Mesin Pencarian

Sabtu, 03 Januari 2009

Allah Allahku Mengapa Engkau Meninggalkan Aku

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Adam diberi Hawa kemudian lahirlah sebuah keluarga; Yesus melakukan pelayanan bersama 12 muridNya dan anggota keluarga yang mendukungNya (seperti Maria dan Marta)

Tetapi dosa dapat merusak sebuah hubungan karena dosa Kain membunuh Habel. Yesus menanggung dosa manusia, karena itu Bapa meninggalkanNya. Yesus diadili tetapi tidak didapati kesalahan. Perpisahan memang selalu menyedihkan, tetapi kemudian Yesus mempersatukan keluarga yang terpisah.

Bapak Sabar (nama samaran) hidup dalam keadaan prasejahtera, sehingga istrinya juga harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka mempunyai 3 orang anak. Suatu saat ada seorang teman yang mengajak Pak Sabar untuk ikut ke gereja. Setelah mendengarkan khotbah Pak Sabar mulai tertarik untuk mengenal kebenaran. Setelah beberapa bulan berlalu Pak Sabar memutuskan untuk percaya kepada Yesus.

Mulai saat itu Pak Sabar mengajak istrinya untuk selalu mendampinginya beribadah. Tempat ibadah memang jauh, mereka harus pergi ke kota, tetapi itu tidak menyurutkan niat Pak Sabar untuk mencari Tuhan yang menyelamatkan dan menebus dosa-dosanya.

Pada suatu hari anak-anaknya berkata ”Kami tidak setuju jika bapak dan ibu menjual iman supaya dapat menyekolahkan kami!” Mereka juga berkata bahwa mereka tidak akan mengikuti kepercayaan orang tua mereka. Pak Sabar berkata ”Kalian jangan melarang orang tua mengenal kebenaran, nanti suatu saat kalian pasti akan mengerti.”

Pak Sabar mulai diasingkan oleh keluarga besarnya. Tidak ada lagi yang mau berkunjung ke rumahnya, biasanya kalau ada keluarga dari luar kota datang pasti mereka datang untuk berkunjung, namun sekarang tidak ada lagi yang mau menghampiri rumahnya. Ada lagi kejadian berat yang menimpa Pak Sabar. Ketika suatu hari ada seorang teman yang meminta tolong untuk menjaga rumahnya, tanpa berpikir panjang Pak Sabar menolong untuk menjagakan rumah temannya. Setelah selesai Pak Sabar kembali ke tempat kerjanya sebagai buruh, tetapi ternyata dia ditoloak oleh juragannya, karena ada pekerja baru yang sudah menggantikannya. Selama beberapa waktu Pak Sabar tidak ada pekerjaan dan istrinya yang berusaha tetapi akhirnya Tuhan buka jalan Pak Sabar bisa membuka usaha sebagai penjual makanan.

Ternyata usahanya yang baru ini diberkati Tuhan, usahanya maju dan kehidupan ekonomi lebih baik dari pekerjaan sebelumnya.

Lebih indah lagi, suatu hari salah seorang anakny yang pernah tidak setuju dengan keputusan mereka untuk mengikut Yesus bertobat dan mau ikut beribadah dan mengambil keputusan untuk percaya kepada Yesus.

Dosa dan kebenaran adalah seperti gelap dan terang, yang selalu mempunyai perbedaan. Tetapi kasih dalam Yesus dapat mempersatukannya di dalam terang. Pak Sabar kini telah kembali bersatu dengan anak-anaknya dan kondisi ekonominya pun telah dipulihkan.

Apakah saudara merasa sedih karena ditolak oleh keluarga, kerabat dan masyarakat sekelilingmu? Yesus telah menang karena itu jangan terus bersedih hati, nantikan saat-saat indah yang terbaik – saat Tuhan Yesus menjamah hati yang keras, karena Yesus telah mati bagi mereka yang terbelenggu oleh dosa.

Kasih Yesus akan selalu memenuhi hati manusia yang terbuka dan menerimaNya.

Renungan: Kabar Suka Cita Dari Pedalaman

Menjalankan Amanat Agung, pemberitaan kabar keselamatan, tidaklah mudah bagi Erwin Adriani (38 th) dan istrinya Susi (36 th). Hingga kini mereka tetap setia meskipun tempat pelayanan mereka sekitar 34 km jauhnya dari tempat tinggal. Terdapat 8 KK di desa pertama yang mereka layani dan 15 KK di desa kedua, di Kalimantan Barat. Mereka melayaninya dua kali dalam seminggu.

Erwin dan istrinya bergantian melayani dengan menggunakan angkutan umum ataupun ojek sejauh 29 km, sisanya 5 km harus ditempuh berjalan kaki dengan kondisi jalan naik turun melalui perkebunan, selama kurang lebih 4.5 jam. Jika musim hujan tiba maka jalan dilalui berlumpur dan perjalanan akan semakin sulit. Mereka sudah melakukan pelayanan ini 10 tahun lamanya.

Mereka tidak hanya merasakan kelelahan fisik, ejekan dan penghinaan dari warga sekitar kerap diterimaanya, bahkan warga sekitar menuduh kehadiran mereka sebagai ancaman yang bisa menghilangkan adat istiadat suku setempat. Namun mereka menyadari inilah resiko dari memberitakan kabar keselamatan sebagai panggilan Amanat Agung yang harus diterima dengan lapang dada. Kesulitan yang ada bukanlah kendala yang berarti bagi mereka untuk tetap melayani Tuhan, sebab banyak jiwa-jiwa di pedalaman Kalimantan yang belum mendengar kabar keselamatan. Hal itu disebabkan masih melekatnya adat istiadat Suku setempat dengan Okultisme dan kuasa kegelapan.

Sumber:

The Voice Of The Martyrs

Kasih Dalam Perbuatan, PO BOX 1411 Surabaya 60014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar