Mesin Pencarian

Minggu, 04 Januari 2009

Otoritas Alkitab

Penyebab terbesar dari kekacauan di dalam gereja dewasa ini adalah kurangnya otoritas yang dapat disandari. Banyak usaha dilakukan untuk mensuplai otoritas ini melalui keputusan-keputusan sidang gerejawi, pertemuan yang eksistensial dengan "firman" tetapi yang tidak bisa dipahami maksudnya, atau dengan cara-cara lain. Tapi tak satupun pendekatan itu dapat dikatakan berhasil. Lalu apa yang salah? Apakah sebenarnya sumber otoritas bagi orang Kristen?

Jawaban klasik orang-orang Protestan adalah: sumber otoritas itu tidak lain Firman Allah yang diwahyukan, yaitu Alkitab. Alkitab berotoritas sebab bukan perkataan manusia, walaupun manusia adalah saluran sehingga Alkitab dapat sampai kepada kita. Sesungguhnya Alkitab "dinafaskan oleh Allah". Alkitab adalah hasil buatan Allah. Tetapi mungkin timbul juga pertanyaan lain mengenai otoritas. Pertanyaan ini berkaitan dengan cara kita menyadari otoritas Alkitab. Bagaimana kita bisa mengerti sesungguh-sungguhnya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan?

Aspek manusiawi dari pertanyaan mengenai otoritas, membawa kita sedikit lebih jauh kepada pengertian bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Sebab arti sepenuhnya dari perkataan itu bukan sekadar menunjukkan bahwa Tuhan telah memberikan Alkitab, tetapi juga bahwa Alkitab terus menerus berbicara melalui Alkitab kepada manusia secara pribadi. Dengan kata lain, jika setiap orang secara pribadi mempelajari Alkitab, Allah berbicara kepada mereka melalui usaha mereka untuk mempelajarinya. Allah mengubah diri mereka melalui kebenaran yang mereka dapatkan. Inilah pertemuan secara langsung dari orang percaya secara individual dengan Tuhan. Luther mengungkapkan hal ini dengan kalimat, "Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Tuhan." Demikian juga yang dimaksud oleh Calvin dengan perkataan, "Sesungguhnya Alkitab membuktikan dirinya sendiri otentik".

Hanya pengalaman secara langsung sajalah yang akan menyakinkan orang bahwa kata-kata dalam Alkitab adalah Firman Tuhan yang otentik dan otoritatif. Calvin berkata, "Jadi, Roh yang sama yang telah berbicara melalui mulut para nabi sekarang menembus ke dalam hati kita untuk mengatakan kepada kita bahwa para nabi itu telah dengan setia mengatakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan."

Alkitab lebih dari sekadar sesuatu kebenaran yang diungkapkan, suatu kumpulan kitab-kitab yang secara lisan diinspirasikan oleh Tuhan. Alkitab adalah suara Allah yang hidup. Allah yang hidup berbicara melalui halaman demi halaman Alkitab. Jadi Alkitab tidak boleh dinilai sebagai sebuah obyek sakral untuk diletakkan di atas rak buku lalu diabaikan begitu saja. Alkitab adalah dasar yang kudus, di mana hati dan pikiran manusia bisa mencapai satu titik temu yang penting dengan Allah yang hidup, yang penuh kasih dan memperhatikan manusia. Kalau kita mau memiliki perspektif yang sesuai dan pemahaman yang dapat disandari mengenai wahyu maka kita harus terus menerus memahami ketiga hal berikut: "Firman yang berotoritas dan tidak mungkin salah, tindakan Roh Kudus yang membuat kita mengerti dan menerima Firman itu dan hati yang mau menerima." Tidak mungkin kita memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah tanpa ketiga hal itu.

Pandangan Reformasi

Jaminan bahwa Allah telah berbicara kepada para Reformator secara langsung melalui Firman-Nya memberikan suatu kebulatan di hati para Reformator. Secara teologis, pembentukan kebenaran pada dasarnya adalah sebuah elemen yang baru dalam Reformasi.

Pekik peperangan Reformasi adalah Sola Scriptura. Hanya Firman saja. Tetapi bagi para Reformator Sola Scriptura memiliki arti lebih dari sekadar bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya dalam perkataan Alkitab. Elemen yang baru itu bukan berarti bahwa Alkitab, yang sesungguhnya diberikan oleh Tuhan, berbicara dengan otoritas Tuhan sendiri. Gereja Roma Katolik maupun para Reformator memiliki pendapat yang sama tentang hal itu. Elemen yang baru itu, sebagaimana juga diungkapkan oleh Packer adalah kepercayaan dalam diri Reformator melalui pengalaman mereka mempelajari Alkitab, bahwa Alkitab dapat dan memang sesungguhnya menafsirkan dirinya sendiri dalam hati orang beriman. Alkitab adalah penafsir bagi Alkitab sendiri, Scriptura sui ipsius interpres, sebagaimana dikemukakan oleh Luther. Jadi, kita tidak perlu Paus atau konsili untuk memberitahu apa arti perkataan Alkitab. Hal ini dapat berarti menantang pernyataan kepausan atau pernyataan konsili dan menunjukkan bahwa mereka tidak benar dan menuntut orang beriman untuk tidak menuruti mereka. Alkitab adalah satu-satunya sumber di mana orang berdosa bisa mendapatkan pengetahuan yang benar tentang Allah dan kebaikan. Alkitab juga merupakan satu-satunya hakim Gereja segala zaman demi nama Tuhan.

Dalam zaman Luther, Roma Katolik telah melemahkan otoritas Alkitab dengan cara meninggikan tradisi, sampai setara dengan Alkitab. Mereka juga menekankan bahwa ajaran Alkitab dapat disampaikan kepada orang Kristen hanya melalui perantaraan Paus, konsili, dan para imam. Para Reformator mengembalikan otoritas Alkitab dengan menyatakan bahwa Allah yang hidup berbicara langsung kepada umat-Nya dengan penuh otoritas melalui setiap halaman Alkitab.

Para Reformator menyebut tindakan Allah yang melahirkan Firman dalam pikiran dan hati nurani umat-Nya, sebagai kesaksian batiniah dari Roh Kudus. Mereka menekankan bahwa tindakan seperti itu adalah pertemuan obyektif atau eksternal, berdasarkan ayat-ayat dalam Yoh 3:8; 1Yoh 2:20, 27; 1Yoh 5:7. Pengertian yang sama juga diungkapkan Paulus dalam 1Kor 2:12-15 dan Ef 1:16-20. Jika kita melihat ayat-ayat di atas secara keseluruhan, maka semuanya mengajarkan kita tentang kelahiran baru, pertumbuhan kebijaksanaan rohani dan pengetahuan tentang Allah. Itu adalah hasil karya Roh Allah atas hidup kita melalui Alkitab. Tidak ada pengertian spiritual yang mungkin terlepas dari tindakan Roh Kudus ini. Jadi kesaksian Roh Kudus adalah alasan yang paling masuk akal mengapa Alkitab diterima sebagai otoritas tertinggi dalam semua persoalan iman dan tindakan dari setiap anak Tuhan.

Kitab yang Memahami Saya

Jika kita membaca Alkitab dan Roh Kudus berbicara kepada kita, maka ada berbagai hal yang terjadi. Pertama, pembacaan itu mempengaruhi kita dengan sangat berbeda dari semua pembacaan buku-buku lain yang pernah dilakukan.

Dr. Emilie Cailliet adalah seorang ahli filsafat dari Perancis yang kemudian menetap di Amerika dan menjadi profesor di Princeton Theological Seminary. Ia dibesarkan dengan suatu pendidikan naturalistik. Ia tak pernah mengindahkan hal-hal yang bersifat spiritual. Ia tak pernah membaca Alkitab. Ketika Perang Dunia I meletus, ia melihat keadaan sekelilingnya dan merasa tidak puas dengan pandangan dan sikap hidupnya. Ia mengajukan sebuah pertanyaan kepada diri sendiri seperti pertanyaan yang diungkapkan oleh Levin, tokoh fiksi karya Leo Tolstoy dalam buku Anna Karenina. Bunyi pertanyaan itu, "Darimanakah asal hidup? Jika hidup itu berarti, apa arti yang sesungguhnya? Apa arti semua teori ilmu pengetahuan dalam kenyataan yang sesungguhnya?" Belakangan Cailliet menulis, "Seperti Levin, saya juga merasa bukan oleh pikiran saya tetapi oleh keseluruhan keberadaan saya, bahwa saya ditentukan untuk binasa secara tragis, jika waktunya sampai."

Setelah terjaga sepanjang malam, Cailliet mulai merindukan apa yang disebutnya sebuah buku yang dapat memahami diri saya. Ia adalah orang terpelajar, tetapi ia tidak pernah mengenal ada buku yang seperti itu sebelumnya. Ketika kemudian ia terluka dan dibebastugaskan dari kesatuan militer dan kembali ke tempatnya mengajar, Cailliet berketetapan untuk menyiapkan sebuah buku seperti yang ia maksudkan itu bagi dirinya sendiri secara rahasia. Ketika membaca buku, ia mencatat kalimat-kalimat yang nampaknya berguna bagi dirinya. Kemudian ia mencatat semua kalimat itu sekali lagi dalam sebuah buku bersampul kulit. Ia menandai semua kata penting yang diharapkan bisa melepaskan dirinya dari segala kekuatiran.

Akhirnya tibalah saatnya ia menyelesaikan bukunya, sebuah buku yang akan memahami dirinya. Lalu Cailliet ke luar rumah dan duduk di bawah sebatang pohon dan mulai membaca kumpulan tulisannya itu. Tetapi bukannya satu kelegaan yang ia jumpai. Justru setiap kalimat yang sudah dikutipnya itu mengingatkannya tentang betapa berat usahanya mengumpulkan semua kalimat itu. Akhirnya ia tahu bahwa semua usahanya sia-sia, sebab buku itu dibuatnya sendiri. Buku itu tidak mempunyai kekuatan. Dengan kecewa ia simpan buku itu dalam sakunya.

Pada saat yang sama, istri Cailliet (yang tidak tahu menahu tentang usaha suaminya itu) pulang dengan sebuah cerita menarik. Ia baru pulang berjalan-jalan di desa Perancis mereka yang kecil dan secara tidak sengaja memasuki sebuah gereja Huguenot mungil. Sebelumnya ia tak pernah melihat gereja mungil itu, tetapi ia masuk juga dan minta sebuah Alkitab, walaupun ia sendiri tidak sadar apa perlunya ia minta Alkitab. Sampai di rumah ia minta maaf pada suaminya karena membawa Alkitab pulang ke rumah, sebab ia tahu bahwa suaminya tidak suka pada kekristenan. Tetapi Cailliet tidak mempedulikan permintaan maaf istrinya dan menanyakan di mana Alkitab itu sekarang. Cailliet sadar bahwa ia tak pernah membaca Alkitab sebelumnya. Lalu dengan bergegas ia justru mulai membaca Alkitab itu. Berikut ini adalah kutipan dari perkataan Cailliet secara langsung, Aku membukanya dan sampai pada Ucapan Bahagia dari Tuhan Yesus. Aku terus membacanya terus menerus, berulang-ulang dengan suara keras dan merasakan ada satu kehangatan yang merambat melaluinya...Aku tak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa aku kagum dan terpesona. Lalu tiba-tiba aku menyadari: Inilah buku yang dapat memahami diriku! Aku sangat membutuhkannya, tetapi aku tidak menyadari, bahkan dengan bodohnya aku berusaha menulis buku semacam ini sendiri. Aku terus membacanya makin jauh, terutama dari keempat Injil. Lalu aku melihat, bahwa Dia yang berbicara dan bertindak sungguh hidup bagiku. Pengalaman yang indah ini menandai permulaan pengertianku tentang doa, juga pengalaman itu mengajarkanku tentang kehadiran Tuhan, yang kemudian menjadi sesuatu yang sangat pokok dalam pemikiran teologisku. Suasana providensial di dalam Buku itu telah menangkap aku dan walaupun tampaknya absurd untuk membicarakan tentang sebuah buku yang dapat memahami manusia, sesungguhnya Alkitab dapat memahami manusia. Sebab setiap halamannya dihidupkan oleh kehadiran Allah yang hidup dan kekuatan karya-Nya. Kepada Allah inilah aku berdoa malam itu, dan Allah yang menjawab adalah Allah yang sama yang dibicarakan dalam Buku itu.

Sepanjang sejarah umat Allah telah melihat apa yang diungkapkan dalam Reformasi. Inilah perkataan Calvin tentang kebenaran yang sama, Kuasa yang khusus di dalam Alkitab jelas dapat kita lihat. Kalau kita bandingkan dengan tulisan-tulisan manusia yang lain, betapapun indah bahasa yang dipakainya tetap tidak ada tulisan lain yang dapat dibandingkan dengan Alkitab. Bacalah Demosthenes atau Cicero; bacalah Plato, Aristoteles, dan karya-karya filsuf lain yang sebudaya dengan mereka. Buku-buku itu memang akan memberikan keindahan kepada kita, menggetarkan hati, dan membuat kita terkenang. Tetapi jika kita beralih dari buku-buku itu dan membawa Kitab Suci, maka Kitab Suci ini akan mempengaruhi hidup kita, menembus ke dalam hati, kemudian mendiami seluruh sumsum tulang kita. Jika hendak dibandingkan sekali lagi, maka buku-buku karya para filsuf itu hampir akan ada artinya lagi. Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci jauh melebihi segala kebaikan manusia, sebab Kitab Suci menghembuskan sesuatu yang bersifat Ilahi.

Contoh yang lain kita lihat di bagian akhir Injil Lukas. Tuhan Yesus baru bangkit dari kubur dan menampakkan diri kepada para murid-Nya. Kleopas dan seorang kawannya berjalan menuju ke Emaus dan berjumpa dengan Tuhan Yesus di tengah perjalanan. Mereka tidak mengenali-Nya. Ketika Tuhan Yesus bertanya mengapa mereka tampak sedih, mereka justru balik bertanya, apakah Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di Yerusalem. Mereka menceritakan tentang Yesus yang mati, lalu pada hari pertama minggu itu para perempuan pergi ke kubur dan menjumpai kubur itu telah kosong Yesus, walaupun sesungguhnya kubur itu sendiri tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Mimpi mereka lenyap, dan dalam perkiraan mereka waktu itu Yesus telah mati, itulah sebabnya mereka pulang ke Emaus.

Tetapi Tuhan Yesus mulai berkata-kata kepada mereka, mengajarkan mereka Alkitab. Tuhan Yesus menyebut mereka orang-orang bodoh dan lamban untuk percaya perkataan para nabi. Tuhan Yesus menekankan kepada mereka bahwa Mesias memang harus mengalami penderitaan itu untuk masuk ke dalam kemuliaan. Tuhan Yesus mulai dengan pengajaran Musa dan seluruh pernyataan para nabi, kemudian Ia menjelaskan apa yang dikatakan Alkitab tentang diri-Nya sendiri.

Akhirnya mereka tiba di rumah mereka, dan Ia menyatakan diri kepada mereka ketika mereka makan bersama. Ia tiba-tiba menghilang. Segera kedua orang itu kembali ke Yerusalem untuk menceritakan kepada para murid yang lain. Mereka mengatakan, "Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara kepada kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" (Luk. 24:32). Mereka disadarkan oleh Firman Tuhan. Dalam keadaan ini Tuhan Yesus sendiri menggenapi fungsi Roh Kudus dengan cara menerangkan arti Firman Tuhan kepada para murid-Nya dan dengan menerapkan kebenarannya kepada mereka.

Alkitab juga mengubah kita. Kita menjadi orang-orang yang berbeda sebagai hasil dari pertemuan dengan Alkitab. Satu bagian dari Roma 13 mengubah hidup Agustinus ketika ia membaca Alkitab di kebun rumah seorang kawannya di dekat Milan, Italia. Luther mengatakan pengalamannya dalam meditasi di Wartburg Castle dan ia dilahirkan lagi dan menyaksikan bagaimana Roma 1:17 menjadi gerbang surgawi. Perenungan John Wesley terhadap Alkitab akhirnya membawa pertobatannya dalam sebuah pertemuan kecil di Aldersgate.

Kitab yang Memahami Saya

Akibat lain dari membaca Alkitab adalah bahwa Roh Kudus yang berbicara melalui setiap halamannya akan membawa orang-orang menjadi murid Tuhan Yesus. Alkitab berisi berbagai macam pokok bahasan. Alkitab meliputi sejarah yang ratusan tahun panjangnya. Tetapi obyek dari Alkitab dalam segala bagiannya menunjuk kepada Kristus. Tuhan Yesus berkata bahwa jika Penghibur, yaitu Roh Kebenaran yang diutus-Nya dari Bapa itu datang, Ia akan menyaksikan tentang diri Tuhan Yesus (Yoh. 15:26). Karena peranan Roh Kudus adalah menunjukkan tentang Tuhan Yesus di dalam Alkitab, maka kita bisa yakin bahwa kita sedang mendengarkan perkataan Roh Kudus jika kita mengalaminya.

Mungkin orang bertanya, bukankah seluruh isi Alkitab adalah sejarah? Bagaimana mungkin Yesus adalah subyek dari Perjanjian Lama? Dan bagaimana Roh Kudus dapat menunjukkan kita kepada-Nya? Tuhan Yesus menjadi subyek dalam Perjanjian Lama dengan dua cara: (1) dengan menyesuaikan dengan tema utamanya dan (2) dengan menggenapi apa yang nubuatan yang ada.

Satu tema utama dari Perjanjian Lama adalah dosa manusia dan perlunya penolong bagi manusia. Alkitab dimulai dengan kisah penciptaan. Tetapi kita juga dapati kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Manusia bukannya sepenuhnya taat dan bersandar kepada Penciptanya, tetapi justru memberontak dan melawan Allah. Manusia lebih memilih jalannya sendiri daripada mengikuti jalan Tuhan. Jadi akibat dari dosa segera jatuh atas seluruh umat manusia.

Dalam Perjanjian Lama selanjutnya kita melihat seluruh konsekuensi dosa ini: pembunuhan atas diri Habel, kejahatan manusia pada zaman Nuh sampai terjadinya air bah, penyimpangan seksual, bahkan sampai kepada tragedi yang dialami Israel bangsa pilihan walaupun seharusnya Israel berhak memiliki berkat-berkat Tuhan secara penuh. Paling baik jika Perjanjian Lama disimpulkan dengan perkataan Daud dalam mazmur pengakuan dosanya. Mazmur 51:1-5 boleh disebutkan sebagai pengakuan dosa dari seluruh umat manusia.

Kita memiliki satu doktrin Alkitab yang penting. Kalau kita dapat mengertinya dengan benar maka doktrin ini tidak akan berakhir dalam dirinya sendiri. Kebenaran tentang dosa dan kebutuhan kita diungkapkan dalam Alkitab sebab Alkitab juga mampu menunjukkan bahwa Kristus mampu menjawab semua persoalan.

Tema kedua dari Perjanjian Lama adalah eksistensi Allah yang bertindak dalam kasih-Nya untuk menebus orang berdosa. Allah Bapa melakukan ini di dalam seluruh Perjanjian Lama. Pada saat yang sama, ketika Allah melakukannya, Ia juga menunjuk kepada kedatangan Putra-Nya yang akan menebus manusia secara sempurna untuk selama-lamanya.

Ketika Adam dan Hawa berdosa, maka dosa itu memisahkan mereka dari Sang Pencipta. Mereka berusaha bersembunyi. Akan tetapi Allah datang pada mereka pada waktu hari sejuk, dan Allah memanggil mereka. Memang Allah berbicara dalam penghakiman, sebab memang Ia harus melakukannya. Ia mengungkapkan konsekuensi dari dosa mereka. Tetapi Allah membunuh seekor binatang dan memakaikan kulit binatang itu untuk menjadi pakaian manusia yang berdosa dan mulai mengajarkan jalan keselamatan melalui pencurahan darah. Lalu Allah berfirman tentang kedatangan Sang Juruselamat yang akan meremukkan kepada dari ular yang artinya akan mengalahkan kuasa iblis (Kej 3:15).

Pada sembilan pasal berikutnya kita jumpai suatu rujukan lain di mana benih perempuan itu akan menghancurkan kepala ular. Allah pertama kali memberikan janji kepada Abraham dengan menekankan bahwa oleh keturunan Abraham segala bangsa di muka bumi akan mendapat berkat (Kej 12:3; 22:18). Berkat yang dijanjikan ini tentulah bukan sebuah berkat yang mengalir dari diri Abraham secara pribadi. Berkat yang dijanjikan ini akan datang melalui keturunan Abraham, yaitu benih yang dijanjikan, Sang Mesias. Lalu beratus-ratus tahun berikutnya yang mengerti betul ayat ini menunjukkan bahwa: (1) benih itu adalah Tuhan Yesus; (2) janji yang diberikan kepada Abraham adalah satu berkat melalui Dia; dan (3) berkat itu sampai kepada manusia melalui karya Kristus yang menebus (Gal 3:13-16).

Menjelang kematiannya Yakub berkata bahwa tongkat kerajaan tak akan pernah pergi dari Yehuda (Kej 49:10). Musa juga berkata tentang Dia yang akan datang (Ul 18:15). Kitab Mazmur berisi banyak nubuatan besar. Mazmur 2 menceritakan tentang Kristus yang memperoleh kemenangan dan berkuasa atas bangsa-bangsa di bumi. Mazmur ini sangat disukai orang-orang Kristen abad mula-mula (Lihat Kisah 4). Mazmur 16 menubuatkan kebangkitan Kristus (ayat 10; lihat Kisah 2:31). Dalam Mazmur 22, 23, dan 24 kita mendapatkan gambaran tentang Tuhan Yesus: Juruselamat yang menderita, Gembala yang baik dan Raja. Mazmur-mazmur yang lain membicarakan aspek lain tentang pelayanan dan kehidupan Kristus. Mazmur 110 kembali pada tema mengenai pemerintahan-Nya, yaitu hari ketika Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa, dan menjadikan musuh-musuh-Nya sebagai tumpuan kaki-Nya. Rincian tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus dapat kita jumpai dalam kitab para nabi: Yesaya, Daniel, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, Zakharia, dan yang lainnya.

Tuhan Yesus Kristus dan karya-Nya adalah subyek dari Alkitab. Roh Kuduslah yang mengungkapkan semuanya tentang Dia. Pada saat wahyu dalam Alkitab dipahami maka Alkitab memberi kesaksian tentang dirinya sendiri dan otoritas serta kuasa dari Allah yang hidup dapat dirasakan dalam setiap lembar halamannya.

Disadur dari buku: Foundation of Christian Faith

Vol 1: The Sovereign God

oleh James Montgomery Boice

Terjemahan oleh: Yudha Thianto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar