Mesin Pencarian

Senin, 05 Januari 2009

Kegiatan Dan Pengertian Yang Benar

Pdt. Dr. Stephen Tong

Renungan ini ditranskrip dan diedit kembali dari khotbah seri Surat Roma oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di Gereja Reformed Injili Indonesia di Jakarta.

Roma 10:1-6 (TB-LAI)

(1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. (4) Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. (5) Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hokum Taurat: "Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya." (6) Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: "Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?", yaitu: untuk membawa Yesus turun.

Mengapa orang kafir yang tidak mencari justru diberikan, tetapi orang Israel yang mencari tidak memperoleh. Bukankah hal ini berlainan dengan yang dikatakan oleh Kristus, barangsiapa yang minta akan diberikan; yang mencari akan mendapat; yang mengetuk pintu akan dibukakan baginya (Mat. 7:7). Bukankah yang mencari, meminta dan mengetuk pintu adalah orang Yahudi? Alkitab mengatakan, mereka mencari, tetapi tidak mendapatkan, suatu paradoks yang sulit kita mengerti (Rm. 9:30-32). Tetapi yang penting bagi orang yang mencari adalah cara dan pengertian yang sejati, yang ditetapkan dalam prinsip firman dan jalan yang Tuhan nyatakan, bukan pada berapa menggebu-gebu, berapa hangat, berapa sungguh-sungguh api yang ada padanya untuk mencari. Demikian juga banyak orang yang sudah beragama, yang baru meraba-raba, baru mengena pada bagian kulitnya saja, tetapi mereka merasa sudah cukup, sudah menemukan. Akhirnya, mereka terus bertumbuh atas fondasi yang tidak beres. Ini merupakan suatu peringatan yang penting bagi kita.

Orang Israel meskipun memiliki Taurat tetapi tetap tidak mendapat. Sebab Taurat yang diberikan Allah kemudian diteliti dan dikupas oleh orang Yahudi melalui para rabbi telah menjadi perintah yang makin lama makin membebani orang beragama, dan akhirnya Taurat itu diuraikan menjadi 613 dalil-dalil yang harus dipatuhi (248 perintah, 365 larangan). Kalau tidak bisa menjalankan semua itu, maka tidak ada keselamatan; kalau tidak melunasi semua tuntutan Taurat, mereka tidak akan berkenan kepada Tuhan. Tetapi pada waktu orang bertanya kepada Yesus Kristus, oh, Tuhan Yesus perintah manakah yang paling utama? Pertanyaan ini untuk mencobai Tuhan Yesus sekaligus mereka sadar untuk mengikuti semuanya itu begitu sulit, untuk menjalankan Taurat dan perintah-perintah yang begitu rumit, kompleks dan begitu banyak serta tidak mudah. Yesus Kristus mengatakan, perintah yang terbesar adalah kasihilah Allah dengan sekuat tenaga, sebulat hati, seluruh pikiranmu dan budimu, dan yang kedua, yang sepadan dengan itu adalah kasihilah sesamamu manusia (Mat. 22:37-42). Inilah kali pertama, wahyu ditujukan pada satu fokus, untuk membereskan segala ketidakberesan dalam system Yahudi yang bergantung pada Tauratisme. Pada waktu orang Yahudi dan rabi-rabi mereka telah memaparkan segala kerumitan dan kesulitan, mereka telah kehilangan fondasi dan prinsip yang terpenting. Betapa banyaknya peraturan-peraturan yang membuat manusia benci. Peraturan-peraturan itu bahkan mungkin menggoda manusia untuk melawannya. Semakin banyak peraturan, semakin membuat manusia berani melawan. Yesus Kristus menyimpulkan peraturan, perintah hanya dua, yaitu: kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia. Ini melampaui semua peraturan. Ini merupakan prinsip yang mendasari semua prinsip, merupakan hukum di atas segala hukum, dan merupakan hukum yang menjadi dasar bagi semua hukum.

Orang berdosa cenderung melawan hukum. Lao Tze, pada 2.600 tahun yang lalu, seorang yang lebih dahulu dari Kong Hu Cu sudah pernah mengatakan bahwa, semakin ketat suatu hukum, semakin berani manusia melawannya. Semakin banyak peraturan, semakin banyak menyatakan kesalahan. Jangan mengira, kalau kita memerintah bawahan kita dengan banyak peraturan, maka mereka akan merasa takut dan menjadi yang paling baik. Tetapi justru paksaan untuk mematuhi perintah dan peraturan yang ketat membuat orang merasa hidup tidak berarti, dan akhirnya mereka menjadi orang yang berani melawan dan mencari alasan untuk melawan peraturan. Ketika hukum negara ditetapkan, apakah itu berarti manusia yang sudah mengerti hukum tidak akan melawan hukum? Tidak, justru terbalik, orang yang berani melawan hukum adalah orang yang paling tahu seluk beluk hukum. Orang yang paling mengerti hukum akan mencari jalan untuk melawan hukum lalu membela diri supaya setelah mereka berdosa, mereka tidak perlu dihukum. Itulah yang disebut ahli hukum. Ahli hukum adalah ahli-ahli yang mengetahui seluk-beluk hukum lalu berbuat dosa dan melanggar hukum, kemudian mencari alasan untuk menutupi segala kesalahan, sehingga setelah mereka berbuat dosa, mereka tidak perlu dihukum. Tempat yang paling tidak adil, adalah tempat yang memasang palang pengadilan. Tempat yang paling tidak adil adalah tempat di mana para ahli menegakkan keadilan, tetapi mereka sendiri tidak menjalankan keadilan tersebut. Orang cenderung sombong dengan hukum. Orang Israel menuntut dan mencari, tetapi mereka tidak mendapatkan. Bukankah ini merupakan satu ironis, satu singgungan, satu pukulan yang berat bagi seluruh bangsa dan satu hal yang mempermalukan kebudayaan mereka yang sudah ribuan tahun itu?

Tafsiran yang kurang jelas dan penyelewengan yang terus menerus sampai zaman Rabbi Hilel, bahkan sampai zaman Yesus, menyebabkan orang Israel tidak memperoleh keselamatan yang dijanjikan oleh Tuhan. Mereka hanya memperoleh suatu kemungkinan untuk mengetahui berapa banyak Taurat, hukum, peraturan, yang membuat mereka bisa membanggakan diri: "kami adalah bangsa yang berhukum Taurat, kamu bangsa yang tidak mengerti apa-apa. Kamu bangsa yang masih barbar, kamu seperti anjing adanya." Orang Israel menjadi sombong, congkak, egosentris, mereka menjadi penghina segala bangsa dalam dunia internasional. Kalau demikian, apakah Tuhan akan berkata, inilah bangsa yang paling mengerti Taurat-Ku, bangsa yang paling sempurna? Tidak, Tuhan berkata, mereka mencari, tetapi mereka tidak memperoleh. Mengapa demikian? Karena ada satu kunci yang tidak mereka ketahui, yaitu batu yang menjadi sandungan itu telah Tuhan letakkan di Sion. Batu ini akan menjadi batu karang bagi bangunan yang berada di atasnya, tetapi batu ini juga akan menjadi batu yang menyandung semua orang yang tidak berjalan menurut perintah dan prinsip Allah.

Kasih menjadi dasar pembuatan hukum. Jika kita membuat peraturan-peraturan apapun hanya bermotivasikan untuk mengikat, membatasi orang lain, untuk menyatakan diri kita mempunyai hak yang istimewa dan otoritas yang tinggi, maka motivasi itu adalah motivasi yang sangat berlawanan dengan kehendak Tuhan Allah. Kita membuat peraturan seharusnya kembali pada satu hal yang mendasar: saya membuat peraturan ini demi cinta kepada mereka yang diatur. Jikalau seseorang tidak mempunyai cinta kasih kepada yang dipimpinnya, maka tidak berhak menjadi pemimpinnya. Ini prinsip Alkitab. Allah memerintah dunia, karena Dia mengasihi dunia. Allah kasih, maka Dia memerintah. Kita yang menjadi boss, kepala sekolah, ketua, atau pimpinan, jika kita tidak mencintai mereka yang kita pimpin, bagaimana kita bisa memimpin? Kita perlu kembali kepada ajaran Alkitab, yang mengatakan karena Allah itu kasih adanya, maka Dia memberikan peraturan. Peraturan-peraturan berdasarkan atas kasih, peraturan menjalankan kasih, esensi yang terpenting di dalam peraturan adalah kasih. Kesimpulan dari segala Taurat adalah cinta kasih. Bukan saja motivasinya demikian, tujuannya juga melalui cinta kasih melindungi, membimbing, membangun, dan menguatkan orang yang dipimpin. Itu seharusnya membawa manusia kepada hidup yang kekal.

Musa mengatakan satu kalimat yang penting sekali di dalam Kitab Imamat, jika kau menjalankan ini, engkau mendapatkan hidup. Justru kalimat itulah yang membuat kesalahpahaman orang Yahudi. Mereka mengira, kalau mereka akan memperoleh hidup yang kekal. Sebenarnya bukanlah demikian. Sebab Allah memberikan Taurat bukan supaya orang dapat melunaskan semuanya, juga bukan supaya orang melanggarnya. Watchman Nee dalam bukunya "Dua Belas Bakul" memberikan satu konsep yang salah. Watchman Nee berkata, Allah menciptakan manusia justru supaya manusia melanggar, supaya manusia berdosa. Seolah-olah motivasi Allah adalah menginginkan manusia berdosa. Ini adalah satu hal yang terlalu berani memakai istilah atau terlalu berani mengutarakan konsep yang tidak beres.

Sebenarnya Allah tidak memberikan Taurat supaya manusia berbuat dosa, juga tidak memberikan Taurat supaya manusia bisa menjalankan semuanya dan menjadi sempurna. Allah memberikan Taurat, memang seperti yang dituliskan dalam Imamat 18:5, kau menjalankan ini, supaya memperoleh hidup. Tetapi ketika manusia mau betul-betul, sungguh-sungguh menjalankan, barulah dia insyaf, bahwa hal ini tidak mungkin dilakukan. Coba jalankan! Pada waktu kau menjalankan barulah kau tahu tidak mungkin. Kalau tidak mungkin, tetapi tetap disuruh menjalankan, lalu bagaimana? Akhirnya berkata, Tuhan, memang seharusnya aku menjalankan, tetapi tidak mungkin. Cara yang terakhir adalah kembali kepada Tuhan: Tuhan, mengapa Kau menyuruh aku menjalan sesuatu yang tidak mungkin dapat aku jalankan? Tuhan, mengapa Kau menyuruh aku menjalankan sesuatu yang tidak mungkin dapat aku jalankan? Tuhan, mengapa Kau menyuruh aku mematahui sesuatu yang tidak mungkin aku patuhi? Tuhan, kalau memang hal itu tidak mungkin aku jalankan, Kau tetap menyuruh aku menjalankannya? Kadang-kadang kita mengemban tugas yang jauh dari kemampuan kita untuk menjalankan, kadang-kadang kita mengemban satu mandat yang tidak mungkin dapat kita laksanakan, pada saat itu, barulah kita tahu, bahwa sasaran terakhir dan tujuan yang mungkin dicapai adalah merendahkan diri dan kembali kepada Dia yang memberikan mandat. Inilah Taurat.

Segala perintah yang dari Tuhan di dalam Perjanjian Lama adalah memberikan pengajaran terakhir, supaya orang yang mau menjalankan, mau melaksanakan. Waktu dia menjalankan di sini tertutup, di sana tertutup, barulah kemudian mengetahui, itu tidak mungkin; itu impossible. Jadi Taurat diberikan bukan supaya manusia melanggar, juga bukan supaya mereka bisa menggenapinya. Taurat diberikan supaya manusia mengetahui betapa terbatas dirinya, betapa lemah dirinya, betapa tidak mampu dirinya, betapa dia berada di dalam limitasi. Pada saat manusia masih belum pernah mengenal limitasi, dia selalu mempermainkan diri dan berperan seperti Allah. Pada saat manusia mulai sadar bahwa dirinya adalah manusia yang terbatas, dia tidak bisa, maka untuk pertama kalinya dia sadar bahwa dirinya hanyalah manusia yang dicipta menurut peta dan teladan Allah. Dalam hal ini, diperlukan satu keseimbangan antara kedua hal yang kutub: yang pertama, berjuang, yang kedua, mengenali diri. Manusia yang tidak mempunyai kekuatan untuk berjuang tidak mirip manusia, tetapi mirip binatang. Karena binatang tidak mau berjuang. Sedangkan manusia yang berjuang dan tidak mengenal limitasi, sampai dia mengira dirinya adalah Tuhan Allah, adalah bahaya. Betapa banyak pemuda yang tadinya lancar, akhirnya jatuh total, seumur hidup tidak bisa naik lagi, karena dia hanya berjuang, hanya mempunyai imajinasi dan kekuatan yang luar biasa, tanpa mengenal dirinya hanyalah manusia. Sambil kita berjuang, sambil menahan diri, sambil mengetahui saya mempunyai keterbatasan, batasan di mana saya tidak bias melampaui; hanya Allah yang tidak terbatas. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa Taurat diberikan berdasarkan kasih. Tujuan Taurat adalah supaya manusia mengenal akan limitasi. Kalau kedua hal ini sudah jelas, akhirnya kau akan kembali kepada Tuhan dan berkata, Tuhan, maafkan aku tidak bisa menjalankan. Waktu aku mau menjalankan, baru aku tahu, bahwa itu tidak mungkin saya jalankan. Waktu aku mau mengerjakan, baru aku tahu lebih dari kemampuanku untuk mengerjakan, waktu aku mau taat, baru aku tahu, aku tidak mempunyai kekuatan untuk taat. Oh, Tuhan, aku kembali kepada-Mu dan mengakui, bahwa diriku hanyalah manusia yang terbatas. Disitulah kau mulai menemukan prinsip.

Setelah beribu-ribu tahun orang Yahudi mempunyai Taurat, mereka tidak menyadari akan hal seperti ini, mereka tidak menyadari apakah motivasi Tuhan memberikan Taurat, juga tidak menyadari bahwa motivasi itu menuju pada satu tujuan sebenarnya yang bagaimana, mereka tidak mengetahui maksud Tuhan. Maksud sedalam-dalamnya dari isi hati Tuhan yang selalu disalah mengerti oleh manusia mengakibatkan kebudayaan menuju pada kebuntuan. Kalimat-kalimat terakhir dari kesaksian Pdt. Jonathan Chao berbunyi, apa yang kurang di dalam kebudayaan? Apa yang kurang di dalam zaman modern, apa yang kurang dalam humanisme yang paling modern di abad ke-XX ini? Itulah pointnya.

Pada waktu manusia sampai satu titik dan mengenal diri hanyalah manusia yang terbatas, maka dia akan menuju ke mana? Tetap memperilah diri atau kembali kepada Allah yang sejati? Waktu kau kembali kepada Allah yang sejati, di situlah kau menemukan hidup baru, arah baru, pengharapan baru, dan hari depan yang baru. Boleh saya katakan, bahwa kita sudah berada pada 5 tahun terakhir dari abad XX, sekarang manusia belum mau kembali pada Tuhan, manusia masih percaya bahwa aku mempunyai kekuatan, kalau tidak bisa jadi di bidang ini ya bidang lain. Dan 20 tahun terakhir dari abad XX ini, ekonomi seluruh dunia adalah permainan uang yang tidak berdasar. Banyak orang yang mempunyai uang, uang itu adalah hasil dia mempermainkan manusia, banyak orang mempunyai uang, uang itu bukan hasil menggali kembali sumber alam; kekayaan yang Tuhan berikan kepada dunia, melainkan permainan uang, orang, mempermainkan dan mempermainkan, ini akan collapse. Ekonomi abad XX sudah berada di luar dasar ekonomi yang kuat. Karena apa? Karena ekonomi yang sesungguhnya kuat itu mempunyai dua prinsip yang penting, pertama, produksi yang didasarkan atas suatu kesolidan dan kekuatan yang sungguh-sungguh berbobot, yang didasarkan atas sumber alam. Kedua, memberikan distribusi yang rata dan dikelola dengan baik untuk menfaedahkan manusia. Sekarang kedua prinsip ini sudah hilang. Kita melihat keadaan ekonomi sekarang ini, negara yang disebut ekonominya paling kuat adalah Jepang, sebenarnya merupakan ekonomi yang betul-betul sudah meledak, sudah tidak ada dasarnya lagi. Yen terus naik, kau kira Jepang kaya? Berpuluh-puluh tahun lagi, orang Jepang harus bekerja 200 tahun tidak bisa membeli sebuah rumah yang cukup enak. Itu bukan ekonomi. Itu akan merusak seluruh bangsa, orang Jepang yang sudah lulus universitas nantinya harus bekerja 100, 200 tahun, uang yang mereka miliki bahkan tidak cukup untuk membeli sebuah WC bagi dirinya sendiri.

Ekonomi yang seperti ini adalah ekonomi yang tidak berdasar. Jangan menghina negara Indonesia, negara kita, secara sistem ekonomi modern sepertinya mau hancur, dan sekarang berada dalam keadaan yang berbahaya sekali. Tetapi negara kita masih mempunyai sumber alam yang menjadi dasar ekonomi yang Tuhan berikan. Pada suatu hari nanti, pada waktu kesulitan tiba, orang Indonesia masih bisa hidup, mereka tidak akan mati. Karena masih banyak pisang, apel, buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, tanah. Ini merupakan pikiran yang berbeda dengan mereka yang tergila-gila dengan ekonomi modern. Maafkan saya, karena saya memberikan sesuatu yang berlainan. Sebab saya tidak bisa menjadi orang yang menurut zaman, dunia, sistem dan semua pengetahuan. Saya adalah hamba Tuhan yang harus membangun zaman di mana saya berada. Kita harus minta Tuhan memberikan pengertian kepada kita, dan semakin menyadari keterbatasan diri, semakin kita merasa dan menginsyafi bahwa saya memerlukan Tuhan. Mengapa orang Israel mempunyai Taurat, tetapi gagal? Bukankah Taurat itu menjadikan mereka bangsa yang paling bersifat agama, bangsa yang menerima wahyu khusus dari Tuhan, bangsa yang paling hebat dalam mengerti akan isi hati Tuhan, justru bangsa itu menjadi bangsa yang paling tidak mengerti isi hati Tuhan. Dari mana kita tahu hal itu? Pada waktu Yesus diberikan kepada mereka, bukan orang kafir yang membenci Dia, tetapi merekalah yang memakukan Dia di atas kayu salib. Sebab itu, Alkitab mengatakan, mereka mencari tetapi tidak mendapatkan, mereka menuntut tapi akhirnya gagal, kosong. Orang yang betul-betul paling kaya adalah orang yang mungkin kantongnya betul-betul tidak mempunyai banyak uang, tetapi hidupnya mempunyai kemerdekaan, dia mengerti kebenaran, dan mempunyai kekuatan untuk menghadapi situasi yang sulit. Tetapi orang-orang yang betul-betul miskin mungkin adalah mereka yang mempunyai banyak uang, tetapi tidak pernah merasa puas dan terus menerus menggunakan cara yang tidak habis-habisnya untuk mengisi kekosongan diri, karena dia terlalu miskin. Paradoks. Tuhan berkata, mereka menuntut tetapi tidak mendapatkan, tetapi orang kafir yang tidak menuntut malah mendapatkan. Ini dikarenakan orang Israel menuntut tetapi tidak melalui prinsip. Sekali lagi saya terpaksa harus mengulangi prinsip itu, orang benar akan hidup melalui iman. A righteousness will live by faith; dengan apakah kita mendapatkan hidup? Dengan menjalankan segala Taurat? Tidak, melainkan beriman kepada Tuhan. Iman merupakan satu jendela, yang membukan keterbatasan kita kepada ketidakterbatasan Tuhan Allah. Iman merupakan satu jendela yang menyambut cahaya dari atas ke dalam kegelapan kamar kita. Iman merupakan satu pandangan, yang boleh menembus pada pandangan yang paling jauh melalui teleskop rohani. Iman adalah menyadari bahwa keterbatasan itu perlu, untuk dikoreksi dan diisi oleh yang tidak terbatas itu. Iman membuka, mengaitkan, dan mengkoneksikan kita dengan Allah yang terbatas dengan jendela dan cahaya dari sana, dengan pengertian.

Pada waktu orang Yahudi membuat Taurat menjadi suatu close-system, pada waktu mereka terus berada di dalam Taurat dan menganggapnya sebagai self-sufficient; kecukupan diri di dalam system Taurat. Sebenarnya mereka terus berkeliling di padang belantara, tidak pernah tembus, tidak pernah mencapai tempat yang dijanjikan Allah. Demikian juga orang Kristen, kalau kau tidak menemukan prinsip Alkitab, kau akan terus berkeliling di dalam kerutinanmu. Tahun 1974, saya berkhotbah di sebuah gereja di Singapura. Ketika saya berkhotbah sampai separuh, saya melihat seorang yang tidak mendengar seluruh khotbah, hanya terus menghitung berapa banyak jumlah orang yang hadir. Kalau saya sedang berkhotbah di sana, tetapi majelisnya tidak mau mendengar khotbah, bagaimana? Saya berkata kepada dia, "Silakan duduk dan jangan menghitung-hitung orang lagi, ini adalah kebaktian, saudara perlu firman Tuhan, sebab itu, setiap kalimat harus didengar dengan baik, kalau tidak, kau tidak akan pernah maju." Ketika saya mengatakan kalimat ini, dia jengkel luar biasa. Tetapi orang lain senang sekali. Karena menurut mereka, orang tersebut memang sudah 30 tahun hanya begitu-begitu saja. Jadi, dia menganggap diri paling baik, melayani gereja, setia menghitung jumlah orang yang hadir, tetapi sebenarnya, mati dalam kerutinan dan tidak maju-maju, mati oleh close-system yang dibuat sendiri.

Banyak orang Kristen merasa bangga, saya paling rajin ke gereja, setiap minggu saya hadir dan selalu duduk di baris ke 4, kursi ke 5. Kalau diabsen, saya pasti yang paling setia. Tetapi dia duduk disana, hanya mengantuk, tertidur atau melihat kanan kiri. Lalu datang kebaktian bukan untuk mencari Tuhan, melainkan mencari pedagang besar, untuk coba lihat kalau-kalau ada bisnis yang bisa dia peroleh. Di dalam gereja sering ada orang-orang yang datang kebaktian hanya mau mencari pedagang besar, tetapi tidak mau datang kebaktian doa, juga tidak ada kemajuan dalam bidang lain. Tetapi harus diingat bahwa Allah akan menyeleksi mereka yang tidak beres. Biarlah kita datang kepada Tuhan dan mau maju. Jangan membiasakan diri di dalam kerutinan-kerutinan, dan berkata saya beribadah kepada Tuhan, saya cinta Tuhan, tetapi sebenarnya tidak maju. Orang Israel berjalan di padang belantara selama 40 tahun dan mengalami banyak kesusahan, tetapi apakah Allah berkata, kamu memang setia? Tidak. Allah mengatakan, nenek moyangmu mencobai Aku di padang belantara selama 40 tahun. Itu adalah kalimat kesimpulan.

Mereka menjalankan Taurat, menjalankan ibadah, mereka berpuasa, seperti orang Farisi yang berkata, ya Allah, aku tidak lebih jelek, bahkan lebih baik dari semua, khususnya pemungut cukai ini. Setiap minggu aku berpuasa dua kali, aku memberikan perpuluhan, aku tidak berzinah, aku tidak menipu uang orang, ya Allah! Yesus berkata, dia berkata-kata kepada dirinya sendiri. Allah tidak mendengar doanya. Orang Israel itu mencari dan mempunyai Taurat, mempunyai hidup yang beribadah, tetapi ibadah yang mengikat mereka di dalam kerutinan yang mematikan, tidak memberikan jalan untuk beriman kepada Tuhan. Padahal orang benar hanya hidup oleh iman, bukan oleh jasa atau kehebatan diri.

Perhatikan Roma 10:1, Paulus berkata, "keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan." Mereka adalah orang Yahudi yang sekarang mati di dalam kerutinan agama mereka, tetapi saya masih mendoakan, agar mereka boleh mendapatkan hidup dan keselamatan. Roma 10:2 itu penting sekali dan menyatakan bahwa orang Israel itu giat, menggebu-gebu, berapi-api, sungguh-sungguh panas, mereka rajin, mereka menuntut. Tetapi celaka, kalimat kedua berkata, mereka tidak menurut pengertian yang sejati. Apa artinya beragama dengan berapi-api, tetapi tidak memiliki teologi yang benar? Beragama dengan sungguh-sungguh giat, tetapi tidak ada pengertian dan hermeneutika yang benar. Mereka tidak mempunyai pengertian Kitab yang betul-betul, hanya menggebu-gebu saja.

Bukankah di dalam zaman ini kita melihat banyak orang Kristen yang seperti ini? Mengikuti semua persekutuan, kalau berdoa sampai kursinya pecah, karena dipukul olehnya. Saya pernah melihat orang yang berdoa dengan memukul-mukul kursi rotannya sampai rusak semuanya. Sesudah dia selesai berdoa, saya bertanya, apa salah kursimu? Orang yang berdoa mati-matian, menggebu-gebu, berapi-api, tetapi kalau mendengarkan doanya, tidak terdapat pengertian yang benar. Inilah yang dimaksudkan disini. They are zealus, but their zeal is not based on true knowledge; mereka begitu berapi-api, begitu menggebu-gebu, bahkan begitu giat dan begitu ekstrim, tetapi tidak mempunyai pengertian yang sesungguhnya. Namun saya harus membalikkan lagi, banyak orang mempunyai pengertian yang benar, tapi berada dalam lemari es. Dua macam kecelakaan kekristenan. Ada orang Kristen yang memiliki teologi yang benar, memiliki doktrin Reformed, tetapi kalau dijamah, 40 derajat di bawah nol. Ada orang Kristen yang pintar, yang teologinya bagus, hebat dalam pengetahuan Alkitab, tetapi nol, dingin seperti es. Manusia es yang berjalan-jalan. Kalau ke gereja, matanya melihat sini sana, ditanya apa saja, jawabannya benar, tetapi tidak hangat, tidak ada persahabatan, tidak ada kasih, tidak ada api yang sungguh-sungguh, tidak ada cahaya yang sungguh-sungguh. Sebaliknya, ada orang yang apinya sungguh-sungguh tetapi pengertiannya salah, teologinya tidak benar, pengertian Alkitab diselewengkan.

Kedua macam orang itu tidak beres adanya, tidak memuaskan hati Tuhan. Itulah sebabnya kita menegakkan satu semangat, dimana teologi ditegakkan dan api Roh Kudus tetap berada di dalamnya. Apa yang ingin saya kerjakan, dan apa yang menjadi tujuan saya sedalam-dalamnya serta motivasi saya mungkin belum dimengerti zaman ini. Mungkin setelah saya meninggal dunia, dibawa pulang oleh Tuhan, orang baru melihat ini penting, inilah yang seharusnya ada dalam kekristenan. Pemahaman Alkitab yang benar dan teologi yang orthodoks dan penjelasan yang setia yang ditaruh dalam semangat pelayanan yang berapi-api. Ketika saya berceramah di Regent College, Vancouver, saya mengeritik teolog-teolog besar yang mengajar di situ, you, western theologians always put theology in the refrigerator, now put it out, and warm it up; kamu teolog-teolog Barat, selalu menyimpan teologi dalam lemari es, sekarang saya harap keluarkan itu, lalu buatlah menjadi hangat. Setelah selesai ceramah dan ketika kami makan, seorang profesor dari Oxford University berkata, Stephen, you are very right, you truly told us something very important, we always put our theology in refrigerator. Mengapa gereja-gereja yang ajarannya kurang beres begitu berkembang dan begitu banyak orang yang hadir? Karena bukan hanya memerlukan doktrin yang benar, tetapi juga memerlukan kehangatan. Mengapa gereja-gereja tua, yang mempunyai teologi dan sejarah yang begitu kuat, justru makin lama makin kosong?

Karena gereja yang begitu tua, yang begitu megah, yang mempunyai tradisi yang begitu panjang itu tidak ada api, tidak ada kesungguhan, tidak ada friendship, tidak ada keramahan, tidak ada cinta kasih, tidak ada persaudaraan, tetapi yang ada hanyalah kebanggaan, ini adalah gereja besar, kami sudah berdiri sekian ratusan tahun. Tetapi gereja-gereja itu sudah mau mati karena tidak pernah membangun ibadah, tidak pernah membangun semangat penginjilan. Kita sudah melihat dua macam gereja: yang dingin tetapi rapi, yang panas tetapi gila. Kau berkata, saya tidak mau yang dingin, yang puluhan derajat Celcius dibawah nol, saya mau yang panas, waktu memegang yang panas, wah sungguh-sungguh panas, panas apa? Malaria. Jangan menjadi gereja yang membeku atau yang malaria. Kalau kau mengatakan panas, panas, semakin panas semakin baik, akan celaka, tempat yang paling panas di mana? Di krematorium. Panas untuk mematikan dengan cepat, panas yang tidak sehat. Yang dingin tidak benar, yang panas juga tidak benar. Tuhan menetapkan panas yang diizinkan adalah 36.6-37 derajat Celcius untuk tubuh manusia. Kalau lebih dari itu, sudah perlu mencari dokter. Kalau sudah lebih dari 37 derajat masih berkata, puji Tuhan. Jika suhu tubuh sudah 38 derajat, awas! Kalau sudah 39, 40, 41, 42, bukan oke tetapi bahaya karena sudah melewati batas. Tuhan mempunyai satu prinsip, satu standar yang tidak boleh dilawan, karena Tuhan itu Tuhan. Seorang professor di Westminster Theological Seminary berkata kepada muridnya, begitu banyak orang yang begitu giat, berapi-api dan begitu panas tetapi bukan Reformed, begitu banyak orang yang Reformed tetapi tidak berapi-api. Orang Reformed tidak berapi, orang berapi tidak Reformed. Dia juga berkata kepada muridnya, Stephen Tong has fire and also Reformed. Ada orang memberitahu kepada saya, lalu saya bertanya kepada Tuhan, betulkah saya mempunyai keduanya? Saya merasa diri saya dua-duanya kurang, masih harus lebih berapi-api yang sungguh, yang sesuai dengan api Tuhan. Saya merasa diri saya masih kurang. Tetapi ini merupakan isi hati yang dicetuskan kepada zaman ini.

Di Roma 10 ini, Paulus juga menunjukkan kelemahan gereja pada zaman ini dengan tepat, mereka berapi-api, bersungguh-sungguh tetapi tidak menurut pengertian yang sejati. Siapa yang Paulus tunjuk? Paulus berbicara tentang orang Yahudi. Mereka berapi-api, mereka mempunyai kehangatan yang sungguh-sungguh tetapi mereka tidak mempunyai pengertian yang sejati. Maksudnya apa? Mereka belum sadar Taurat itu apa, belum sadar dasar Taurat itu apa, motivasi Taurat dan tujuannya apa, dan Paulus menyatakan karena mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. Istilah yang dipakai untuk kebenaran Allah di sini adalah dikaiosune atau keadilan kebenaran dan sesuatu zat yang menyimpulkan seluruh hukum Taurat.

Paulus mengatakan, mereka tidak taat dan tidak mungkin taat, karena dasar pemikiran mereka yang paling mendasar itu sudah salah, maka semakin mereka giat justru semakin celaka. Misalnya, seorang naik sebuah kereta yang begitu besar dengan kuda yang begitu kuat, rumput yang disediakan kuda itu begitu banyak, kareta itu berjalan. Ketika berhenti, dia bertanya kepada seseorang, saya ingin pergi ke propinsi Shandong. Orang itu berkata, tidak bisa, Shandong itu di utara, mengapa kamu menuju ke selatan? Dia menjawab, tidak apa-apa, yang penting bukan selatan atau utara, yang penting kudaku cukup kuat. Orang yang ditanya berpikir, orang yang bertanya ini gila atau tidak? Bagaimana kuatpun kudamu itu, arahnya bukan ke sini. Kalau mau pergi ke Shandong harus mengarah ke situ. Jawabnya, tidak apa-apa, uangku cukup banyak dan persiapannya cukup lengkap. Orang itu masih memberitahu, tapi arahnya bukan ke sini, kesana. Jawabnya, tidak apa-apa, rumputnya penuh, rodanya besar, semua bahan jerujinya terbuat dari bahan yang baik. Lalu kata orang itu, ya sudah, semakin kuat kudamu, dia akan lari semakin cepat. Semakin banyak makanan, semakin banyak uang persiapan, semakin jauh dari tempat tujuan. Karena persoalannya bukan uang, persediaan bahan bakar, bensin, ban serep, mesin yang hebat, mobil yang kuat atau lainnya yang kau miliki, tetapi kalau arahnya salah, yang paling celaka justru kalau kecepatannya semakin tinggi, bukan? Arahnya sudah salah, lalu kau berkata, saya biasa cepat, padahal tadinya mabilmu sudah dekat dengan tujuan, tetapi kau putar balik, dan disetir dengan cepat, guna mengejar waktu, semakin mobil dilarikan cepat, semakin jauh dari tujuan, semakin diisi dengan bensin, semakin jauh lagi. Inilah keadaannya. Banyak orang yang giat dan mati-matian, tetapi tidak mempunyai pengertian yang benar, maka semakin mereka giat, semakin jauh dari Tuhan. Semakin giat semakin jauh dari pengertian yang sungguh, semakin jauh dari pengertian yang sungguh akan semakin menghina dan tidak mau dididik lagi. Ini adalah keadaan gereja pada akhir abad XX. Banyak orang merasa dirinya sudah besar, sudah tidak perlu dilatih, sudah hebat, sudah tidak perlu sekolah teologi, sudah begitu sukses, saya tidak perlu memperhatikan ajaran yang benar, pokoknya sukses, buktinya orang yang belajar teologi, gerejanya tidak bertumbuh, saya tidak tahu apa-apa, tetapi bertumbuh terus. Ini membuktikan Roh Kudus ada di sini.

Paulus berkata, kamu giat, kamu berusaha, tetapi tanpa pengertian, maka akhirnya kamu tidak takluk kepada kebenaran Allah. Orang yang sudah menjalankan, bukankah itu berarti sudah takluk? Orang Israel sudah menjalankan Taurat, menjalankan tuntutan Tuhan, mengapa disebut sebagai orang yang tidak takluk kepada kebenaran Allah? Kuncinya terdapat pada Roma 10:4. Motivasi dan kesimpulan dari seluruh Taurat adalah satu kata: kasih. Mengapa Allah berkata, jangan membunuh, jangan berzinah? Allah menyuruh kamu jangan berzinah bukan untuk merampas kebebasanmu, bukan mengganggumu, bukan mengadakan intervensi tetapi supaya kamu tidak tertular penyakit AIDS. Allah yang mencintai manusia mengetahui seorang pria hanya bersetubuh dengan seorang wanita dalam seumur hidupnya, dia tidak mungkin terserang penyakit seksual sebab Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Maka Dia berkata berdasarkan kasih. Jadi jelas Hukum Taurat itu berdasarkan kasih.

Manusia diperintah untuk jangan ini, jangan itu, pagar-pagar itu semua diberikan agar kau menikmati keamanan, hidup yang begitu nikmat, baik, indah. Manusia dicipta oleh Tuhan dengan tubuh dan bentuk gerakan yang paling bebas, bahkan di dalam seks sekalipun, binatang tidak mempunyai kemungkinan kebebasan seperti yang dimiliki oleh manusia. Tetapi diperintahkan bahwa kebebasan itu tidak boleh dipakai untuk berzinah. Seks yang begitu indah akan menghancurkan manusia dan bisa menjadi begitu buruk. Bangkok menjadi sarang AIDS di Asia, Indonesia sudah tidak seperti dulu, berapa banyak orang di Indonesia ada yang mengidap virus penyakit AIDS, kau tidak mengetahuinya. Kalau sekarang kau tidak mau taat akan perintah-perintah Tuhan, jangan heran kalau 20, 30 tahun kemudian, kau menemukan ada keturunanmu yang mati karena penyakit AIDS. Di Bangkok saya mendengar kalimat yang membuat bulu kuduk saya berdiri, ada berapa anak majelis dan pendeta mati karena penyakit AIDS. Jadi Tuhan mempunyai satu dasar mengapa Dia memberikan perintah, bukan untuk mengikat tetapi untuk membebaskan manusia. Memang perintah itu kelihatannya membatasi tetapi sesungguhnya menghidupkan. Seluruh Taurat yang didasarkan kasih itu intinya adalah Kristus. Roma 10:4 ini menunjukkan fokusnya dengan jelas, sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diberikan kepada tiap-tiap orang yang percaya. Di sinilah kaitannya, jika Taurat didasarkan kepada cinta kasih, dan Taurat menunjukkan bahwa kita tidak mungkin menjalankan, Taurat menunjukkan kesempurnaan yang tidak mungkin dicapai oleh manusia, Taurat merupakan refleksi dari cinta kasih, kesucian, keadilan, kebajikan dan kebijakan Tuhan yang tidak mungkin dicapai oleh manusia, karena terlalu sempurna. Akhirnya orang yang berada di bawah Taurat harus mengakui bahwa saya hanya manusia, manusia yang berdosa, yang tidak dapat melakukan apa-apa. Oleh karena manusia tidak bisa, maka Taurat mulai memberikan satu pernyataan bahwa hanya di dalam Kristus kau dapat memperoleh janji itu. Inilah arti dari ayat ini. Melalui Taurat bukan membuat aku sombong, bukan menyatakan diriku hebat, bukan juga untuk menghina mereka yang tidak bertaurat, justru melalui Taurat aku mengetahui bahwa Allah begitu mencintai manusia, sehingga Dia memberikan pagar yang begitu banyak untuk membatasi kebebasanku, untuk memagari aku di dalam lingkaran yang suci, adil, baik, dan kasih. Karena lingkaran berdasarkan cinta kasih inilah, maka kau bersyukur. Karena tuntutan ini berdasarkan sesuatu yang tidak mungkin dapat aku penuhi, maka aku bersandar. Waktu aku bersandar, maka faith menjadi satu opened system kepada Tuhan. Begitu aku beriman, barulah aku tahu, bahwa Taurat bisa digenapi dan sudah digenapi oleh satu-satunya manusia yang pernah hidup di dalam sejarah, yang namanya Yesus Kristus. Taurat itu hanya digenapi oleh Yesus Kristus. Maka disini dikatakan bahwa Kristus adalah penggenap Taurat, dan hidup diberikan kepada setiap orang yang percaya.

Kebenaran Allah datang dari Kristus kepada mereka yang takluk kepada-Nya, puji Tuhan! Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada. Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman. Pengertian Roma 3:27-28 ini muncul lagi dalam pasal 10:4. Kebenaran bukan menjalankan Taurat, tetapi orang itu percaya. Percaya kepada siapa? Kristus. Kristus dimana: di luar Taurat atau di dalam Taurat? Setelah Taurat tak berguna, baru Kristus diturunkan atau di dalam Taurat memang sudah mengandung makna yang sesungguhnya yaitu Kristus? Disini memerlukan kesinambungan dan pengertian antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di dalam Taurat yang diberikan itu terkandung Kebenaran Allah. Tapi kebenaran Allah yang begitu tuntas tak dapat dijalankan oleh manusia, maka manusia yang bersandar pada kelakuan pasti akan gagal, dan sasaran iman pasti sukses. Tetapi orang Israel tidak berdasarkan iman, justru berdasarkan kelakukan, maka mereka mencaripun tidak memperolehnya, karena mereka tidak mengerti dengan sesungguhnya, apa yang terpenting di dalam Taurat. Disini Paulus mengatakan, karena Kristuslah penggenap dari Taurat itu, sehingga kebenaran diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus. Percaya kepada Kristus yang berada di dalam Taurat atau Kristus yang berada di luar Taurat? Hakiki yang sebenarnya di dalam Taurat adalah firman, dan dalam Yohanes 1:1 dituliskan firman itu adalah Kristus, yang adalah Allah. Di dalam Taurat terdapat Kristus dan Kristuslah penggenapnya. Kristus menjadi intisari dari firman itu. Kristus itu adalah firman. Kristus yang berada di dalam Taurat, mereka tidak melihatnya, mereka buta, mereka hanya menganggap, kalau mereka menjalankan tuntutan dari segala peraturan Taurat secara permukaan, secara fenomena, mereka akan diselamatkan, pikiran, kehangatan dan api penuntutan semacam ini tidak akan membawa mereka kepada pengertian yang sejati, Kristus yang berada di dalam Taurat. Orang Kristen melalui apa yang diwahyukan selanjutnya di dalam Perjanjian Baru ini, mendapatkan penelusuran dan menyinambungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Kiranya Tuhan membawa kita pada inti, sehingga di situ kita mendapatkan ketenangan dan kestabilan iman yang tidak akan digoncangkan oleh segala kesulitan. Roda berputar dan di dalamnya terdapat semua titik yang bergerak habis-habisan, hanya ada satu titik, ketika roda berputar dengan begitu cepatnya, dia tidak perlu bergerak, yaitu titik pusat atas as-nya. Jika berada di bagian roda manapun akan membuat kita pusing, kecuali kita berada di as, baru kita akan merasakan ketenangan yang sejati. Biar orang Kristen, khususnya yang mendengarkan firman Tuhan seperti ini menemukan fokus dan titik pusat dari kehendak Allah.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 31 - September 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar