Mesin Pencarian

Minggu, 04 Januari 2009

Kasih Seorang Ibu

Mama saya tinggal dengan adik saya. Adik kami berusia 31 tahun. Beliau berusia 69 tahun ketika menerima Kristus dan di baptis. Kami anak-anaknya yang sudah menjadi katolik sejak remaja tidak pernah mempengaruhi mama untuk berpindah keyakinan.

Saat mendengar dari salah satu kakak saya (karena saya tinggal jauh diluar kota) bahwa Mama sudah dibaptis. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan. Sudah memanggil mama menjadi saksi Kristus. Tetapi apa yang terjadi beberapa tahun kemudian sungguh tidak kami bayangkan. Adik saya yang sangat beliau kasihi mulai terpengaruh oleh hal-hal buruk, obat-obatan dan kuasa-kuasa gelap. Dia bersikap buruk kepada mama saya dengan mengeluarkan kata-kata kotor, sumpah serapah apabila tidak diberi uang. Sering barang-barang dari tape recorder sampai sepeda motor digadaikan. Kami kakak-kakak masih support secara financial. Tapi itu berlangsung bertahun-tahun, mama saya hanya menangis dan mengadu kepada Yesus saja apabila hatinya sedang sedih. Beliau berkata diusia senja kenapa masih menanggung perasaan yang demikian. Tetapi beliau tetap setia berdoa dan selalu meluluskan permintaan adik kami dan melayani segala kebutuhannya dengan penuh kasih.

Puncak dari semua keburukan adik saya adalah saat mama saya diminta membelikan nasi pecel untuk sarapan dan setelah diberikan nasi pecel tersebut diremas-remas oleh adik saya di balurkan ke muka mamah saya. Pedih dan perih. Mungkin perihnya mata mama bisa dibilas dengan air tetapi hati nya yang perih hanya bisa disembuhkan oleh kasih Yesus. Beliau tetap menyayangi adik saya dan berusaha menyembunyikan semua hal-hal buruk kepada kami kakak-kakaknya. Hal berikutnya yang terjadi adalah saat adik saya mengambil sapu dan memukul-mukul punggung mama saya dan mengambil pecahan kaca di dapur dan ingin menghujamkan ke punggung mama saya. Dengan tergopoh-gopoh mama yang sudah sempoyongan menghindar dan menelpon kakak saya yang rumahnya beberapa blok dari rumah mereka dan datang menolong mama yang menangis dan gemetar. Bumi seperti runtuh; kami tidak percaya apa yang terjadi tapi Tuhan Yesus masih melindung mereka berdua. Setelah kejadian itu Akhirnya tanpa sepengetahuan adik saya kami meminta orang dari panti rehabilitasi menjemput adik saya secara paksa. Meskipun mama saya tidak setuju beliau hanya diam saja saat adik meronta dan berteriak. Dua hari kemudian adik saya kabur dari panti dengan jalan melompat tembok setinggi 2 - 3 meter dan kembali pulang dalam keadaan berdarah-darah karena kawat berduri dan pakaian compang-camping. Wajahnya pucat karena tidak makan selama 2 hari. Mama menangis dan memeluk adik saya dan memberikan perlindungan batin kepada adik saya. Setelah itu mama minta untuk tidak lagi dipisahkan dengan adik saya. Kasih yang mama berikan kepada adik kadang membuat kami iri. Sampai dengan saat ini kami masih bergumul dalam doa untuk kesembuhan adik kami dari kuasa gelap dan kekuatan untuk mama meski tidak tahu kapan.

Kadang mama hanya bertanya kepada kami, kapan ujian beliau selesai, karena ingin merasakan damai dimasa senjanya....Tuhan Yesus jangan pernah meninggalkan mama sendiri. Begitu doa kami selalu.. (diambil dari kisah nyata )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar