Mesin Pencarian

Rabu, 07 Januari 2009

Hak Yahudi Atas Tanah Israel

http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/History/The_Jewish_Claim_To_The_Land_Of_Israel.html

Banyak orang salah kaprah dgn mengatakan bahwa orang-orang Yahudi dipaksa keluar dari tanah mereka oleh tentara Romawi setelah Kuil Kedua mereka di Yerusalem dihancurkan tahun 70 M. Lalu menurut pengertian sejarah salah kaprah ini; 1.800 tahun kemudian, tiba-tiba orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan menuntut kembali tanah airnya. Faktanya adalah: orang-orang Yahudi tetap mempertahankan tanah air mereka selama 3.700 tahun. Bahasa nasional dan kebudayaan khas Yahudi tetap bertahan di wilayah itu.

Yahudi menganggap Israel sebagai tanah airnya berdasarkan empat hal:
1. Tuhan sendiri yang menjanjikan tanah warisan ini kepada Abraham
2. Orang-orang Yahudi tetap hidup disitu dan merawat daerah itu
3. Pemberian kedaulatan penuh oleh PBB kepada Yahudi di Palestina
4. Penguasaan daerah berdasarkan perang bela diri.

Istilah “Palestina” dipercaya diambil dari kata Filistine, yakni merujuk pada orang-orang Aegea yang pada abad 12 SM tinggal di tepi Mediterania yang sekarang dikenal sebagai Israel dan Jalur Gaza. Abad 2M, setelah menghancurkan pemberontakan Yahudi, Pemerintah Romawi untuk pertama kalinya memberi nama Palestina pada tanah Yudea (bagian selatan Israel yang sekarang dikenal sebagai Tepi Barat) dalam usaha untuk menciutkan identitas Yahudi dengan tanah Israel. Kata Arab “Filastin” diambil dari nama Latin ini.

Sejak th 1000 SM, ke-12 suku Israel sudah membentuk kerajaan pertama di Palestina. Raja kedua, yakni David, menentukan Yerusalem sebagai ibu kota. Meskipun akhirnya Palestina pecah jadi dua kerajaan, kemerdekaan orang Yahudi tetap berlangsung sampai 212 tahun. Jangka waktu ini hampir sama dengan lamanya kemerdekaan Amerika Serikat sekarang.

Bahkan setelah dihancurkannya Kuil Kedua di Yerusalem dan saat awal pengasingan, orang-orang Yahudi tetap hidup di Palestina dan beranak-pinak. Abad ke 9M, terdapat masyarakat Yahudi dalam jumlah besar di Yerusalem dan Tiberias. Abad ke 11M, masyarakat Yahudi berkembang di Rafah, Gaza, Ashkelon, Jaffa dan Caesarea.

Abad ke 12, banyak orang Yahudi dibantai oleh para tentara Perang Salib, tapi mereka dapat berkembang lagi dalam dua abad selanjutnya dengan datangnya para rabi dan peziarah Yahudi dalam jumlah besar ke Yerusalem dan Galilea. Para rabi terkemuka membentuk masyarakat Yahudi di Safed, Yerusalem dan di daerah lain selama 300 tahun berikutnya. Awal abad ke 19 sebelum kelahiran gerakan Zionist modern, lebih dari 10.000 orang Yahudi telah hidup di daerah yang sekarang dikenal sebagai Israel.

Ketika orang-orang Yahudi mulai berdatangan ke Palestina dalam jumlah besar di tahun 1882, kurang dari 250.000 Arab hidup di sana, dan kebanyakan dari mereka datang dalam dekade akhir. Palestina tidak pernah jadi suatu negara Arab yang berdaulat, meskipun perlahan-lahan bahasa Arab jadi bahasa yang paling banyak digunakan setelah penyerangan Muslim di abad ke tujuh.
Tidak pernah ada negara Arab atau Palestina yang berdaulat di Palestina.

Ahli sejarah Arab terkemuka AS, Prof. Phillip Hitti dari Universitas Princeton, membuat pengakuan di depan Anglo-American Committee di tahun 1946, dengan mengatakan: “Tidak pernah ada “Palestina” dalam sejarah, sama sekali tidak.” Memang, Palestina juga tidak pernah ditulis dengan tegas dalam Qur’an, yang disebut adalah “tanah suci” (al-Arad al-Muqaddash).

Sebelum adanya pembagian daerah, orang-orang Arab Palestina tidak melihat diri mereka punya identitas yang terpisah. Tapi ketika First Congress of Muslim-Christian Associations bertemu di Yerusalem di bulan Februari 1919 untuk memilih wakil-orang Palestina untuk Konferensi Perdamaian Paris, pernyataan berikut diumumkan: Kami merasa Palestina adalah bagian dari Syria Arab, karena bagian ini tidak pernah terpisah dari Syria dalam waktu kapanpun. Kami berhubungan dengan Syria secara kenegaraan, agama, bahasa, ekonomi dan ikatan daerah.

Tahun 1937, pemimpin Arab setempat, Auni Bey Abdul-Hadi, menyatakan Peel Commission yang pada prinsipnya menuntut bagian Palestina: “Tidak ada negara (Palestina)! Kata ‘Palestina’ itu diciptakan oleh Zionist! Tidak ada kata Palestina dalam Alkitab.
Tanah air kami sejak berabad-abad merupakan bagian dari Syria.”

Wakil Arab Higher Committee untuk PBB mengajukan pernyataan di General Assembly di bulan May 1947 yang menyatakan bahwa “Palestina merupakan bagian dari Propinsi Syria” dan karenanya,” secara politis, orang-orang Arab Palestina tidak terpisah dari Syria dan tidak bisa membentuk kesatuan politis yang terpisah dari Syria.”

Beberapa tahun kemudian, Ahmed Shuqeiri, yang lalu jadi ketua PLO, mengatakan pada Security Council: “Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Palestina adalah bagian selatan Syria.”

Nasionalisme Arab Palestina kebanyakan muncul setelah Perang Dunia I. Tapi ini tidak jadi gerakan politik yang bermakna sampai terjadi Perang Enam Hari di tahun 1967 dan Israel menguasai Tepi Barat.

“Surat Tanda Lahir” Israel secara internasional disahkan oleh janji Tuhan dalam Alkitab; masyarakat Yahudi yang tinggal terus menerus di Israel sejak jaman Yoshua sampai saat ini; Deklarasi Balfour di tahun 1817; Mandat Liga Bangsa-Bangsa, yang berhubungan dengan Deklarasi Balfour; partition resolution PBB tahun1947; diterimanya Israel di PBB tahun 1949; pengakuan atas negara Israel oleh sebagian besar dunia; dan yang terpenting dari semuanya, masyarakat yang diciptakan oleh orang-orang Israel selama berpuluh-puluh tahun berkembang menjadi suatu negara yang dinamis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar