitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya.
Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat
membuat tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah
tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat.
Ini merupakan reaksi sebab akibat.

Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita
bisa "MEMBUAT" cinta, bukannya "JATUH".

Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION,
dan bukan cuma PERASAAN..!

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak mendengar...
namun senantiasa bergetar....

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak buta..
namun senantiasa melihat dan merasa..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak menyiksa..
namun senantiasa menguji..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak memaksa..
namun senantiasa berusaha..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak cantik..
namun senantiasa menarik..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak datang dengan kata-kata..
namun senantiasa menghampiri dengan hati..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak terucap dengan kata..
namun senantiasa hadir dengan sinar mata..

jika ia sebuah cinta......
ia tidak hanya berjanji..
namun senantiasa mencoba memenangi..

jika ia sebuah cinta.....
ia mungkin tidak suci..
namun senantiasa tulus..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir karena permintaan..
namun hadir karena ketentuan...

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan...
namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..

CINTAILAH pasangan anda, seperti anda INGIN DICINTAI olehnya?
SETIALAH pada pasangan anda, seperti anda INGIN MENDAPATKAN KESETIAANNYA?

Renungan : Sebuah Doa Khusus

Oleh Michael Jordan Segal


(Sebuah pengalaman hidup)

Setahu saya, ayah adalah seorang yang sangat berjiwa sosial. Dia selalu mendahulukan orang lain sebelum memikirkan dirinya sendiri. Mungkin karena itulah ayah dipilih menjadi seorang Rabbi, untuk melayani Tuhan menolong orang lain.

Setiap Natal, ayah saya, Rabbi Jack Segal, menjadi sukarelawan di Rumah Sakit Houston supaya karyawan yang beragama Kristen dapat merayakan Natal bersama orang yang mereka kasihi. Natal ini, ayah bertugas menjadi operator telpon di rumah sakit, menjawab semua telpon yang masuk ataupun meneruskan panggilan telpon. Kemudian ada satu telpon masuk berasal dari seorang wanita yang sangat cemas.

“Pak, keponakan laki-laki saya pagi ini masuk rumah sakit karena kecelakaan. Tolong ceritakan keadaannya sekarang.”

Setelah wanita itu memberikan nama si anak, ayah memeriksa data di komputer dan berkata, sesuai dengan cacatan medis yang tertulis, “Keponakan anda dalam keadaan kritis. Maafkan saya. Saya harap dia bisa berangsur-angsur pulih.” Saat ayah berkata, “kritis,” wanita itu langsung menangis dan berseru, “Oh Tuhan! Apa yang harus saya lakukan? Apa yang harus saya lakukan?”

Mendengar suara panik itu, ayah berkata dengan lembut, “Sebuah doa mungkin akan sangat berguna pada saat ini.”

Wanita itu segera menjawab, “Ya – benar. Tapi sudah sepuluh tahun saya tidak ke gereja dan saya sudah lupa bagaimana caranya berdoa,” kemudian bertanya,”Pak, apakah anda tahu caranya berdoa? Apakah anda bisa berdoa untuk saya, sambil saya mendengarkan di telpon?”

Ayah segera mejawab, “Tentu saja,” dan mulai mengucapkan sebuah doa kuno untuk kesembuhan dalam bahasa Ibrani, ‘Mee Shebayroch.’ Dan ditutup dengan kata, “Amin.”

“Terima kasih banyak Pak,” wanita di seberang telpon berkata. “Bagaimanapun juga,” dia meneruskan, “Saya sangat menghargai doanya. Tapi saya punya sebuah masalah. Saya tidak paham doa yang Bapak ucapkan, karena saya tidak bisa berbahasa Spanyol.”

Ayah tertawa dalam hati dan berkata, “Bu, itu bukan bahasa Spanyol. Saya seorang Rabbi dan doa itu dalam bahasa Ibrani.”

Wanita itu menghela nafas dengan lega. “Bahasa Ibrani? Hebat sekali. Itu adalah bahasa Tuhan. Kalau begitu Tuhan tidak perlu pernerjemah.”

Kekuatan Doa dalam Penyembuhan

Aku dan suamiku merasa letih pada hari Natal itu. Sebagai dosen, kami telah menyerahkan nilai-nilai semester sebelumnya pada musim gugur. Kami segera menyiapkan beberapa kopor dan mengajak anak-anak untuk mengadakan perjalanan ke rumah kakek dan nenek mereka di California.

Suamiku, David, tergores jarinya ketika ia menutup kopor. Jarinya tak berdarah dan ia pun tak menghiraukannya. Ketika kami akan berangkat, ayahku menelepon dan mengatakan bahwa ibunya atau nenekku baru saja meninggal dunia. Pemakamannya akan dilangsungkan segera sesudah hari Natal.

Pada Malam Natal, David mengatakan bahwa dia merasa sakit di bawah lengannya. Tetapi ia berpikir bahwa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Selanjutnya, kami berkumpul dan membuka sumbangan simpati bersama-sama anak-anak kami dan orang-orang yang datang pada acara pemakaman.

Tiba-tiba, David gemetar dan harus berbaring ketika hadiah terakhir dibuka. Dua hari berikutnya, David memburuk. Badannya terasa sakit, terutama lengannya. Ia hampir tidak bisa menahan rasa sakitnya dan akhirnya muntah-muntah. Aku menelepon dokter kami di Utah.

Menurut dokter, David mungkin terserang influenza. Pada Selasa pagi, aku merasa bahwa David bisa ditinggalkan selama satu jam. Kami pergi ke gereja untuk pemakaman Nenek. Lagipula, aku ikut berbicara pada acara pemakaman itu. David bisa mengurus dirinya untuk beberapa saat.

Acara pemakaman itu bisa menjadi sarana reuni yang hangat dengan saudara-saudaraku. Aku adalah cucu perempuan yang paling tua sehingga aku berbicara mewakili semua cucu perempuan. Nenek meninggal dunia pada usia 94 tahun. Menurutku, ia mempunyai hidup yang panjang dan produktif. Para wanita dari keluarga Waite adalah pribadi-pribadi yang kuat. Ketika aku duduk, seorang tetangga memberiku sebuah kertas berisi pesan singkat yang dikirim oleh gereja bahwa suamiku telah dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.

Ketika aku tiba di rumah sakit, aku mendapatkan David di ambang kematian. Ia hampir tidak sadar. Tetapi ia cukup sadar untuk merasakan sakit yang hebat. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia mengatakan kepadaku bahwa badannya mulai membeku beberapa saat setelah kami meninggalkannya. Ia merasakan ada suara yang memperingatkannya, "Anda memerlukan ambulans sekarang." Setelah mendengarkannya beberapa kali, ia merangkak ke telepon dan memutar 911.

Operator berusaha agar David tetap sadar dan berbicara. Tetapi David akhirnya meletakkan telepon. Ia merangkak ke pintu depan dan membuka kuncinya. Kemudian, ia berbaring di sofa. Paramedis menemukannya dalam keadaan hampir tidak sadar dengan denyut nadi yang tak dapat dideteksi. Akhirnya, mereka melarikannya ke rumah sakit.

Beberapa tes dilakukan, termasuk di dalamnya tes dengan sinar X dan USG. Para dokter bingung karena mereka tak dapat mendiagnosis masalahnya. Ketika selesai menjalankan pemeriksaan MRI, ia memperlihatkan suatu tanda berwarna hitam keunguan di salah satu sisi badannya. "Apakah ia mabuk di jalan kecil semalam? Apakah seseorang menendangnya?" mereka bertanya. Aku meyakinkan mereka bahwa itu bukan penyebabnya. Para dokter memanggilku setelah mereka berdiskusi selama beberapa menit lagi.

"Kami rasa, kami tahu penyebabnya. Ini mungkin 'necrotizing fasciitis', atau lebih dikenal sebagai bakteri pemakan daging. Apakah Anda pernah mendengarnya?"

"Tidak," jawabku.

"Ini adalah bakteri yang mematikan. Kami akan mengoperasinya dan membedahnya dari pergelangan tangan ke paha. Ini untuk mendeteksi jaringan yang terinfeksi. Penyakit ini sangat jarang terjadi. Bakterinya mungkin masuk ke dalam tubuhnya lewat luka. Apakah ia pernah mengalami luka di jari atau lengannya akhir-akhir ini?"

"Jarinya luka terkena retsleting ketika ia menutup kopor, hanya itu."

"Ini bakteri biasa, tetapi badan kita seharusnya bisa melakukan perlawanan. Karena sesuatu hal, bakteri ini telah menyerang suamimu. Ia mempunyai kesempatan hidup 5 -- 10% untuk melewatinya. Penyakitnya sangat parah. Ia akan tampak seperti digigit ikan hiu setelah kami selesai membedahnya."

Aku tahu bahwa persentase kesempatan hidup itu adalah cara lain untuk mengatakan bahwa suamiku mungkin akan meninggal. "Menurutku, kesempatan hidup 10% itu tetap berharga. Marilah kita mempertahankan hidupnya. Marilah kita menyelamatkannya," jawabku.

Semua anak kami masuk ke dalam ruangan untuk mendoakan kesembuhan bagi ayah mereka.

Di serambi rumah sakit, para perawat membawakan kursi dan jus buat kami agar kami tidak pingsan. Kami semua kaget karena David kelihatan dalam keadaan sehat. Ternyata, ia di ambang maut karena suatu penyakit yang sangat berbahaya. Saat itu, dia dalam keadaan setengah sadar. Sebelum dioperasi, aku membisikkan sesuatu kepadanya, "Pilihlah hidup, David. Pilihlah hidup."

Aku juga tahu bagaimana cara memperbesar kemungkinan. Aku mengumpulkan keluargaku di ruang tunggu kamar operasi. Kebetulan, ruang tunggu itu kosong. Kami segera berlutut dan berdoa bersama.

Aku berkata, "Bapa kami yang di surga, dokter-dokter tidak tahu apa yang diderita David, tetapi Kau tahu. Mereka tak tahu bagaimana menyembuhkannya, tetapi Kau tahu. Berkatilah mereka sehingga mereka tahu bagaimana menyelamatkan tubuh David. Biarlah kehendak-Mu yang terjadi." Kalimat yang terakhir ini sulit diucapkan. Tetapi itu harus kuucapkan karena aku tidak boleh memerintah Tuhan.

Kemudian, aku masuk ke sebuah ruang kantor yang dikosongkan. Atas izin rumah sakit, aku melakukan telepon jarak jauh ke beberapa orang, yakni orang tua David, pendeta jemaat gereja kami, teman baikku Beth, dan kepala bagian bahasa Inggris universitas. Aku memohon agar mereka menelepon orang-orang yang kami kenal dan meminta orang-orang tersebut agar berdoa untuk David: "Dua jam setelah ini sangat menentukan hidup suamiku. Tolong doakan dia. Aku percaya akan mukjizat dan kuasa doa." Hari itu, ratusan teman kami sedang berdoa untuk David.

Para dokter ahli bedah muncul beberapa jam berikutnya dengan membawa berita baik. Ternyata, bakteri belum menyebar seperti yang mereka duga sebelumnya. Dan, David tetap hidup. Kami bersorak dan merasa seakan doa-doa kami telah terjawab. Tetapi David masih dalam keadaan sangat sakit dan tetap berada di ambang kematian.

Saat itu, ada sebuah tim yang beranggotakan dua belas dokter. Mereka memunyai spesialisasi yang berlainan. Mereka memberitahu kami bahwa bakteri strep A sedang menggerogoti kulit David serta lapisan-lapisan jaringan dan otot. Infeksinya menjalar dengan kecepatan satu inci per jam. Dokter-dokter melakukan operasi besar setiap hari. Mereka memotong jaringan yang mati atau yang terinfeksi.

David ditempatkan di dalam ruang "hyperbaric" selama beberapa jam setiap hari. Ruang ini bertekanan dan memunyai daya gravitasi lebih berat daripada yang ada dalam sistem tubuh. Ruang ini diisi penuh dengan 100% zat asam. Tekanannya dinaikkan agar zat asam langsung masuk ke dalam sel-selnya. David bertahan hidup dua hari lagi.

Ternyata keadaannya tidak mengalami kemajuan. Ahli bedah utama berbicara kepadaku secara jujur. "Aku memunyai perasaan tak enak mengenai hal ini," katanya memperingatkan. "Menurutku, bakteri-bakteri itu telah menjalar ke leher dan jantungnya."

Aku pulang dengan keyakinan bahwa kematian David akan segera tiba. Aku harus berpikir untuk merelakan kepergiannya. Sepanjang malam itu, aku mencoba berdoa untuk kehidupan David. Aku juga mencoba untuk keluar dari kegelapan yang menyelimutiku.

Setelah itu, aku kembali ke rumah sakit. Aku siap untuk mengucapkan selamat jalan kepada David bila itu yang dikehendaki Tuhan. Tapi aku kaget ketika mendengar berita dari ahli bedah bahwa keadaan David berubah menjadi lebih baik. Badannya mulai bisa memerangi bakteri.

Siang itu, ahli bedah memberitahuku bahwa ia akan mendatangkan seseorang untuk mengamputasi lengan David. David telah kehilangan sebagian besar kulit dan ototnya. "Tetapi, David seorang pemain piano," aku memprotes. "Bila Anda ada di ruang bedah, mohon diingat bahwa David adalah seorang pemain piano."

Di rumah, kami memutuskan untuk berdoa, terutama untuk lengannya. Terus terang, aku belum pernah berdoa untuk suatu bagian tubuh tertentu. Setiap hari selama seminggu, para ahli bedah datang dan mereka siap untuk mengamputasi lengannya. Namun, mereka memutuskan untuk membiarkannya karena lengan itu masih memunyai sejumlah jaringan yang sehat. Meskipun demikian, penyakit ini telah menggores urat saraf utama. Kalaupun tidak diamputasi, para dokter memprediksi bahwa lengan David akan lemah.

Beberapa hari kemudian, David dapat menggerakkan jari dan tangannya. "Nah, kelihatannya Anda dapat menggerakkannya, tetapi bermain piano masih diragukan. Anda pun harus melupakan untuk bermain tenis," ahli bedah mengatakan kepadanya. "Lagipula, andaikata Anda tiba di lapangan tenis, Anda akan bermain seperti orang yang sudah tua." David penuh semangat karena telah mendapatkan hidupnya kembali. Ia segera menantang ahli bedah itu untuk bermain tenis bila ia sudah sembuh.

David hidup. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, ia kehilangan hampir 50% dari kulit di bagian atas tubuhnya. Para dokter mengganti kulit itu dengan cangkokan kulit yang diambil dari pahanya sampai tertutup oleh kulit yang baru.

Akhirnya, ia meninggalkan rumah sakit dan pulang dengan perayaan besar. Ketika kami tinggal berdua, aku dan David saling memandang dan memutuskan untuk mencoba bermain piano di rumah. Menurutku, bila ia dapat bermain beberapa nada, aku akan menganggap itu sebagai suatu keberhasilan.

Dengan kekhawatiran, David meletakkan kedua tangannya di atas deretan tuts piano. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah jari-jarinya dapat bekerja? Apakah keterampilannya hilang untuk selamanya? Aku menahan napas. David mulai bermain. Secara luar biasa, ia masih dapat memainkan piano dengan sangat indah. Ia menggubah sebuah karya musik saat itu.

Tetapi itu bukan akhir dari kemajuan David. Dari Natal itu sampai ke Natal berikutnya, David menjalani terapi fisik untuk mengembalikan kelenturan di dada, punggung, dan lengannya.

Ketika Natal berikutnya hampir tiba, kami memutuskan untuk mengunjungi orang tuaku di masa liburan. Ini untuk membuktikan kepada mereka bahwa kami dapat berlibur tanpa seorang pun yang sakit atau masuk rumah sakit. Dengan semangat tinggi, David menelepon ahli bedahnya dan mengingatkannya tentang tantangan untuk bermain tennis. Si ahli bedah senang mendengarkan tantangannya.

Pada malam Natal, David dan dokternya bertemu di sebuah lapangan tenis. Mereka bermain ganda melawan sepasang dokter lainnya. Ahli bedahnya bersorak setiap kali David memukul bola. Ia memanggil dokter-dokter lain ke jaring net untuk memperlihatkan bekas-bekas dan cangkokan kulit di sekujur tubuhnya. Pada akhir permainan, David dan ahli bedahnya menang 40-0.

Meskipun tahun itu merupakan tahun yang sangat sulit bagi kami, masa itu merupakan masa yang kudus. Keluarga kami mengalami tiga mukjizat melalui cinta dan doa-doa ratusan orang di sekeliling kami. David hidup, ia tetap memunyai kedua lengannya, serta ia dapat bermain tenis dan memainkan sonata-sonata Beethoven.

Aku mendapati bahwa sebagian besar doa permohonanku telah berubah menjadi doa ucapan syukur. Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : The Magic of Christmas Miracles
Judul artikel: Kekuatan Doa dalam Penyembuhan
Penulis : Jamie C. Miller, Laura Lewis, dan Jennifer Basye Sander
Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2002
Halaman : 104 – 111