Mesin Pencarian

Senin, 05 Januari 2009

Satu-Satunya Saksi

Korea Utara


Saat ia datang perlahan, matanya tertuju ke asap. Ia berteriak mencari gembalanya, tetapi tak seorang pun menjawab. Karena ketakutan, ia segera mulai berusaha keluar dari tumpukan mayat dan reruntuhan.

Pagi itu, ia berada di antara sekelompok 190 orang percaya Korea Utara saat polisi menyerbu masuk, mengelilingi mereka, dan dengan kasar menggiring mereka ke pusat kota.

Pemimpin bangsa mereka, Kim Il-sung, berdiri di depan mereka. Diktator yang tak memiliki hati itu berjalan ke tengah-tengah lapangan dan menggambar sebuah garis di tanah, kemudian memerintahkan orang-orang yang ingin tetap hidup agar mengingkari Kristus dan melewati garis itu.

Tak seorang pun maju. Karena sangat marah, Kim Il-sung memerintahkan supaya kelompok itu dilemparkan ke dalam terowongan tambang disertai dinamit-dinamit.

Hal terakhir yang diingat oleh orang percaya yang selamat itu adalah gembalanya, yang menghibur dan memberi dorongan semangat kepada kelompok itu. Karena menyadari bahwa ia adalah satu-satunya yang selamat, ia menangis, "Mengapa Tuhan? Mengapa Engkau tidak membiarkanku mati bersama lainnya?"

Tuhan segera memenuhi hatinya dengan damai dan kemudian ia sadar bahwa seseorang harus tetap tinggal dan menjadi seorang saksi bagi iman mereka. Ini merupakan serangan brutal pertama kalinya dari beberapa lainnya yang dilakukan oleh bentuk komunisme dan pemujaan Kim Il-sung, yang dinamai Juche. Berita tentang kejadian heroik ini menyebar dengan cepat di antara umat Kristen dan masih diceritakan sampai hari ini di Korea Utara.

Seperti umat percaya dalam kisah ini, pemadam kebakaran yang selamat dari serangan teroris pada gedung World Trade Centre bukanlah saksi-saksi yang diam. Sekalipun mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka selamat dan rekan-rekan lainnya tidak, mereka merupakan para pejuang yang terus terang menyadari bahwa seseorang harus tetap tinggal untuk menceritakan kisah-kisah mereka yang meninggal karena menyelamatkan orang lain supaya orang lain tersebut dapat hidup.

Sebagai seorang Kristen, Anda bahkan memiliki orang yang selamat yang lebih besar daripada yang diceritakan oleh kisah tersebut. Yesus tidak selamat dari kayu salib. Ia menaklukkannya. Ia tidak hanya selamat dari penderitaan-Nya; Ia menang atasnya. Ia kembali dalam tubuh kebangkitan untuk menyampaikan berita kepada murid-murid-Nya yang kemudian menceritakan kejadian ini kepada dunia. Yesus mati menyelamatkan orang lain supaya mereka dapat hidup. Namun Ia hidup, bangkit dari kematian dan menawarkan keselamatan bagi dunia.

"Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa." (1 Timotius 1:15:)

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnesar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:16-18)


Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Devosi Total
Judul asli : Extreme Devotion
Judul artikel : Korea Utara: Satu-satunya Saksi
Penulis : The Voice of The Martyrs
Penerbit : KDP, Surabaya 2005
Halaman : 312

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar