Mesin Pencarian

Sabtu, 03 Januari 2009

Kisah Viktor Brannstorm

Misionaris Bagi China (Meninggal 1944)

Kami menerima sebuah catatan dari seorang sponsor, ditulis di atas amplop pemberian bagi pelayanan kami. Pada baris kalimat: “Ayahku mati di China sebagai martir pada tahun 1944.” Ketika kami menghubungi Wasthi B. Cushman, ia menceritakan kepada kami kisah keluarganya:

Kedua orang tuaku, Viktor dan Sonja Brannstorm, diutus oleh Gereja Smyrna di Swedia untuk melayani di China. Setelah hampir 10 tahun di China di tahun-tahun terakhir (selama Perang Dunia II) situasi memburuk, dengan adanya Laskar Merah berpatroli ke seluruh daerah dan menembak orang-orang yang mereka anggap pantas. Tidak ada batu bara untuk menghangatkan ruangan atau memasak. ‘Kami pindah ke Chao Chow, tetapi ayahku tetap mengajar dan berkhotbah di Ning Tsin, dengan menggunakan sepedanya ia bepergian. Pada musim panas tahun 1944 situasinya sangat gawat, dan hampir seluruh misionaris meninggalkan daerah misinya menuju gunung atau lautan untuk mencari bantuan. Pada tanggal 30 Juli, ayahku membawakan suatu khotbat yang menarik bagi jemaatnya berjudul “Kota Baru” berdasarkan Kitab Wahyu. Ketika ia dalam perjalanan kembali ke Chao Chow, ia dihentikan kurang lebih 5.5km dari pintu kota oleh sepasukan Laskar Merah. Ketika ia berusaha menjelaskan kepada mereka siapa dia, ia ditembak. Pasukan tersebut mengambil sepeda dan jam tangannya. Ia berusia 42 tahun saat itu.’

Pada saat upacara pemakaman, ibu Wasthi, Sonja, berkata keada anak-anaknya, “Mari kita bersyukur pada Allah untuk apa yang Papa telah kerjakan bagi kita semasa ia hidup.” Lalu, menurut seorang misionaris yang menghadiri pemakaman tersebut, “ Sonja mengucapkan doa penuh dengan ucapan syukur. Tidak ada keluh kesah, ddan tidak ada kata mengapa, hanya perasaan terima kasih untuk waktu yang ia jalani dengan suaminya. Ia meminta Allah untuk menyelamatkan dan mengampuni orang yang membunuh suaminya. Kemudian ia menyerahkan hidupnya dan anak-anaknya ke dalam tanganNya yang setia.”

Sonja sedang mengandung saat itu dan ia melahirkan anak yang kelima setelah itu. Keluarga ini akhirnya mampu meninggalkan China di awal tahun 1946, dengan menggunakan perahu berlayar selama delapan minggu.

Sonja tidak pernah mampu kembali lagi sebagai misionaris, tetapi ia kembali ke China sebagai seorang turis selama tahun 1980an. Walaupun saat itu ada batasan-batasan wilayah yang boleh dikunjungi turis, Sonja dan anak laki-lakinya berhasil menemukan seorang supir taksi yang rela membawa mereka ke tempat pelayanannya yang dulu. Ketika ia hampir mendekati gereja, salah seorang wanita tua mengenalinya dengan segera. Ia berlari menuju Sonja dan memeluknya.

Wasthi menyelesaikan kisah ibunya. “Betapa luar biasanya pengalaman itu bagi jiwanya. Ia tahu bahwa kerja keras mereka tidak akan sia-sia.”

Sumber:

The Voice Of The Martyrs

Kasih Dalam Perbuatan, PO BOX 1411 Surabaya 60014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar