Mesin Pencarian

Jumat, 02 Januari 2009

Bagaimana Mungkin Saya Bisa Mengampuni?

Sumber Kesaksian : Lisandrea Wentland

Perceraian mencipta luka yang mendalam pada seorang anak.

Jika itu terjadi maka hanya kuasa Tuhan-lah yang mampu menyembuhkan kepedihan hati dan kemarahan mendalam seorang anak terhadap orang tuanya.

Saya masih membenci ayah saya dan sekarang saya ada dalam konflik karena Roh Tuhan memaksa saya melihat diri saya dan memikirkan suatu perubahan.

Ketika saya lahir ayah saya tidak mempersiapkan sebuah rumah bagi seorang anak. Tetangga harus menggantung kain seprei pembatas di satu ruangan untuk menciptakan kamar anak yang bersih untuk saya. Rumah kami adalah ruangan dari proyek kontruksi yang berusia 10 tahun dengan serbuk gergaji sebagai lantainya, dan ruang terbuka berketinggian tiga meter diantara lantai dua dan lantai tiga.

Ayah saya sering memukul anjing dan melempar pisau pada binatang piaraannya dengan kejam. Dia bahkan sering menendang binatang jika sedang marah. Dia juga minum sepanjang waktu, dan jika tidak demikian dia akan tergeletak di dipan setelah berlatih dengan anggota grup band-nya pada pukul 3 dinihari, atau dia akan bermain musik di bar-bar lokal.

Dia tidak pernah menjadi seorang ayah yang saya harapkan. Dia tidak pernah membapai saya.

Saya ingat bagaimana dia berteriak pada saya dengan tidak rasional ketika saya berusia delapan tahun. Itu begitu mengerikan. Ayah saya begitu mengerikan. Saya belajar untuk menjadi tegar terhadap intimidasinya dan tidak hancur terhadap sikapnya. Saya belajar untuk menjaga diri saya sendiri terhadap pria yang lebih tua 27 tahun dari saya itu.

Siapa yang meminta saya untuk dapat mengampuni dia?.

Tahun demi tahun ayah saya terus mengecewakan saya. Dia menggagalkan saya, melewatkan nilai-nilai saya. Setelah perceraian dengan ibu saya, dia tidak pernah memberikan janji dan harapan yang baik bagi saya. Dia tidak memberikan dukungan pada anaknya. Dia juga selalu terlambat mengingat waktu-waktu liburan saya. Hari ulang tahun saya, hari yang dia katakan sebagai hari bersejarah dan khusus bagi dia, tidak pernah dirayakan meski dengan panggilan telepon atau hadiah pada waktunya. Sebagai gantinya saya menerima kata-kata penyesalan seperti air mata dan rasa mengasihani diri sebagai ungkapan keputusasaan seorang manusia.

Saya menjadi semakin marah dan semakin marah hingga kemarahan saya meledak terhadap orang lain. Saya mulai menyakiti keluarga saya yang lain karena ayah yang menyakiti saya. Luapan keputusasaan dan frustasi yang saya alami amat ironis, saya menjadi serupa dengan ayah saya

Saya membenci ayah saya. Saya membenci diri saya karena menjadi serupa seperti dirinya.

Siapa yang mengharapkan saya untuk memberi pengampunan?

Ketika saya mendekati usia 14 tahun saya mendengar tentang Yesus dengan jalanNya yang begitu segar sehingga saya mengerti bahwa saya mengalami pergolakan dalam diri saya. Saya berikan hati saya pada Yesus, namun kehidupan tidak segera menjadi lebih mudah. Saya tidak menemukan diri saya merasa mengasihi ayah saya dalam semalam, seperti halnya kejadian dalam sulap.

Saya masih membenci ayah saya, dan kini saya merasakan adanya konfik karena Roh Tuhan memaksa saya untuk melihat diri saya dan memikirkan adanya suatu perubahan.

Saya mendengar dan membaca tentang pengampunan dan mencoba hingga putus asa untuk mengampuni ayah saya. Ternyata saya dapati hal itu amat mustahil.

Semua yang ada dalam hidup saya terbakar. Dia sudah menyakiti saya. Dia meninggalkan saya. Dia menjadi bagian yang tidak berarti dalam keseharian saya ketika dia masih memegang kendali yang aneh terhadap emosi saya. Saya merasa tersinggung.

Yang paling buruk adalah bahwa dia masih tetap marah dan minum seperti yang saya tahu tentang ayah saya selama ini. Tidakkah seharusnya dia yang berubah dan minta pengampunan dari saya dibanding saya mengampuni dirinya?. Tidakkah seharusnya kami merubah dulu pola pengasuhan dalam keluarga sebelum saya mengampuni ayah saya itu?. Tidakkah seharusnya saya melihat upaya memperbaiki hal ini menjadi bagian ayah saya?.

Namun kemudian saya membaca kisah tentang seorang yang berhutang yang tidak mau mengampuni sesamanya di dalam Matius 18:21-35.

Sekarang, bagaimana mungkin saya tidak bisa mengampuni dirinya?.

Saya membaca mandat Alkitab dengan pukulan yang jelas dalam hati saya ~ saya tidak dapat menerima pengampunan jikalau saya tidak mau mengampuni!.

Kemustahilan menjadi sesuatu yang mungkin bersama dengan Tuhan. Saya mulai berdoa agar hati saya ini dibuat menjadi lembut. Saya berdoa supaya semua prasangka pikiran saya dibuang jauh. Saya berteriak pada Tuhan bahwa saya tidak ingin melakukan hal ini dan saya tidak tahu bagaimana melakukannya, tapi saya minta Tuhan untuk menolong saya. Saya berdoa untuk suatu pemulihan dan kesembuhan.

Saya berdoa karena hanya itulah tindakan yang dapat saya ambil dalam hubungan saya yang "berjarak" dengan ayah saya.

Doa-doa mulai bekerja dalam diri saya. Roh Tuhan tetap bekerja dalam diri saya. Kasih menggantikan kebencian dan saya mulai berdoa untuk keselamatan ayah saya dibanding untuk menyingkirkan dirinya dari kehidupan saya.

Dan berita baiknya bukanlah bahwa ayah saya menjadi sesuatu yang saya harapkan atau bahkan semua yang Tuhan harapkan dari dirinya. Berita baiknya adalah bahwa Tuhan yang mengubah saya, dan mengampuni ayah saya memberi saya kemerdekaan untuk mengasihi dirinya dan orang lain dalam kehidupan saya.

Terlalu banyak dari kita yang begitu buta untuk melakukan suatu tindakan. Kita tidak mengerti dampak tindakan kita telah menimbulkan kemarahan atau gosip dari diri kita yang berdampak memukul orang lain sepanjang perjalanan hidup kita. Kita melihat dampak tindakan kita terhadap orang lain, tapi kita dengan cepat bereaksi terhadap tindakan orang lain yang mempengaruhi diri kita.

Jika seorang dapat memiliki sikap tidak mau mengampuni, lain halnya dengan Yesus. Yesus dari atas kayu salib mengatakan : "Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak mengetahui apa yang mereka lakukan" (Lukas 23:24)

Jika Yesus dapat mengampuni, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama?

Inti dari tidak mau mengampuni, kemarahan dan rasa sakit adalah suatu belenggu yang menguasai. Bebannya membuat punggung kita menjadi bungkuk dan hati kita menjadi berat. Itu adalah kegelapan menelan pikiran kita dan menghabiskan gaya hidup kita.

Jika anda memiliki memiliki kemarahan dan perasaan tidak mau mengampuni, anda tahu ini adalah beban. Itu adalah gelap, sesuatu yang berat, bayangan prasangka yang akan mengikuti kemanapun anda melangkah. Orang lain akan melihat hal itu dan bertanya tentang hal itu dan anda akan mempertahankan diri anda dengan berbagai alasan mengapa anda membagikan kepedihan anda pada banyak orang. Tapi alasan-alasan itu hanya akan mencegah anda melakukan semua hal yang benar.

Lenyapkan semua hal itu. Jangan pernah bersekutu dengan hal itu.

Yang terbaik dari Tuhan bagi anda termasuk mengerti tentang pengampunan.

Jika saya ini tidak sempurna, Tuhan Yesus adalah sempurna. Jika orang tua saya begitu tidak sempurna, Kristus sesungguhnya amat sempurna. Jika yang salah seperti ketidakadilan bekerja terhadap hidup saya, maka Tuhan adalah suatu kebenaran. Memikirkan bahwa orang tua saya adalah begitu kurang sebagai orang tua, maka Tuhan adalah Bapa sesungguhnya bagi saya.

Letakkan kemarahan dan sakit hati di kaki salib. Itu mungkin membutuhkan waktu, apalagi jika kerusakannya begitu dalam. Tapi tetaplah bawa hal itu di dasar kaki salib hingga anda mampu mengatur semuanya. Dimana kegelapan menguasai jiwamu sebelumnya, terimalah pengertian tentang kasih yang tidak bersyarat sebagai pengganti.

Ayah saya akan selalu menjadi orang yang tidak sempurna. Tapi janji Tuhan mengatakan: "karena tidak ada seorangpun dari manusia yang tidak berdosa, tidak ada seorangpun (Roma 3:12). Saya merayakan bahwa FirmanNya adalah benar. Dengan pandangan saya dapat mencoba mengerti pengalaman luka hati ayah saya yang membuatnya menjadi manusia yang keras. Kini ia telah berhenti minum (15 tahun tanpa mabuk) dan hidupnya semakin baik.

Dengan pandangan yang baru saya dapat mencoba mengerti bahwa ayah saya tidaklah sempurna dan saya dapat mengasihi dan menerima dirinya. Itu adalah cara yang begitu lega untuk menjalani suatu kehidupan. Saya membuang semua prasangka manusia untuk bisa melihat kehendak Tuhan atas hidup saya. Berkenaan bahwa Tuhan menggenapi semua janjiNya, meski manusia tidak bisa melakukan hal itu. Angkatkah balok dalam matamu sebelum mengambil selumbar dalam mata orang lain (Matius 7:4)

Pengampunan adalah kemerdekaan dalam Tuhan Yesus Kristus

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar