Mesin Pencarian

Senin, 05 Januari 2009

Sebenarnya Saya Bisa Melihat Wajah Tuhan

Mungkin karena pengaruh suasana natal yang membuat emosi religi saya bangun kembali, getar getar iman secara tidak sadar bangkit menggeliat kembali, menghujani sebingkah hati yang sering labil ini dengan ketenangan abstrak tentang keterbatasan manusia, kebesaran pencipta dan timbulnya kesadaran tentang betapa hampanya bila destinasi kehidupan kita yang singkat ini cuma untuk lahir,dewasa, cari uang, berkeluarga,membesarkan anak ,tua lalu mati.

Persis seperti mendengarkan gema Takbir di malam takbiran di tanah air yang selalu membuat hati saya dilanda haru, mendengarkan christmas song di radio mobil sambil menyaksikan lampu natal telah terang menderang membingkai malam di sepanjang National Boulevar di Springfield sini membuat begitu tergugahnya hati saya, menimbulkan kesadaran baru bahwa pada dasarnya manusia itu adalah mahluk yang penuh cinta dan religious, tapi tuntutan peradaban yang sedemikian ruwet, problema hidup, pergulatan mencari kepuasan hidup ditambah kultur "Science Proud" yang selalu menjauhkan kita dari rasa takjub pada nature, dan akibatnya kita mentuhankan Ilmu dan membunuh sang great creator dari otak kita baik temporary atau selama lamanya pada paham paham arogan macam atheist dan agnostik.

Saya tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada memang.

Tapi tulisan ini cuma menceritakan soal cinta, soal kasih sayang dan ketulusan manusia yang tidak dibuat buat. Tidak di promosikan, tidak dibikin gerakan sosial geger gegeran.

Tidak dengan malam gala menampilkan artis seksi dan mengundang sejumlah ulama dan mentri. Karena cerita ini mungkin berguna bagi anda, Baiklah dengarkan ..

Sekitar 2 bulan yang lalu disuatu subuh seorang pendeta di gereja Baptist di Cherrys Avenue sekitar 2 miles dari apartement saya menemukan seorang bayi kecil di depan pintu gereja. Bayi mungil ini ditinggalkan ibunya dengan selimut tebal dan secarik kertas yang memohon agar pengurus Gereja mengangkat bayi ini sebagai anak karena dia tidak sanggup untuk menghidupi bayinya akibat kesulitan hidup. Polisi yang di kontak oleh mereka dengan gampangnya menemukan si Ibu yang melakukan tindakan malanggar hukum itu.

Polisi dan pihak gereja akhirnya memang menemui bahwa si Ibu dari sang bayi cuma seorang single mother yang miskin dan tidak memiliki siapa siapa dan apa apa. Dengan arifnya mereka membiarkan pelanggaran ini berlalu karena memaklumi bahwa perbuatan ini adalah sekedar jalan terakhir dari orang yang berdaya.Tidak ada tuntutan dan penahanan. Tidak ada pasal pasal yang dibacakan didepan sidang.

Berita tentang bayi di tangga gereja ini akhirnya terdengar banyak orang. Saya dengar dalam seminggu ada 200 telepon dari masyarakat ke Gereja meminta agar mereka bisa mengadopsi sang bayi dan mengangkatnya sebagai bagian dari keluarga.

Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan dari kisah hidup sang bayi, Cuma dari cerita ini saya tahu bahwa cintalah yang menggerakan manusia untuk berbuat baik terhadap sesama. Bukan science,bukan law and order beserta tetek bengeknya bukan juga dogma murahan.

Oke cerita kedua...

Tawyn dan Vichele adalah karyawan JC Penney yang menjaga stand Kosmetik di Battlefield Mall. Disuatu hari di musim winter yang ganas mereka pergi lunch break di Burger King. Dalam perbincangan hangat sambil memakan burger yang hangat, masuk 3 orang anak kecil dengan pakaian lusuh,memesan satu burger termurah dan membaginya bersama dalam keadaan masih menggigil kedinginan karena berjalan beberapa blok.

Vichele bertanya siapa mereka?

Mengapa begitu nampak letih dan susah?

Tawyn menjawab " Oh saya kenal keluarga mereka, Ibu mereka adalah seorang janda miskin yang tidak lagi bekerja dan sakit sakitan. Anak anak itu memang sekarang sangat terlantar bahkan jarang makan yang layak "

Vichele tergugah, begitu kembali ke tempat kerjanya dia menulis sebuah note ditempelkan ke dinding pengumuman buat karyawan. "Sebaiknya bila kita ingin menyumbangkan sesuatu pada Christmas ini, sumbanglah terhadap keluarga yang tidak mampu dan susah." lalu dibawahnya dia menulis singkat tentang si Ibu Miskin dengan tiga anak anaknya itu.

Dalam 3 hari semua karyawan yang membaca tulisan Vichele bahu membahu mengumpulkan gift, seperti makanan dari roti,daging,susu ,pakaian anak anak, boneka, cake, selimut tebal, sabun cuci bahkan uang yang dikumpulkan dalam sebuah kardus besar.

2 Hari kemudian Tawyn yang didaulat untuk menyerahkan hadiah mengetuk apartement keluarga yang malang itu. Konon sang Ibu terkejut dan menangis ketika menerima tebaran kasih sayang itu.

Mungkin dia tidak menyangka dalam jaman induvidualistik ini, tangan Tuhan masih bekerja menyentuh jiwa jiwa manusia dengan cinta.

Norman, cuma itu yang saya ingat dari cerita di koran LA times.

Dia adalah seorang negro yang sudah tahunan bekerja di sebuah public elementry school sebagai seorang cleaner. Norman terkenal adalah pekerja yang giat dan sangat akrab dengan para murid.

Tapi walaupun giat ada yang aneh dari Norman. Dimusim panas Norman selalu datang tepat waktu, sedang di musim dingin dia sering datang terlambat. Tidak ada yang mengetahui bahwa Norman yang selama ini selalu pulang belakangan sebenarnya setiap hari berjalan kaki pulang pergi 24 miles dari apartement ke tempat kerjanya ini.

Karena kepergok sedang berjalan di tepian Highwaylah akhirnya pengurus sekolah mengetahu bahwa Norman terlalu miskin untuk bisa membeli mobil yang layak di kemudi. Dan karena trayek bus juga tidak melayani rute ketempat kerja, tidak heran pilihan bagi Norman cuma berjalan sejauh hampir 40 kilo pulang pergi bertahun tahun.

Itulah sebabnya di musim dingin dia sering terlambat. Berjalan dibawah terpaan angin winter memang bukan perkara mudah, apalagi jarak sejauh itu. Para Guru dilanda cinta, akhirnya sepakat patungan membelikan Norman mobil Ford tahun 95 sebagai hadiah kejutan bagi Norman.

Pria Negro itu juga konon kabarnya matanya penuh air mata ketika mengetahui status nya sebagai pekerja rendahan dihargai dengan kehangatan cinta, dan tentu saja juga dengan kehangatan heater mobil yang sejak itu selalu dikendarai dengan bangganya menuju sekolahan dipagi musim dingin yang pekat sebelum murid murid berdatangan dan menganggu dia dengan kenakalan penuh sayang sambil tidak lupa memanggilnya " Uncle Norman ".

Saya tidak bisa membuktikan adanya Tuhan memang.

Tapi dari ciri ciri yang menggerakan para manusia yang menaburkan kasih sayang disana sini. Ketulusan yang iklas,Cinta terhadap yang lemah pembelaan pada manusia yang tertindas. Saya mencurigai bahwa jari jari Tuhan memang bekerja dengan penuh misteri.

Pada manusia yang mengedepankan hati nurani, sebenarnya saya bisa melihat wajah Tuhan...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar