Mesin Pencarian

Minggu, 04 Januari 2009

Bunyi Bel Pintu Di Hari Natal

Kliping koran itu sudah berwarna kuning seperti sebuah gulungan perkamen. Artikel yang sangat berharga ini sudah berumur lebih dari empat puluh tahun, ditulis oleh seorang laki-laki yang tinggal di sebuah kota kecil tempat saya dibesarkan. Artikel itu ditulis oleh SL Morgan Sr untuk buletin gereja, mengenang akan kedatangan dua orang tamu kecil:

"Sebuah Natal terbaik saya 'dinyalakan' oleh kunjungan dua anak perempuan kecil yang menekan bell rumah, dua minggu sebelum hari Natal dan memberikan dua buah kartu natal kecil buatan mereka sendiri. Apa yang mereka lakukan sejujurnya telah menghidupkan hikmah Natal dalam hidup saya. Kejadian itu begitu membekas dengan sangat indah di dalam hidup saya."

Saya adalah salah satu dari dua anak perempuan kecil itu.

Saya dan Claudia, sahabat saya, mulai menghitung hari-hari menjelang Natal, berharap menemukan mainan di bawah pohon cemara hias di hari Natal pagi. Kami sudah berumur delapan tahun dan semakin bijaksana. Kami tahu, Sinterklas mungkin tidak akan memberikan apa saja yang kami inginkan. Seperti orang tua kami yang selalu bekerja keras, menurut kami tahun ini Sinterklas juga menghadapi anggaran keuangan yang ketat.

Claudia menunjukkan sebuah majalah mengenai penjualan kartu natal yang bisa memenangkan sebuah sepeda yang mengkilap dan hadiah-hadiah menarik lainnya. Terinspirasi oleh kesaksian anak-anak yang sudah menjual ribuan kartu natal, kami berharap bisa mengumpulkan uang untuk membeli mainan dan hadiah Natal. Kami menghabiskan waktu sepanjang hari Sabtu, bekerja dengan krayon, gunting, lem, dan kertas-kertas berwarna untuk mendesain kartu natal dengan harapan bisa menghasilkan kekayaan yang tak ternilai.

Tetapi saat mengetahui rencana kami untuk berjualan kartu Natal, ibu melarang kami. Sebaliknya ibu meminta agar kami untuk membagikannya ke semua orang dengan gratis. (Ibu saya berasal dari wilayah selatan yang sangat sopan, pasti malu saat mengetahui rencana anaknya untuk menjajakan katu Natal buatan sendiri dari rumah ke rumah). Saya dan Claudia dengan enggan menuruti permintaan ibu.

Sepanjang sore kami membunyikan banyak bel pintu rumah, membagikan satu-persatu kartu natal ke setiap orang yang kami rasa memerlukan perhatian pada Natal ini. Kami juga menekan bel pintu rumah Pak Morgan, dan tanpa basa-basi kami memberikan kartu buatan sendiri tersebut ke orang tua dengan rambut putih. Guratan-guratan di wajah orang tua itu berubah menjadi sebuah senyum saat dia membaca tulisan kami yang tidak rapi: "Selamat Natal! Kami menyayangi anda."

"Terima kasih anak-anak," katanya. "Ini adalah katu Natal yang paling indah yang pernah bapak terima."

Kami berpikir bahwa itu hanya sekedar basa-basi, karena kartu Natal yang dijual di toko dengan pita emas beserta seluruh hiasannya jauh lebih indah daripada yang kami buat. Tetapi pendapat itu lenyap saat saya membaca artikel yang ditulis oleh orang tua itu beberapa tahun kemudian dan saya baru menyadari betapa berartinya tindakan sederhana yang telah kami lakukan - ternyata bisa membangkitkan semangatnya.

Setelah kunjungan kami, Pak Morgan kemudian menulis, bahwa dia "mulai memberitahu para tetangganya, yang sedang bersungut-sungut atau bersedih, supaya 'mendengarkan bunyi sukacita dari bel pintu rumah' ". Dia mendesak para pembaca supaya "memenuhi kotak surat dengan ribuan kartu yang berisi ucapan pribadi." Bertahun-tahun kemudian Pak Morgan meneruskan tradisi Nartal untuk mengirimkan ucapan 'kasih sayang' kepada para teman dan kenalan di seluruh dunia: "Saya yakin telah mengumpulkan banyak persahabatan yang langgeng selama bertahun-tahun hanya dengan sebuah kartu ucapan 'kasih sayang' yang dikirimkan sekali setahun," tulisnya. "Tidak ada yang bisa memberikan yang lebih baik dari hal itu."

Saya sangat berterima kasih kepada ibu, karena saya telah menuai buahnya selama bertahun-tahun setelahnya. Kliping koran di dalam kotak mengingatkan tentang sukacita yang kami rasakan saat saya dan Claudia menekan bel pintu rumah para tetangga di sore hari yang dingin saat itu. Saya ingat semua senyum di wajah dari orang-orang yang kami sapa dan ucapan berpisah yang mengalun seperti bunyi genta di udara yang beku saat kami meninggalkan mereka yang masih mematung berdiri di depan pintu, bahagia diliputi rasa haru.

Beberapa tahun lalu, saya mengirimkan fotocopy dari artikel Pak Morgan ke Claudia. Saya mengikuti contoh Pak Morgan untuk menulis sebuah pesan pribadi di sebuah kartu, memberitahu Claudia betapa persahabatan saat kecil sangat berarti bagi saya, dan bagaimana ingatan tentang tahun-tahun yang penuh kegembiraan dan kasih itu senantiasa muncul kembali.

Gaung dari peristiwa di sore itu terus menabuh bunyi lonceng kebenaran selama bertahun-tahun setelahnya, seperti bel pintu yang kami nyalakan ketika masih anak-anak di sore yang dingin bulan Desember.

(Oleh Elizabeth Copeland)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar