Mesin Pencarian

Sabtu, 10 Januari 2009

Ketika Niat Baik Berakhir Buruk

Sebuah saran adalah sesuatu yang baik. Namun seringkali sebuah saran yang terlontar malah membuat konflik, terutama bagi para wanita yang sedang sedih atau kecewa. Perasaan mereka akan merasa bertambah buruk.

Sebagai seorang pria, seringkali suami ingin membuat perasaan sang istri yang sedang sedih dan kecewa menjadi lebih baik. Dia akan melontarkan solusi-solusi, yang diharapkan dapat membantu sang istri terkasih.

Saran atau masukan bukanlah sesuatu yang buruk. Hal itu sangat baik, namun seringkali dilontarkan pada waktu yang salah. Wanita sangat menghargai saran dan masukan dari pasangannya, asal jangan pada waktu dia sedang merasa sedih atau kecewa. Perlu diingat bahwa pada saat seperti itu, seorang wanita hanya butuh seseorang yang mendengarkannya.

Hargailah perasaannya, dan mengertilah yang diinginkan oleh pasangan Anda. Tahan lidah Anda untuk mengucapkan nasihat-nasihat.

Salah satu perbedaan terbesar antara pria dan wanita adalah caranya untuk menangani stress. Jika pria sedang mengalami tekanan dan stress, dia akan semakin fokus dan mencari solusi. Tetapi wanita ketika mengalami tekanan dan stress, perasaan mereka akan menguasai kehidupannya, dan dirundung kesedihan. Wanita akan merasa lebih baik dengan membicarakan masalahnya.

Jika Anda tidak mengerti perbedaan ini, akan banyak letupan konflik yang terjadi dalam hubungan Anda. Sebagai contoh, mari kita lihat apa yang dialami oleh Tom dan Marry.

Ketika Tom pulang kantor, yang diinginkannya adalah suasana yang tenang dimana dia bisa minum kopi sambil membaca koran. Hari itu Tom sedang stress karena masalah kantor yang belum terselesaikan dan mencoba mencari sesuatu yang bisa membuatnya melupakan masalah itu sejenak.

Hal yang sama juga dialami oleh Marry, istri Tom. Dia mengalami hari yang melelahkan dan ingin berbicara dengan Tom tentang masalah yang dialaminya.

Dua keinginan dengan tingkat stress yang sama membuat suasana menjadi tidak menyenangkan. Tom berpikir bahwa Marry terlalu banyak bicara, sedangkan Marry merasa diabaikan oleh Tom.

Hal ini terjadi karena keduanya tidak mengerti perbedaan diri mereka sebagai pria dan wanita.

Mungkin Anda merasa pernah mengalami hal yang sama, karena hal ini adalah sebuah contoh yang biasa terjadi dalam kehidupan suami-istri. Untuk mengatasi hal ini, tidak hanya bergantung pada besarnya cinta Tom dan Marry. Tetapi juga kemauan untuk mengerti seperti apa pasangannya.

Bagi wanita bisa berbagi dengan mendengarkan satu sama lain adalah sebuah tanda cinta pasangannya. Dia bisa percaya pada pasangannya, dan bisa berbagi beban. Jadi para suami, dengarkanlah istri Anda. Dan jika dia sudah merasa tenang, mintalah ijin padanya untuk menyampaikan pendapat dan saran Anda.


Sumber : Men are from Mars,Women are from Venus, John Gray

Menangani Perselisihan dengan Pasangan

"Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." Filipi 2:3-4.

Saya bisa menjamin bahwa satu hal yang pasti dialami oleh pasangan manapun adalah konflik. Konflik merupakan bagian yang normal dalam sebuah hubungan, karena itu sangat penting untuk kita belajar bagaimana menyelesaikannya tanpa menimbulkan luka emosional. Menyelesaikan setiap konflik dengan pasangan mungkin tampak tidak mungkin pada awalnya. Anda mungkin berpikir, "Yah, kamu tidak tahu sih pasanganku seperti apa..." Bagaimanapun juga, dengan melakukan hal-hal penting ini, anda tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan anda untuk menyelesaikan konflik, namun juga bisa menurunkan tingkat luka emosional yang ditimbulkannya. Istri saya, Erin dan saya menemukan ini pada saat kami sedang mengalami puncak dari satu konflik yang terjadi.

Selama masa belajar saya untuk gelar Doktor, saya diminta untuk mengambil sebuah kelas riset. Saya tahu bahwa saya berada dalam masalah saat di pertemuan kelas yang pertama, profesor pengajar saya membicarakan tentang sederet daftar konsep-konsep statistik dan formula-formula yang kami harus tahu. Perut saya semakin sakit saat saya merasa tidak pernah mendengar istilah-istilah yang dia katakan. Saya pulang ke rumah dan memberitahu Erin bahwa saya tidak akan mengikuti kelas itu. Namun Erin berpikir bahwa berhenti dari kelas itu bukanlah jawabannya, dan dimulailah perselisihan itu.

Konflik itu bisa saja berlangsung lebih lama kalau putri saya, Taylor, yang baru berusia 2 tahun tidak ikut campur, "Cukup semuanya!" dia berteriak dan mendorong saya mundur dengan sendok kayu. Kejutan karena ditegur oleh seorang anak yang berusia 2 tahun menyebabkan kami berdua tertawa. Waktu saat-saat tegang itu sudah reda, Erin dan saya menyadari bahwa ketidaksetujuan kami satu sama lain telah menyebabkan luka secara emosional. Sudah jelas bahwa kami tidak melakukan apa yang ada dalam Filipi 2 dan saling menghormati satu sama lain. Sebagai hasilnya, kami menggunakan langkah-langkah berikut ini untuk menyelesaikan konflik kami.

Time Break!

Bagi banyak pasangan, saat beradu argumen adalah saat-saat dimana emosi sedang berada pada tingkat tinggi. Karena hal itu dapat menyebabkan kita sulit untuk berpikir jernih, perpisahan secara fisik (adanya jarak secara fisik) anda dan pasangan untuk sementara waktu dapat membantu menstabilkan emosi anda. Namun, jangan pernah meninggalkan pasangan anda tanpa sebelumnya memberi penjelasan atau tanpa persetujuan untuk membahas diskusi tersebut setelah anda berdua menjadi tenang kembali.

Berkomunikasi untuk Mengungkapkan Kebutuhan-kebutuhan Tersembunyi

Erin dan saya tidak akan pernah dapat menyelesaikan ketidaksetujuan kami masing-masing tanpa membuat transisi dari konflik yang intens kepada komunikasi yang terarah. Dengan kata lain, kami perlu melalui perdebatan dan keegoisan menuju kepada dialog yang produktif. Cara terbaik untuk melakukan ini ditemukan pada Yakobus 1:19 "... ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah." Mulailah komunikasi anda dengan tujuan untuk saling mendengarkan dan mengerti satu sama lain. Selagi anda berusaha untuk menjelaskan konflik yang sedang terjadi, ulangilah apa yang pasangan anda katakan dengan bahasa atau kata-kata anda sendiri, posisikan diri anda sebagai pasangan anda. Dengarkanlah secara aktif dan mengerti akan apa yang dikatakan pasangan anda. Jika dilakukan secara bergantian, hal ini akan memperlambat proses dan mengijinkan masing-masing merasa didengarkan dan dimengerti.

Setelah percakapan mulai nyaman (bisa saling mendengarkan dan saling mengerti), cobalah untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan yang tersembunyi. Masing-masing dari kami (Erin dan saya) mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang sulit untuk diekspresikan. Saya tidak mau menghabiskan waktu tambahan untuk menjalani kelas yang sulit, sementara Erin ingin agar kami berdua bisa menyelesaikan pendidikan kami tepat waktu. Mengenali kebutuhan-kebutuhan tersembunyi itu sangat penting bagi kita untuk menemukan solusi dari konflik yang terjadi. Pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini akan dapat membantu anda untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan yang tersembunyi, "Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" atau "Apa yang harus berubah atau apa yang harus terjadi untuk memenuhi kebutuhanmu?"

Menciptakan "Win-win" Solution

Sekali emosi anda telah stabil dan komunikasi yang positif telah terbangun, langkah ketiga dalam menyelesaikan konflik adalah dengan menemukan "win-win" solution. Ini bukan sepenuhnya sama dengan kompromi. Terkadang berkompromi menciptakan solusi jangka pendek dimana setiap orang yang terlibat tidak merasa senang dengan hasilnya, selain itu mungkin saja masalah-masalah yang lebih penting malah justru terabaikan. Dalam situasi "win-win", kebutuhan kedua pihak terpenuhi. Dalam konflik kami berdua, "win-win solution" ditemukan ketika kami memutuskan bahwa saya akan bertanya pada 2 orang profesor yang berbeda tentang pendapat mereka jika saya melewatkan kelas itu. Setelah mencari nasehat bijak, kami berdua merasa bahwa keputusan yang tepat adalah saya tetap mengambil kelas itu. Setelah dijalani, ternyata saya mendapat nilai "A", dan sekali lagi, Erin ternyata benar! "Win-win solution" dapat diciptakan dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda. Cara-cara seperti "brainstorming" dan daftar pro-kontra dapat digunakan dan biasanya cukup efektif.

Resolusi

Setelah menemukan "win-win solution", proses resolusi belum selesai sampai anda memastikan bahwa ada pengampunan di antara anda dan pasangan. Langkah ini sangat penting karena luka emosional dapat terjadi saat kemarahan atau kekesalan masih berlanjut setelah konflik berakhir. Meskipun perasaan tersakiti hanya sekali setelah adu argumen selesai, sangatlah penting untuk tidak membiarkan matahari terbenam sebelum amarah anda padam (Efesus 4:26). Karena itu, cobalah untuk mengidentifikasikan kontribusi anda dalam masalah itu dan mintalah pengampunan.

Ketika semua itu tidak berhasil...

Jika anda telah melakukan hal-hal di atas dan tidak berhasil menyelesaikan konflik, atau jika anda telah lelah secara fisik dan emosional, mungkin sudah waktunya untuk mencari pertolongan seperti konselor atau pastor, yang dapat mnjadi penengah dan dapat menolong terjadinya rekonsiliasi. Ingatlah: "Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak." (Amsal 12:15).

Sumber : cbn

Sebuah Pilihan Untuk Menjadi Suami Yang Baik

Pada masa-masa awal pernikahan mereka, seorang pengkhotbah terkenal bernama W.E. Sangster (1900-1960) berkata kepada istrinya, Aku tidak dapat menjadi suami sekaligus menjadi pendeta yang baik. Aku ingin menjadi seorang pendeta yang baik.

Sangster banyak diminta untuk menjadi pengkhotbah dan pengajar. Ia pun sering berpergian meninggalkan keluarganya untuk menjadi pembicara. Ketika berada di rumah, ia jarang mengajak istrinya makan malam atau menikmati hiburan malam. Ia pun tidak membantu pekerjaan di rumah. Putranya memerhatikan kegagalan ini, tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada ayahnya, ia menulis, "Jika suami yang baik adalah pria yang mengasihi istrinya secara mutlak ... dan mengabdikan diri bagi sesuatu yang lebih besar dari mereka berdua, maka kebaikan ayah saya sebagai seorang pendeta sebenarnya tidak lebih baik daripada kebaikannya sebagai seorang suami."

Sangster memang setia terhadap istrinya. Akan tetapi, saya percaya ia bisa menjadi suami sekaligus pendeta yang baik seandainya ia lebih memerhatikan kebutuhan sang istri daripada jadwalnya yang padat.

Banyak orang yang memangku jabatan penting memiliki banyak tuntutan, yang terkadang tidak terhindarkan. Tetapi apabila seorang suami kristiani sungguh-sungguh memerhatikan perintah Paulus untuk mengasihi istrinya sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat, tentunya ia akan menemukan jalan untuk memberikan diri bagi istrinya, bahkan untuk perkara-perkara yang kecil. Begitulah cara Kristus, teladan kita, mengasihi jemaat-Nya.

JAGALAH PERNIKAHAN ANDA


MAKA ANDA MEMELIHARA JIWA ANDA


Sumber : e-renungan, Sabda/VM

Ayah Penentu Kualitas Anak

Ayah merupakan model bagi anak-anaknya. Meniru perilaku baik ayah, itu yang dimaui. Namun, hati-hati si kecil bisa pula meng- copy perilaku sebaliknya.

Tak sedikit ayah menyadari apa yang mereka lakukan tidak ingin ditiru anak. Para ayah juga tidak yakin apa yang seharusnya mereka lakukan. Misalnya saja, sepanjang hari Minggu ayah hanya bermain games di komputer , bermalas-malasan dan tak peduli kran kamar mandi bocor.

Sikap ayah, direkam anak

Ayah tahu ini tidak baik dan, tentu saja, ayah tak ingin anak-anaknya kelak juga berperilaku demikian. Tetapi, apa tidak boleh bermalas-malasan di hari Minggu

Apa pun jenis kelamin anak, ayah merupakan model. Sikap ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain, terekam dengan baik dalam memori anak.

Dibanding anak perempuan, anak laki-laki lebih senang meng- copy perilaku ayah. Ayah yang bermalas-malasan, memberi jejak pada anak laki-laki untuk juga bersikap demikian. Pada anak perempuan, akan muncul pemahaman negatif tentang laki-laki. Dia akan berkesimpulan, memang begitulah sifat laki-laki!

Mulailah jadi ayah oke

Menjadi ayah merupakan proses panjang, yang diawali sejak masa kanak-kanak. Ayah yang santun, yang menghargai istri dan anak-anak, yang peduli urusan rumah, yang sadar perilakunya menjadi teladan bagi anak, tidak terbentuk begitu saja ketika ia sudah jadi ayah. Benih perilaku ini sudah ada dalam dirinya sejak kecil.

Tapi, bukan berarti, tak ada harapan bagi para ayah yang ingin menjadi ayah yang lebih baik. Ada cara yang bisa Anda jalankan. Syaratnya, Anda tulus melakukannya.

* Perlakukan ibunya anak-anak dengan baik.

Menjaga keutuhan perkawinan, mendengarkan pendapat istri dan menanggapi kebutuhannya merupakan manifestasi dari perlakuan baik terhadap ibunya anak-anak. Anak mengamati, dan kemudian membentuk perilaku dan pola pikir tentang menghargai pasangan.

* Peka kondisi rumah.

Perhatikan hal-hal kecil di rumah. Misalnya, jangan cuek bila lampu taman dalam beberapa hari ini kedip-kedip. Tak perlu menunggu sampai istri dan anak-anak mengingatkan, "Yah..., lampu taman perlu diganti, tuh. Udah dua hari kedip-kedip." Eh... sudah diingatkan masih juga Anda cuek . Jelek sekali ayah yang demikian!

* Luangkan waktu bersama anak.

Cara ayah menggunakan waktu luangnya memberi pemahaman pada anak tentang hal penting dalam hidup ayah. Bila ayah menggunakan waktu luangnya bersama anak, si kecil paham ia penting dalam kehidupan ayah. Bila ayah asyik bermain sendiri, anak menafsirkan, ayah mementingkan dirinya sendiri.

* Bicara pada anak.

Biasanya ayah hanya mau bicara pada anak bila anak melakukan kesalahan. Mulailah ngobrol dengan anak sejak masih kecil. Dengarkan ide serta masalahnya.

* Jadilah guru bagi anak.

Ajarkan anak-anak hal baik dan buruk. Dengan demikian, mereka akan membuat keputusan yang baik untuk dirinya.

* Disiplinkan anak dengan cinta.

Anak butuh bimbingan dan teladan, bukan ‘cuma' hukuman. Tunjukkan tentang dampaknya bila anak tidak disiplin, tetapi tidak dengan menghukumnya.

* Sediakan waktu untuk makan bersama.

Makan malam bersama, misalnya, dapat Anda jadikan kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang dilakukan anak sepanjang hari.

* Tunjukkan perasaan pada anak.

Anak-anak butuh rasa aman dengan cara mengetahui bahwa mereka dibutuhkan dan dicintai ayahnya. Mereka juga butuh dipeluk ayah. Tunjukkan perasaan Anda agar anak-anak yakin Anda mencintainya.

Sumber : ayahbunda

Bicara Seks pada Anak

Untuk urusan seks, anak bisa mendapatkan informasi dari mana saja dan kapan saja. Walaupun mereka terlihat tidak peduli, tidak berarti mereka tidak bingung dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Lantas, bagaimana sebaiknya orangtua bersikap? Kuis ini bisa jadi panduan Anda.

1. Anda sedang menonton televisi dengan si kecil yang berusia 6 tahun. Tiba-tiba muncul iklan yang memperlihatkan sepasang pria dan wanita berpakaian sensual di tempat tidur. Hal ini menggugah rasa ingin tahu anak. Yang harus Anda lakukan adalah bertanya kepada anak, bagaimana pendapatnya mengenai adegan yang baru saja Anda berdua lihat.

Memang betul, hal ini memalukan sekaligus memprihatinkan. Namun inilah yang disebut oleh para pendidik seks sebagai "saat yang tepat untuk mengajarkan", yaitu kesempatan untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran anak dan mengarahkannya ke arah yang benar.

Tidak perlu memberikan reaksi yang terlalu cepat atau sama sekali memadamkan reaksi si kecil. Memindahkan saluran? Jangan lupa, anak Anda akan selalu dapat melihat adegan syur di layar televisi pada saat Anda tidak ada. Oleh karena itu, ambil kesempatan ini untuk membahas apa yang Anda berdua lihat.

2. Si kecil yang baru berusia 4 tahun melihat seorang wanita hamil dan bertanya pada Anda, bagaimana wanita tersebut dapat hamil. Yang harus Anda katakan adalah bahwa sperma seorang pria bersatu dengan telur wanita tersebut dan menimbulkan kehidupan (lalu tunggu dan lihat apakah si kecil mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikutnya).

Aturan main dalam mengatasi pertanyaan yang sulit dari anak yang masih kecil adalah dengan memberikan jawaban yang sesederhana mungkin, lalu lihat pertanyaan berikut yang diajukannya. Orang tua cenderung memberi penjelasan yang berlebihan kepada anak-anak dan kenyataannya anak-anak tidak selalu ingin tahu. Bisa jadi, keterangan yang diberikan tidak atau belum mampu untuk dimengerti oleh mereka.

3. Anak Anda yang berusia 15 tahun mendengar masalah perselingkuhan dipergunjingkan. Anak Anda bertanya, "Mengapa orang-orang sangat mempermasalahkannya?" Reaksi Anda seharusnya adalah bertanya kepadanya, mengapa dia menganggap hal tersebut merupakan hal yang sepele, baru kemudian Anda kemukakan pendapat Anda mengenai nilai-nilai perkawinan dan menjelaskan kepadanya mengapa Anda memiliki dia.

Walaupun Anda sangat ingin menjelaskan kepadanya tentang nilai-nilai perkawinan, kesetiaan, pelecehan seksual, dan hubungan yang wajar antara atasan dan pegawainya, adalah lebih penting bagi Anda untuk mengetahui, mengapa menurut pendapatnya hal tersebut merupakan hal sepele. Jangan hentikan diskusi hanya dengan anggapan pemikiran Anda yang benar.

4. Anda melihat anak Anda yang berusia 13 tahun sedang men-download gambar porno dari internet. Yang harus Anda lakukan adalah duduk dan bertanya kepadanya, apa yang dilihatnya dan mengapa dia tertarik dengan gambar-gambar tersebut.

Jangan menghindar untuk membahas apa yang Anda lihat atau mematikan atau memindahkan komputer. Sebaliknya, bicarakan dan hindari sikap menghakimi. Anda perlu tahu mengapa dia tertarik dengan gambar-gambar tersebut. Mungkin sebagai ABG alias anak baru gede, dia baru mulai tertarik pada lawan jenisnya. Tetapi bila gambar-gambar yang dilihatnya merupakan gambar-gambar yang sangat mengganggu moralitas, Anda sangat perlu membahasnya dengan serius atau bila perlu membawanya kepada psikiater atau psikolog.

5. Tiba-tiba saja, entah tahu dari mana, si kecil bertanya apa arti "oral seks". Jawaban Anda seharusnya katakan adalah, "Kata-kata tersebut merupakan istilah kotor untuk tindakan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa." Bila dia terus mencecar, jelaskan padanya bahwa hal itu berarti seseorang yang meletakkan mulutnya pada alat kelamin seseorang.

Sangat sulit untuk menggambarkan tindakan seksual orang dewasa. Namun bila anak Anda "memaksa", Anda perlu mengatakan apa artinya. Karena bila tidak, dia akan mendapatkan informasi yang salah dari orang lain, entah itu teman, pengasuh atau sepupunya. Jelaskan padanya dengan seksama apa yang ingin diketahuinya. Katakan hal yang sebenarnya agar dia percaya pada Anda.

6. Anak laki-laki Anda yang belum memasuki usia remaja mengalami beberapa perubahan fisik. Yang harus Anda lakukan adalah membelikannya buku dan membahas perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan membiarkannya membacanya sendiri.

Anak Anda yang berusia 11 tahun mungkin masih terlalu muda untuk mau membicarakan masalah pribadinya. Bila dia menolak, biarkan. Tetapi bila dia membaca buku tersebut bersama Anda, pastikan Anda dapat menjawab pertanyaan yang diajukannya.

7. Anak gadis Anda yang berusia 15 tahun bertutur, beberapa teman laki-lakinya menyebut sahabat wanitanya perek. Sahabat wanitanya marah dan ia bingung harus bersikap bagaimana. Sikap Anda seharusnya adalah menerangkan kepadanya apa arti seorang sahabat sejati dan memintanya untuk tidak ikut-ikutan menyebarkan gosip tidak baik.

Hal ini selain penting untuk mengetahui lebih rinci mengenai sahabat wanitanya, juga merupakan saat yang tepat untuk membicarakan pentingnya arti persahabatan, kehormatan, kepercayaan dan kesetiaan. Gosip sangat menyakitkan dan merusak reputasi seseorang. Orang tua dapat mengambil kesempatan dalam situasi ini untuk membantu anak-anaknya mengerti mengapa kebiasaan bergosip tidak baik.

8. Anak laki-laki Anda menyebut temannya dengan sebutan banci. Reaksi Anda seharusnya adalah membicarakan mengenai perbedaan, cara menghargai orang lain dan mengapa istilah tersebut tidak baik.

Kata-kata dapat menimbulkan kebencian, bahkan kejahatan. Jelaskan pada anak dan biarkan dia berpikir, apa artinya mempermalukan dan bagaimana rasanya dipermalukan.

9. Sepulangnya dari pesta, Anda melihat ada bekas gigitan/ciuman berwarna merah di leher gadis Anda yang berusia 14 tahun. Yang seharusnya Anda lakukan adalah mengajaknya bicara mengenai keamanan seksual dan mencari tahu apakah dia memerlukan lebih banyak informasi dan tuntunan dari Anda.

Tunjukkan pada anak, Anda tahu apa yang terjadi dan bicarakan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seks seperti perasaan, nilai-nilai, kesehatan dan keamanannya. Bila Anda memberikan respons marah atau tak acuh sama sekali, berarti Anda menutup komunikasi antara Anda dan anak Anda.

Jangan pernah lupa untuk membicarakan hal ini dari sisi pandang Alkitab. Kemudian tutuplah pembicaraan ini dengan doa bersama. Dan teruslah berdoa untuk anak Anda dan mempercayakan anak Anda dalam tangan Tuhan yang kuat. Selalu ada untuk anak Anda adalah salah satu hal yang penting. Karena seringkali kejatuhan anak dalam pornografi karena ketiadaan orang tua di sisi mereka.

Sumber : kompas.com

Kisah Kepiting

Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah tahun 2000, saya berkunjung ke kota Pontianak, teman saya disana mengajak saya memancing Kepiting.

Bagaimana cara memancing Kepiting?

Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, diujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil. Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu akan 'menggigit' tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah.

Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala.

Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting rebus yang sangat lezat.

Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.

Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena marah .

Jadi kalau Anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka Anda mereda dan Anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan Anda.

Nothing Great in the World has ever been accomplished without PASSION

Kerja Dan Spiritualitas

Kisah Para Rasul 9:39
"...sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup"

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 6; Matius 6; Kejadian 11-12

Sadarkah kita jika ternyata ada hubungan antara kualitas kerja dan kehidupan spiritualitas kita?

"Aku melakukan yang terbaik dari yang aku tahu, terbaik dari yang aku bisa, dan aku tetap akan melakukannya sampai akhir. Jika akhirnya ternyata aku benar, apa pun yang dikatakan lawan tentang aku tidak akan berarti apa-apa. Jika akhirnya ternyata aku salah, meskipun sepuluh malaikat bersumpah mengatakan aku benar pun tidak ada artinya," ucap Abraham Lincoln.

Kualitas kerja kita mencerminkan kualitas hidup spiritualitas kita. Artinya, pekerjaan yang kacau tidak mempermuliakan Allah. Kredibilitas kita sebagai orang Kristen ditunjukkan oleh bagaimana kita bertingkah laku dalam pekerjaan dan dalam keseharian kita.

Sebagai orang Kristen, kita tidak dipanggil untuk sekadar menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi memberikan yang terbaik bagi Allah. Itulah yang mendorong kita untuk bekerja giat dan berprestasi. Dengan demikian, ketika kita berprestasi atau sukses, kita tidak menjadi sombong. Kita lebih menghayatinya semata-mata sebagai karunia Allah. Sebaliknya, jika kita tidak menonjol di tempat kerja, kita tetap dapat bersyukur karena telah memberikan yang terbaik.

Marilah kita menunjukkan kualitas kita yang terbaik agar nama Allah semakin dipermuliakan!

Orang yang bermalas-malasan dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara si perusak.