Mesin Pencarian

Senin, 05 Januari 2009

Menikah 3 Kali

Aku menikah sampai 3 kali karena saya membutuhkan seorang bapak bagi anak saya satu-satunya yang bernama Ruth. Saya dan suamiku mengadopsinya sejak dia bayi. Karena menurut pemeriksaan dokter, suamiku tidak mampu memberikan keturunan karena dia mengidap penyakit gula. Sebagai seorang wanita, saya membutuhkan belayan kasih dari seorang suami. Hal ini sudah saya utarakan kepada suamiku dan dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali merelakanku mencari hiburan dengan laki-laki lain yang sudah berkeluarga. Laki-laki temanku berkencan juga mengalami masalah yang sama dengan isterinya. Isterinya mengidap penyakit gula sama dengan penyakit suamiku. Sepertinya kami bisa saling mengisi kebutuhan kami masing-masing. Setelah berlangsung sekitar setengah tahun, hubungan backstreet kami menghadapi masalah. Penyakit suamiku semakin parah dan 3 bulan kemudian dia meninggal dunia. Kemudian 2 bulan berikutnya laki-laki temanku berkencan mengalami stroke dan meninggal dunia. Pada bulan berikutnya isterinya meninggal dunia juga. Bertubi-tubi kejadian ini menimpa hidup saya. Aku kehilangan akal sehat. Apapun akan kutempuh untuk menghidupi anakku Ruth. Untunglah aku diterima bekerja ditempat perusahaan suamiku sebelumnya sebagai sekretaris.

Hatiku sedikit lega, ada kegiatan yang membuatku cepat melupakan peristiwa yang menyakitkan itu. Hari berganti hari, aku berkenalan dengan seorang duda yang telah mempunyai 3 anak dan semarga dengan suamiku dulu. Singkat cerita,dia melamarku dan kami menikah secara resmi.


Semangat hidupku bangkit lagi dan kami tinggal bersama dirumah peninggalan suamiku.


Kehidupan rumahtangga kami berjalan normal dan tidak kurang suatu apapun,sebab gajiku masih sanggup menutupi kebutuhan pangan kami.

Sewaktu krisis moneter tahun 1988, suamiku tidak bekerja lagi dan beralih menjadi sopir Mikrolet. Saya sarankan agar dia menjual saja rumah peninggalan orangtuanya untuk dijadikan modal. Saya tidak sanggup menanggung beban sendirian. Dia tidak setuju,dan saat itu dia beralih pekerjaan menjadi sopir angkot. Setelah kejadian itu,dia banyak diam..mungkin stress memikirkan anak-anaknya yang masih butuh biaya sekolah.

Kalau buat makan,biarlah aku tanggung,kataku kepada suamiku,tetapi biaya sekolah putrimu kau cari sendirilah.


Yang membuatku kesal,tabungan anakku Ruth diambilnya semua dengan cara memecah celengannya. Dia tidak mengaku,padahal cuma dia dan putrinya dirumah.

Emosiku meledak,dan segera aku mengusir mereka dari rumah dan aku putuskan menceraikan dia saja. Saya tidak mengizinkan mereka tinggal di rumahku. Suami apaan tuh..tega-teganya mencuri tabungan anakku. Dia minta maaf,tetapi aku tidak mau lagi menerimanya. Silahkan keluar saja dari rumah ini,bentakku.

Setelah kami pisah rumah, saya berkenalan dengan seorang pelaut yang sudah bercerai dengan isterinya. Kami sepakat untuk menikah.


Tapi pihak gereja tidak mau memberkati,bila tidak ada surat cerai dari suamiku yang kedua.

Dengan berbagai cara, akhirnya dia mau membuat surat pernyataan cerai diatas materai. Aku menikah untuk ketiga kalinya, tetapi keluargaku menolak. Mereka mengatakan, aku ini wanita yang tidak normal, bikin malu keluarga. Mereka menjauh dan menyingkirkan saya.


Ini adalah kisah nyata hidupku sebagai seorang wanita yang disingkirkan, dicemoh oleh keluarga. Ini sudah pilihanku dan sebenarnya batinku tidak tenteram dengan kejadian diatas. Saya lakukan hal demikian, karena aku ingin dapat perlindungan dari seorang suami tetapi malah kebalikannya yang datang.


Suami yang kunikahi justeru membuat masalah,ringan tangan dan suka memukul. Aku salah kaprah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar