Mesin Pencarian

Senin, 05 Januari 2009

The Golden Compass

Beberapa bulan sebelum ditayangkan perdana di layar lebar, film The Golden Compass telah mendatangkan kontroversi pro-kontra, dari yang bilang sangat bagus dan setuju banget sampai yang melarang anak-anak menonton bahkan memboikot film itu. Ada organisasi Katolik yang semula mengacungkan jempolnya menghargai film itu namun kemudian manarik kembali dukungannya. Pasalnya, film The Golden Compass yang ditayangkan secara perdana di USA pada tanggal 7 Desember 2007 itu sebenarnya bukunya sudah terbit pada tahun 1995 oleh penulis Philip Pullman dan isinya memang sarat promosi atheisme dan anti gereja yang secara jujur diakui oleh penulisnya. Di Indonesia film ini ditayangkan perdana dalam midnight show pada hari Sabtu, 29 Desember 2007 setelah sebelumnya DVD tidak resmi film itu sudah beredar luas di kios-kios DVD di tanah air.

Philip Pullman terkenal dengan triloginya yang disebut His Dark Materials yang sarat misteri dan sihir. Yang pertama dari trilogi itu berjudul Northern Light (1995) yang bercerita tentang dunia paralel seperti dunia ini tetapi berbeda, kedua The Subtle Knife yang bercerita tentang dunia ini, dan yang ketiga The Amber Spyglasses yang bercerita tentang antar dunia. Northern Light kemudian dikemas baru oleh penulisnya dengan tambahan 16 halaman buku dan diberi nama The Golden Compass (2006) dan kemudian diangkat ke layar lebar (2007). Cuma, untuk lebih memasyarakat, beberapa isu kontroversial yang ekplisit dalam novelnya, dalam filmnya isu-isu itu dikaburkan atau diberi nama berbeda. Namun serial ke dua dan ketiga lebih kasar dalam menyatakan sikap anti agama Pullman, bahkan Chris Weitz, sutradara film itu, menyatakan akan lebih jujur dalam mengekspos naskah asli novelnya yang kedua dan ketiga yang rencananya mulai dirilis pada tahun 2009.

Ceritanya dimulai dengan kehadiran seorang gadis yatim-piatu yang tinggal di Oxford, Inggeris, bernama Lyra Belacqua. Oxford di sini tidak seperti Oxford yang dikenal karena Lyra menyadari dunianya berbeda dimana setiap orang memiliki daemon pribadi (dalam bentuk binatang yang menggambarkan bentuk luar jiwa yang berubah-ubah bentuk sampai mencapai kedewasaan). Ia berteman dengan pelayan dapur Roger, dimana bersamanya ia bermain-main di kota itu. Cerita berubah ketika Lyra dan daemonnya bernama Pantalaimon menghalangi pembunuhan terhadap pamannya Lord Asriel dan ikut mendengar rahasia tentang sesuatu yang misterius bernama Dust. Sejak itulah banyak anak menghilang ditangan Gobblers tanpa diketahui hilang kemana.

Sebelum Lyra mencari Roger, ia dikenalkan dengan Nyonya Coulthier seorang penyihir cantik. Ia diajak berekspedisi ke kutub utara. Sebelum berangkat, kepala sekolahnya memberikan kepada Lyra sebuah aletheometer (kompas emas) sebuah alat yang mempu mengungkap kebenaran semua hal. Dibawah bimbingan Nyonya Coulthier, ia belajar mengenai peran Ny. Coulthier dalam gereja, yang disebut ‘Gobler’ yang bertanggung jawah akan hilangnya anak-anak. Anak-anak yang diculik ternyata dibawa ke Bolvanger suatu tempat di kutub utara untuk dijadikan percobaan oleh Dust dimana mereka dipisahkan dari daemon mereka melalui proses intercission. Lyra juga mengetahui bahwa gereja juga menculik dan menawan Lord Asriel ke wilayah Arctic di Bolvanger yang menjalankan ujicoba sendiri untuk kepentingan Dust.

Ngeri melihat hal-hal itu, Lyra dan Pantalaimonnya melarikan diri dari rumah Ny. Coulthier dibantu dua orang gipti yang baik. Orang-orang gipti hidup sebagai manusia perahu yang hidup dalam kesukaran namun mereka mengajarkan arti kekeluargaan, kesetiaan dan cinta. Orang-orang gipti ini berkepentingan karena anak-anak mereka banyak yang diculik Gobbler, dan Lyra dengan pengetahuannya membantu para gipti membebaskan tawanan di utara itu dan kemudian ia menjumpai ayahnya yang terpenjara. Melalui penuturan tetua gipti ia kaget mengetahui bahwa ternyata ayahnya adalah Lord Asriel dan Ny. Coulthier sebenarnya adalah ibunya sendiri. Dibalik rasa kagetnya, Lyra membaca alethiometer dan menyadari apa pesannya. Sekalipun althiometer mengungkapkan kebenaran disekelilingnya, Lyra tidak sadar mengenai perannya dalam nasib alam semesta. Lyra dinubuatkan akan berperan besar untuk memerankan penghianatan tak terhindarkan yang akan menentukan masa depan dunia-dunia.

Agar berhasil menyelamatkan anak-anak, orang-orang gipti mengajak tiga orang untuk membantu, yaitu Serafina Pekhala, ratu sihir yang mengungkapkan bahwa masa depan semesta berada di tangan Lyra, Lee Scoresby, aeronaut dan komandan balon udara panas, dan Ioreck Byrnisson, beruang kutub berbaju baja yang sebagai raja kelompoknya dibuang oleh saudaranya. Dalam perjalan ke kutub utara itu Lyra dan Pantalaimonnya diculik oleh para pemburu yang membawa mereka ke Bolvangar tempat dimana anak-anak yang diculik ditawan. Akhirnya Lyra bertemu dengan Roger, namun ia menyaksikan kengerian melihat uji-coba pemisahan anak-anak dari daemon mereka. Bersama-sama anak-anak itu kemudian melarikan diri dari kengerian Bolvangar, melarikan diri dalam lindungan para gipti dan ketiga kawan mereka. Sekalipun mereka telah selamat, perjalanan Lyra dan Roger belum selesai (disinilah The Golden Compass berakhir).

Pada bagian kedua triloginya, Lyra menemukan ayahnya yang melakukan uji-coba bersama Dust yang menemukan cara menembus batas penghalang ke dunia lain. Mereka telah membangun jembatan ke dunia lain, tetapi untuk melalui jembatan itu dibutuhkan energi yang dihasilkan pemisahan anak dari daemonnya melalui proses intercission. Tidak mampu mengorbankan anaknya sendiri, Lord Asriel mengorbankan Roger dan menghilang ke dunia lain. Dunia dihancurkan dan Roger mati, tetapi Lyra bersumpah untuk membalas dendam dan membongkar kejahatan Dust.

Kandungan atheisme dan anti gereja dalam novel ini bisa dilihat dari penggambaran tentang gereja yang dianggap si jahat dan tentang kematian Tuhan dimana surga akan diperintah oleh Republik Surgawi yang tidak memerlukan raja. Pullman mengatakan kepada surat kabar Australia bahwa memang “Bukunya itu tentang membunuh Tuhan” dan ia juga mengaku bahwa “Saya mencoba menggoyahkan dasar agama Kristen.” Secara ekplisit trilogi Pullman menceritakan a.l. Dr. Mary Malone yang mantan biarawati yang mengaku bahwa “Tidak ada Tuhan” dan ia meninggalkan iman Kristen karena “Agama Kristen adalah kesalahan yang meyakinkan dan berkuasa”.

Dalam trilogi ini juga Lyra menjumpai bahwa Ayahnya Lord Asriel membuka front perang melawan Tuhan, dan ia bertemu anak laki-laki bernama Billy yang memiliki pisau yang bisa memotong segala sesuatu termasuk batas penghalang antar semesta. Pisau itu memiliki nama nubuatan Aeshaeter yang berarti ‘pemusnah Tuhan.’ Pada akhir trilogi digambarkan bahwa Tuhan mati, dan Will dan Lyra memerankan kembali kejatuhan manusia kedalam dosa di taman Eden, tetapi dengan berbuat demikian, mereka menyelamatkan dunia daripada menghancurkan dunia dengan dosa. Bila Alkitab menceritakan bahwa manusia telah jatuh dalam dosa dan membutuhkan penebusan Yesus agar selamat, maka trilogi Pullman menyebutkan bahwa Lyra dan Will akan mengubah kutuk dosa menjadi berkat dan membenarkan sikap Adam dan Hawa yang makan dari pohon pengetahuan.

Dalam trilogi Pullman, Tuhan Alkitab bukanlah pribadi pencipta langit dan bumi, namun sekedar malaekat pertama yang timbul dari yang disebutnya Dust, dan ketika malaekat-malaekat lain timbul, ia berbohong dengan mengatakan ialah yang menciptakan mereka. Ia kemudian mendirikan gereja-gereja di setiap semesta sebagai alatnya untuk berkuasa. Namun, malaekat ini yang disebut ‘Sang Otoritas’ makin menua dan lemah dan menghadapi pemberontakan para malaekat dan manusia. Sekalipun Wertz sudah mengganti istilah gereja dalam novel dengan Magisterium, justru kata pengganti ini lebih khusus tertuju kepada gereja Katolik Roma yang memang disebut demikian.

Dust dalam trilogi ini menggambarkan Dust sebagai debu/partikel kesadaran yang sumbernya berasal dari dunia lain dan membentuk malaekat dan roh/jiwa manusia. Dalam serial terakhir, roh orang mati akan dibebaskan dari kehidupan sesudah mati, partikel-partikelnya akan terurai dan melebur kembali ke sumbernya di alam semesta. Jelas tema film ini berbau mistik dan New Age, karena dalam konsep mistik/new age dan juga gnostik, keselamatan adalah meleburnya roh manusia kembali kepada sumbernya alam semesta sama halnya dengan daging manusia yang kembali kepada debu ketika mati.

Film The Golden Compass memang menarik karena menggunakan tehnik sinematografi mutakhir dan menghadirkan bintang-bintang tenar seperti Nicole Kidman yang mantan isteri Tom Cruise, dan Daniel Craig pemeran James Bond terakhir, tetapi yang lebih dikuatirkan orang tua adalah bahwa berbeda dengan semangat anti katolik novel ‘The Da Vinci Code’ yang merupakan bacaan orang dewasa, novel ‘The Golden Compass’ yang juga anti katolik memang ditujukan untuk konsumsi anak-anak , anak-anak yang pada umumnya masih terbuka dan belum dibekali pengertian masalah baik dan buruk dan mana yang bermanfaat dan tidak, dan sekalipun filmnya sudah di’halus’kan tayangan atheismenya, anak-anak setelah nonton film demikian biasanya tertarik untuk membaca novelnya.

Melarang anak-anak menonton film dan membaca buku-buku Pullman tidaklah bijaksana karena larangan justru mendorong orang ingin tahu dan melihatnya, namun sebaliknya membiarkan anak-anak menonton dan membacanya juga tidak bijaksana karena kita menyerahkan anak-anak kepada sesuatu ajaran yang kita tahu bisa memperngaruhi iman mereka. Cara terbaik adalah memberikan bimbingan dan pengertian kepada anak-anak mengenai iman Kristen dan mengungkapkan bagaimana novel dan film ini bercerita sebaliknya, dengan sikap demikian kita dapat berusaha dan mendoakan agar anak-anak dan kita juga ‘dijauhkan dari yang jahat.’

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar