Mesin Pencarian

Kamis, 15 Januari 2009

Kebodohan Dalam Cinta

Saya suka membaca kolom 'tanya jawab' di majalah atau surat kabar, mengetahui permasalahan orang-orang dan pertimbangan serta saran yang diberikan. Saya rasa sebagian besar dari kita menyukainya, saat kita melihat masalah seseorang dari luar dan berkomentar, "Ya ampun, jawabannya kan sudah jelas..." Kolom 'tanya jawab' yang sering menarik perhatian saya adalah yang membahas tentang cinta.

"Saya sedang jatuh cinta dengan seorang pria yang sudah beristri, dan selama tiga tahun terakhir ini dia terus mengatakan bahwa dia akan menceraikan istrinya. Sementara kami masih terus bersama. Apakah saya sudah membuang-buang waktu dengannya?"

"Pacar saya selalu mengancam akan putus dengan saya setiap kali kami bertengkar. Apa yang salah dengan saya sehinga saya tidak bisa membuatnya bertahan dalam hubungan ini?"

"Pria ini sempurna. Dia baik, penyayang, dan cerdas. Hanya ada satu hal yang mengganggu, dia berusia 34 tahun, belum bekerja, dan masih tergantung secara finansial dengan orang tuanya. Tapi saya mencintainya!"

Kamu bisa tertawa, tapi saya serius. Orang-orang kebanyakan menuliskan masalah mereka dengan skenario seperti itu. Sepertinya cinta menimbulkan kekacauan dalam otak manusia yang menyebabkan pikiran tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sejak kapan kita menjadi bodoh dalam hal percintaan? Ada apa dengan cinta yang membuat kita melempar akal sehat kita keluar jendela?

Saya tidak bermaksud menghakimi orang lain, karena saya sendiri pun pernah mengalami semua kebodohan itu. Saya pernah menjalin hubungan dengan pria "baik-baik saja" yang tidak perduli akan masa depan, pria "berikan aku kesempatan sekali lagi", seorang musisi yang moody, pria posesif yang selalu menguntit saya kemana pun saya pergi, dan juga pria yang sudah berpisah (namun belum bercerai) dengan istrinya. Saya juga pernah mengejar beberapa pria yang sama sekali tidak tertarik pada saya. Saya bahkan pernah memohon-mohon lebih dari sekali untuk mencegah agar pacar saya tidak memutuskan hubungan dengan saya. Semua itu sangat memalukan, dan atas nama cinta, saya telah melakukannya.


Dan setelah semua kegilaan dalam area percintaan itu, saya masih tidak mengerti, mengapa saya atau mungkin banyak dari antara kita, masih ingin kembali mengalaminya lagi dan lagi. Apakah itu karena rasa takut diabaikan? Rasa takut untuk hidup sendiri? Ataukah kita kecanduan pada perasaan yang kita alami saat kita jatuh cinta? Saya pernah mengalami semuanya itu, dan saya rasa kita semua pernah. Tidak ada seorangpun yang mau sendirian. Bahkan orang yang suka menyendiripun menginginkan suatu hubungan cinta, namun mereka terlalu takut bahwa hal itu akan menghancurkan mereka. Dan mereka benar, itu akan menghancurkan mereka. Itulah sebabnya mengapa kita tetap menghubungi mantan-mantan pacar dan terus mengingat-ingat kenangan-kenangan hubungan kita di masa lalu yang seharusnya sudah berakhir. Kita dirancang untuk menjalin hubungan dengan orang lain, dan saat seseorang masuk ke dalam hidup kita untuk pertama kalinya, hidup kita tidak pernah sama lagi. Kita tidak suka sendirian dan akan terus menginginkan serta mencari cinta.

Saya tidak membenarkan perilaku ini dengan maksud apapun. Jika kamu mengejar seorang pria yang mempunyai 8 orang anak dari 6 orang ibu yang berbeda, maka jelas-jelas kamu mempunyai masalah yang lebih besar daripada sekedar merasa kesepian. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa dorongan untuk menjalin hubungan cinta yang kamu rasakan adalah hal yang normal. Lalu apa yang seharusnya kamu lakukan untuk mencegah hama cinta yang bisa membuatmu kehilangan akal sehat? Tidak perduli apapun status hubunganmu saat ini, kunci kehidupan adalah keseimbangan.

Maksudnya, nikmati saja perasaan cinta itu, tapi kakimu harus tetap menjejak pada kenyataan. Kebanyakan hubungan yang buruk datang dengan tanda peringatan yang nyata (contohnya, dia menolak untuk membicarakan tentang orangtuanya, atau dia tidak mempunyai rencana jangka panjang ke depan). Jika kamu tidak membiarkan awan romantisme mengaburkan pertimbanganmu, tentu kamu dapat melihat tanda bahaya ini sejak awal.

Berpasangan atau single, persahabatan yang baik akan menjagamu tetap bisa berpikir jernih. Saling setialah satu sama lain untuk saling menjaga dan mendukung. Teman-temanmu juga tentu memiliki pandangan yang lebih nyata terhadap hubungan cintamu karena mereka tidak dipengaruhi oleh emosi dan perasaan seperti yang kamu tengah alami. Mereka akan menolongmu menjaga segala sesuatunya tetap dalam perspektif yang benar dan jika dibutuhkan, mereka akan memberitahumu saat kamu bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi. Kita memang tidak dapat mencegah diri kita dari perasaan jatuh cinta, yang membuat kita melakukan hal-hal yang "aneh". Tapi bagaimanapun juga, kita bisa selalu bersyukur bahwa Tuhan memimpin kita melalui jalan simpang siur percintaan yang kadang berkabut, sampai kita tiba di ujung satunya.


Sumber : Jennifer Jones, Cbn

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar