Mesin Pencarian

Minggu, 04 Januari 2009

Kesaksian Ketut Sri Agustini

“Saat Saya Menerima Tuhan Yesus Secara Pribadi”

Nama saya Ni Luh Ketut Sri Agustini, saya lahir di Denpasar dan dibesarkan dilingkungan keluarga Hindu, dengan adat-istiadat kental bernuasa Bali. Satu lingkungan keluarga besar beragama Hindu tidak ada satupun yang Kristen. Sungguh luar biasa saat Tuhan menjamah hati dan kehidupan saya, ini berawal saat saya bekerja di salah satu perusahaan swasta tepatnya di PT.Trimegah cabang Bali dimana ada beberapa teman saya yang beragama Kristen, di lingkungan kerja saya seperti kebiasaan saya di rumah, saya sangat rajin memanten (menghaturkan sesaji) disetiap sudut ruangan dan di depan komputer. Saat teman saya yang beragama Kristen menanyakan manfaat menghaturkan sesaji, terjadi Tanya jawab yang seru saya dengan bangga menjelaskan kelebihan kita sebagai umat Hindu, dimana Tanya jawab yang awalnya santai tapi pada akhirnya berakhir dengan perdebatan, saling membanggakan agama masing-masing.

Tapi setelah terjadi perdebatan itu saya semakin rajin memperdalam agama saya, saya mulai membeli kitab Weda, saya baca, saya bermaksud agar bisa berdebat lagi, tapi semakin saya pelajari semakin saya tidak menemukan Tuhan, sampai suatu saat saya berpikir, katanya Tuhan itu satu, Tuhan Yang Maha Esa, tapi kenapa ada Tuhan orang Hindu, Tuhan orang Islam, Kristen, Budha dll. Satu saat saya bertanya dengan teman teman yang berbeda agama yang akhirnya pada kesimpulannya “sudahlah jangan diperdebatkan masalah agama yang pasti Tuhan itu satu Tuhan Yang Maha Esa, hanya cara kita aja yang berbeda-beda menyembahNya” titik. Saya tidak puas dengan jawaban itu saya terus memcari siapa sebenarnya Tuhan itu, Tuhan yang mana yang benar?

Didalam masa pencarian siapa Tuhan, saya memdapat suatu keajaiban, saat saya mau berangkat kerja, saya masuk ke dalam mobil tapi tiba-tiba saya merasa sangat aneh, saya merasa ada seseorang disamping saya, padahal saya hanya seorang diri, saya penasaran saya periksa ke jok belakang saya pikir jangan-jangan ada pencuri semalam yang menyelinap di mobil saya, tapi tetap saya tidak menemukan siapapun. Sampai saya di kantor, perasaan ada seseorang duduk di jok samping saya menyetir semakin terasa sampai akhirnya saya menoleh lagi ke samping dimana saya kaget, kok, dibawah jok mobil saya ada sesuatu yang bersinar apakah itu? Tanya saya dalam hati, saya mendekatkan kepala saya ke arah sinar itu dan ternyata sebuah foto berukuran 3x4, saya ambil foto itu dan saya perhatikan foto itu, dimana gambar yang ada di foto itu matanya begitu teduh langsung menusuk ke dalam hati saya, saya bertanya , Foto siapa kah ini, mataNya begitu Teduh saya merasakan kedamaian ada pada-Nya. Dan saya sama sekali tidak tahu kalo foto itu adalah foto Tuhan Yesus karena dari kecil sampai saya bekerja saya tidak pernah melihat foto Tuhan Yesus. Kemudian foto itu saya bawa masuk ke kantor saya langsung bertanya kepada teman-teman, eh saya menemukan foto ini di jok mobil, trus teman saya langsung menjawab eh itu kan foto Tuhan Yesus, sri, oooooo ini foto Tuhan Yesus ya ….saya balik menjawab, Dan temen saya yang saya ajak berdebat itu langsung menyahut, ‘eh sri kalo Tuhan sudah memanggil dan memilih kamu, kamu tidak akan bisa lari’ dengan marah saya menjawab “Enak aja emangnya gue gak punya tuhan?? Aku juga punya tuhan tahu” saya menjawab dengan ketus dan mengeraskan hati saya. Tapi foto Tuhan Yesus tetap saya simpan setiap kali saya memandangnya saya merasa damai.

Saya semakin binggung dan lelah belajar dan mencari-cari Tuhan yang sebenarnya, sampai suatu malam saya menonton sebuah acara rohani di TV “Solusi”, dari situ akhirnya saya meniru cara berdoanya, entah kenapa untuk pertama kalinya saya berdoa dalam nama Yesus, doa saya begini, “Tuhan Yesus, jika saya ini layak menjadi pengikutmu,tunjukan saya kebenaran,,tapi jika saya tidak layak jadi pengikutmu kembalikan saya dengan tuhan saya yang dulu agar saya tidak bermasalah dengan keluarga saya, saya lelah Tuhan’’……..Selesai mengucapkan doa itu tiba-tiba ada suatu yang mengalir dalam jiwa saya, saya merasakan suatu suka cita dan damai sekali, yang belum pernah saya rasakan, Saya merasa Tuhan Yesus hadir memenuhi jiwa saya, saya langsung menanggis tersungkur di tempat tidur saya , saya bilang terima kasih Tuhan, Engkau telah membuka hati saya sehingga saya bisa merasakan kehadiranMu, saya tiba-tiba mengerti apa yang telah saya dengar dan perdebatkan dengan teman saya di kantor, Tuhan telah memberikan kepada saya kebenaran, menyatakan diri-Nya siapa Tuhan sesungguhnya. Saat malam itu juga secara pribadi saya menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat saya secara pribadi, hanya saya dan Tuhan yang tahu malam itu menjadi sangat indah dalam hidup saya.

Kini saya mulai mempelajari Alkitab, singkat cerita saya memberanikan mengatakan kepada teman-teman saya ingin lebih mengenal Tuhan Yesus, dan mereka sangat mendukung saya, ada yang memberi saya Alkitab, renungan harian dan cara membaca Alkitab dan renungan harian, dan Mereka bilang sebelum membaca firman Tuhan berdoalah dulu biar Roh Kudus yang memimpin kita dalam memahami firmanNya, dan saya mulai rajin membaca firman Tuhan dan setiap pagi saya selalu saat teduh bersama Tuhan, tapi saya melakukan semua itu secara sembunyi-sembunyi takut kalau oranga tua saya tahu, Alkitab saya selalu taruh di dalam tas saya, tapi pada akhirnya orang tua saya mengetahuinya mereka sangat marah sekali, bapak saya bilang begini, “kalo kamu ingin memperdalami agamamu jangan bertanya kepada orang yang beragama lain jelas mereka ga ngerti,kalo kamu mau belajar agama Hindu, kalo kamu mau ke India silakan bapak biayai kamu ke sana’’ dan ibu saya saat itu juga sangat marah…Ibu saya bilang gini “sri kalo sampai kamu pindah agama, lebih baik ibu sama bapak mati aja, ibu malu dengan keluarga besar, bapak sama ibu gagal mendidik kamu, ibu mau mati saja” mendengar itu hati saya sangat sedih sekali, dimana saya baru memulai untuk belajar lebih dekat dengan Tuhan sudah ada cobaan seperti ini, akhirnya saya bersepakat dengan orang tua saya, saya tidak akan belajar agama Kristen lagi, untuk menenangkan hati mereka. Semakin di kekang semakin diawasi, saya semakin tidak bisa berpaling dari Tuhan Yesus. Walau dengan sembunyi-sembunyi, Alkitab dan renungan saya taruh di kantor dan saya membacanya di kantor, saya juga banyak belajar dari internet, membuka situs-situs rohani, dari kaset-kaset, saya merasa Tuhan sangat membimbing saya dalam proses belajar saya, apa yang ingin saya pelajari Tuhan selalu menyediakan, apa yang ingin saya tahu dan mengerti Tuhan menjawabnya, tetap dengan sembunyi-sembunyi. Saya masih tetap ke Pura, saya masih tetap mebanten saat melakukan semua itu saya selalu minta ampun sama Tuhan, Tuhan Yesus saya melakukan semua ini hanya untuk menunjukan di depan orang tua dan keluarga saya aja, bukan berarti saya menyembah iblis atau menduakan Tuhan, kadang sesaji itu saya taruh seenaknya saja kadang jika tidak ada keluarga yang melihat saya buang sesaji itu ke tong sampah, saya terus memohon kepada agar Tuhan memberikan saya kekuatan dan keberanian untuk berterus terang kepada orang tua dan keluarga saya. Ke Gereja pun saya sembunyi-sembunyi, alasan saya olah raga pagi, saya pakai pakaian olah raga dan sepatu olah raga, tapi dekat Gereja saya ganti sepatu dengan sandal, saya masih ingat saat ganti sepatu di jalan dekat gereja saya digonggong anjing (saya tidak ganti di gereja karena saat itu saya tidak kenal siapa-siapa di Gereja) dan saya ke Gereja memakai pakaian olah raga, saat itu saya sendiri tidak ada teman yang saya kenal di Gereja, saya berpikir, saya ke Gereja untuk mencari Tuhan dan bukan untuk memamerkan pakaian. Saya tidak peduli dengan pakaian yang saya pakai saya begitu rindu dan sungguh-sungguh ingin mengenal Tuhan, saya masuk ke gereja GKPB (Gereja Kriten Protestan di Bali) karena menurut teman kantor saya kalo GKPB banyak orang Bali nya, pendetanya aja orang Bali, banyak yang pergumulannya seperti saya. Hingga pada akhirnya saya memberanikan diri bertemu dengan pendeta di gereja itu Bpk pendeta Putu Widiarsana, hingga akhirnya kami banyak sering dan akhirnya saya ikut katekisasi. Pak pendeta memberikan saya buku katekisasi yang berjudul Jalan Keselamatan dimana buku itu persis seperti buku yang saya mimpikan, dimana saya mencari kemana-mana tidak ketemu eh akhirnya buku itu diberikan kepada saya.

Saat pelajaran dirasa cukup sama Tuhan, kini tiba saatnya Tuhan memberi saya ayat-ayat yang keras, dimana saya selalu dituntun untuk membaca ayat-ayat yang intinya, jika sesorang mau mengikuti Tuhan tapi masih menoleh ke belakang melihat orang tuanya dia tidak layak bagi Ku. Ayat itu selalu tergiang di telinga saya, kemana pun saya pergi, apapun saya lakukan Tuhan selalu mengingatkan saya, “Sri…kamu lebih memilih Aku, Tuhan mu apa orang tua mu?” suara itu selalu terngiang di telinga saya, terlebih saat saya mebanten atau pergi ke Pura bersama keluarga saya. Hati saya semakin bergolak, menjerit, Tuhan berikan saya keberanian, berikan saya kekuatan, luaskan Roh Mu bekerja dalam hati saya, akhir nya saya semakin dikuatkan, saya harus mengambil sikap, saya harus mengambil keputusan apapun yang terjadi saya akan tetap memilih Tuhan Yesus, saya percaya Tuhan tidak akan membiarkan saya berjuang sendiri.

Pada suatu hari saya bilang kepada ibu saya,”Bu saya tidak mau mebanten lagi, saya tidak mau ke pura lagi karena saya tidak bisa berpaling dari Tuhan Yesus, saya ingin menjadi pengikutNya, saya merasa damai saat mengenal Tuhan Yesus”. Mendengar semua itu ibu saya langsung menangis, dia langsung memberitahu kakak-kakak saya dan beberapa keluarga, mereka sangat kaget sekali. Dan tanpa sepengetahuan saya, mereka pergi ke dukun untuk memutuskan ikatan saya dengan Tuhan saya, katanya dukun itu biasa menangani masalah seperti ini dan sering berhasil mengembalikan kepercayaan mereka ke Hindu lagi.

Dan menurut kakak saya, dukun itu bilang begini,’’ dukun itu melihat sinar terang di kepala saya, Yesus memang memanggil saya, tapi dukun itu bilang dia bisa memutuskan ikatan itu, dan saya disuruh ke sana minta ampun dan membawa roti dan anggur” saya kaget sekali karena saya harus pergi ke dukun itu bersama kakak,ibu dan beberapa kerabat dekat. Saya bilang kepada keluarga saya, kalo saya tidak boleh pergi ke tempat seperti itu, dalam ajaran agama Kristen kita tidak boleh pergi ke dukun, saya bilang begitu, tapi mereka bilang begini, jika dengan pergi ke dukun tapi kamu tetap tidak terpengaruh, dalam artian kami tidak bisa mempengaruhi kamu untuk kembali ke agama yang dulu, maka kamu boleh ke Gereja, mereka sangat yakin bisa mengembalikan saya ke agama saya yang dulu. Ok kalo persyaratannya begitu saya menyetujui, karena saya yakin Tuhan Yesus tidak akan membiarkan saya berjuang sendirian, karena sebelumnya saya bermimpin, saya dipaksa oleh keluarga saya untuk berdoa secara Hindu kami menaiki tangga putih dan saya bertanya kepada Tuhan, Tuhan apa yang saya harus lakukan dan Tuhan menjawab dengan Tegas, “DOA DALAM NAMU KU!!!!” dan persis seperti mimpi saya, di tempat dukun itu kami menaiki tangga yang berwarna putih ke tempat pemujaan mereka dan saya selalu ingat yang dikatakan Tuhan, Doa dalam Nama Tuhan Yesus, dalam hati saya , saya terus berdoa, Tuhan Tolong saya, Tuhan berikan kekuatan pada saya,….dan ternyata dukun itu tidak sendiri, dia bersama istrinya mengucapkan mantra-mantra, di tempat pemujaan mereka yang banyak patung-patung nya. Kami duduk berhadap-hadapan, dukun yang satunya sibuk membacakan mantra-mantra dan dukun yang satunya terus berusaha mempengaruhi saya, mereka bilang jika saya berpaling dari agama saya yang dulu saya akan celaka, keluarga saya akan hancur, saya yang akan menanggu akibatnya, mendengar itu keluarga saya yang ikut mengantar saya menangis semua, mereka ketakutan sekali, Tapi dengan jelas dan tegas saya bilang ke mereka dan ke dukun itu “ saya tetap yakin pada Tuhan yang saya sembah, Tuhan Yesus, dan jika saat ini sekali pun otak saya di operasi saya tidak akan berubah” dukun itu sangat kaget mendengarnya, dan dukun itu menjadi geram dan dia menantang saya dia bilang begini “eh sri kamu begitu yakin dengan Tuhan kamu Yesus, kalo kamu begitu yakin hadirkan Dia di sini, karena saya, kata dukun itu, saya bisa menghadirkan apa yang saya sembah, saya bisa menghadirkannya di sini kata dukun itu” mendapat tantangan dari dukun itu saya hanya menjawab, pak saya tidak perlu menguji Tuhan Yesus seperti itu, dia cukup hadir di dalam hati saya, dan saya juga ingin Tuhan Yesus menjamah hati pak dukun juga.

Singkat cerita dukun itu tidak mampu mempengaruhi saya, kami di sana sampai jam 11 malam dan akhirnya kami pulang kerumah, dan saya berpikir saatnya saya boleh ke Gereja karena saya tidak terpengaruh seperti janji kakak saya. Tapi apa yang terjadi, ibu saya tiba-tiba menangis di kamar saya, ibu saya sampai muntah-muntah. Ibu mau mati saja kalo begini jadinya kalo kamu tetap pindah agama ibu mati saja, saya sangat sedih sekali, saya diam-diam sms ke bapak pendenta agar saya dikuatkan, ibu saya terus menangis sampai pagi, semalaman kami tidak tidur dan keesokan harinya saya pagi-pagi didatangi oleh om saya, yang ingin mengingatkan saya, saya dan om terlibat perdebatan. Dengan tubuh dan pikiran yang sangat lelah hari itu saya pergi juga kekantor, dikantor saya hanya bisa menangis dan berbagi cerita dengan teman-teman seiman di kantor saya. Pada saat yang melelahkan itu saya mendapat suatu artikel dan membaca buku yang sangat menguatkan saya, yang intinya, Aku Tuhanmu akan membaptis kamu dengan api untuk memurnikan imanmu, dan saat saya telpon bapak pendeta saya beliau juga memberikan saya semangat , ingat sri, masa ini masa pra paskah penderitaan Tuhan Yesus tidak sebanding dengan penderitaan kita, penderitaan kita tidak sampai mencucurkan darah, seperti Tuhan,. Setelah diingatkan itu saya berpikir, oh iya ya…penderitaan saya tidak seberapa dibanding penderitaan Tuhan Yesus. Saya yakin Tuhan sedang membentuk saya, memurnikan iman saya.

Saat kembali kerumah, ibu saya masih saja sedih, dia selalu saja berkeluh kesah, ibu malu sekali dengan keluarga besar, ibu tidak berhasil mendidik kamu, terus saya bilang begini ke ibu saya, bu ibu telah berhasil mendidik saya, sampai sekarang saya telah bekerja, tapi masalah kepercayaan itu sangat pribadi sekali tidak bisa dipaksakan, kalo ibu malu dengan keluarga besar, kalo saya Kristen, sebaiknya saya pergi saja dari Bali, bilang ke keluarga besar kalo saya dipindah tugas kan ke luar Bali, supaya ibu tidak malu, percaya sama saya bu saya bisa mengurus diri saya sendiri dan saya percaya Tuhan akan memelihara saya. Saat saya mengambil keputusan untuk pergi dari Bali, saya bilang dalam hati, Tuhan saya siap untuk pergi, saya siap kehilangan keluarga, saya siap kehilangan pekerjaan, saya siap kehilangan semuanya asalkan saja saya bisa menjadi pengikutMu, Tekat saya begitu bulat, mantap, walaupun di sana saya menjadi pembantu rumah tangga sekalipun saya hanya makan nasi putih saja tidak jadi masalah asalkan saya tidak sembunyi-sembunyi seperti ini, saya ingin dibaptis, saya ingin ke gereja, saya ingin menjadi saksi kemuliaan Mu tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti ini, saya benar-benar siap.

Dan Tuhan jauh melihat ke dalam hati kita. Tuhan melihat ketulusan hati dan kesungguhan saya. Saat akan berpamitan ke pendeta saya, beliau menyarankan saya agar tidak pergi dari Bali, alangkah bagusnya kalo saya bisa bertahan dalam situasi apapun, ibaratnya bunga mawar yang tumbuh dilumpur sekalipun namun tetap harum Kemudian pak pendetanya memberikan solusi, sri kamu doa minta jodoh saja sama Tuhan, tapi saya bilang ke pak pendeta, dari pada doa minta jodoh lebih baik saya doa agar orang tua saya bertobat dan menerima Tuhan Yesus. Saya tidak mau mencari gampangnya menikah dengan orang Kristen untuk menjadi Kristen tapi saya memang ingin benar-benar bertobat secara pribadi bukan karena pernikahan. Pak pendetanya menjawab, “saat ini apapun yang kamu lakukan pasti dianggap salah, kecuali saat kamu sudah nikah,kamu bisa bersaksi lewat kehidupan rumah tangga kamu, “ saya pikir-pikir bener juga kata pak pendeta, dan akan saya pertimbangkan.

Setelah menyelesaikan katekisasi, saya semakin mantap dengan keyakinan saya dan pada tanggal 8 Juni 2003 saya memberi diri saya di Baptis dihadapan Tuhan dan jemaat kristus kasih gereja GKPB, namun keluarga saya tidak ada yang tahu kalo saya sudah di Baptis. Lambat laun hubungan saya dengan ibu semakin membaik, karena ibu saya takut kalo saya pergi dari Bali. Bahkan ibu tidak pernah menyuruh saya sembahyang menurut Hindu lagi, ibu saya berkata, seandainya saya mendapatkan jodoh orang yang beragama Kristen, beban ibu akan berkurang, ibu bisa bilang ke keluarga besar kalo saya ikut suami. Dan saya bilang ke ibu saya, kita berdoa saja Bu, Tuhan Yesus pasti akan memberikan yang terbaik buat saya, indah pada waktunya.

Akhirnya saya mulai berdoa pada Tuhan untuk meminta jodoh, “Tuhan, persiapkan hambamu ini, persiapkan calon suami yang akan Tuhan pilihkan buat saya, dimanapun dia berada dan kalo kami sudah sama-sama siap pertemukanlah kami Tuhan, tapi kalo kami sama-sama belum siap kiranya jangan pertemukan kami dulu tapi bimbinglah dan ajari kami dulu untuk mempersiapkan diri kami masing-masing agar kami bisa membentuk rumah tangga yang Takut akan Engkau, amin”. Dan Tuhan menjawab begitu cepat, melalui bapak pendeta, kami di pertemukan di gereja, dan ternyata itu teman kuliah saya dulu, dan memang kami masing-masing lagi bergumul dengan pasangan kami masing-masing. Begitu cepatnya perkenalan ini, dan keluarga kami masing-masing sudah bisa menerima kami, bahkan dari pihak keluarga yang menyuruh agar kami cepat-cepat menikah. Dan pada bulan Agustus 2003 kami sepakat mengikuti konseling pra nikah selama 3 bulan dan akhirnya atas kehendak Tuhan kami menikah pada tanggal 6 Desember 2003 (6 bulan dari saat di Baptis) Dan kasih Tuhan semakin kami rasakan Tuhan memberikan berkat-berkatnya yang melimpah, pada tgl 16 Juni 2005 Tuhan memberikan kami seorang Putra yang kami beri nama Alment Karunia Ardestya (Alment = Allah menyertai) dan pada tgl 10 Juli 2005 Tuhan juga memberikan kami sebuah rumah yang indah bagi kami, rumah doa bagi kami, dan persekutuan doa kami. Iman kami selalu diperbaharui oleh Tuhan dan setiap hari jumat kami selalu perkumpul dengan teman-teman di persekutuan doa kami, memuji dan memuliakan Tuhan dan mendengar firman Tuhan. Kami belajar bersama-sama, dan kami di pimpin oleh seorang hampa Tuhan, pak Max, melalui beliau kami banyak belajar tentang buah-buah doa dan rahasia-rahasia kemulian Tuhan.

Dan kini telah hampir setahun pula Tuhan telah mempercayakan saya sebagai branch manager di perusahaan tempat saya bekerja, ini pun melalui doa dan pergumulan, dimana sebelumnya tugas ini saya hindari, saya tidak mau berdoa meminta jabatan ini, karena secara manusia tugas ini terlalu berat bagi saya, mana buah hati kami Alment masih kecil yang saat itu baru lahir. Dan saya di ingatkan kembali oleh Tuhan, bahwa setiap orang punya tugasnya masing-masing, ada yang sebagai hamba Tuhan, sebagai pendoa dan ada yang sebagai pekerja, dan Tuhan memberika tugas dan tanggung jawab saya ini untuk kemuliaan Tuhan juga, Seberat apapun Tuhan dan tanggung jawab kita asalkan kita berserah kepada Tuhan, semua beban itu akan Tuhan angkat. dan saya juga diingatkan melalui pekerjaan ini agar saya juga menjadi berkat bagi orang lain, saya terus diingatkan saya bekerja bukan untuk diri saya sendiri, tapi saya bekerja mengeban tugas dan tanggung jawab dari Tuhan, Tuhan memberkati saya agar saya juga menjadi berkat bagi orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar