Mesin Pencarian

Jumat, 02 Januari 2009

I am Legend

“Orang bebal berkata dalam hatinya “Tidak ada Allah.” … TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.” (Mazmur 14:1-2)

Bukan kebetulan kalau siang ini, minggu 3 Februari 2008, penulis memutar DVD berjudul ‘I Am Legend,’ film yang menggugat Tuhan yang dimainkan aktor tenar Will Smith sebagai ahli sains Robert Neville yang film layar lebarnya diputar di Indonesia sekitar hari Natal yang lalu, sebab begitu selesai diputar langsung diganti channelnya dan di layar TV berkotbah seorang pendeta ‘ajaran sukses’ disebuah tempat mewah yang berapi-api mengajarkan bahwa Tuhan berkuasa, tidak ada yang mustahil baginya dan bila kita percaya semua masalah kita akan diselesaikannya!

Kedua adegan itu kontras sekali dan menggambarkan kedua kutub dalam kehidupan manusia, disatu sisi kutub yang menolak Tuhan (theophobia), di sisi yang lain kutub yang sangat menyembah Tuhan (theomania) seakan-akan semua masalah dunia selesai bila kita percaya Tuhan.

Film ‘I Am Legend’ menceritakan tentang penemuan sejenis virus yang telah berubah sifat yang dikembangkan para ahli sains yang bisa digunakan sebagai obat penawar penyakit kanker. Menarik memang, tetapi dalam tiga tahun perkembangannya, virus itu mendatangkan malapetaka dimana 90% manusia dari jumlah 6 milyar mati karenanya dan hanya 1% manusia yang kebal terhadapnya, sedangkan 9% menjadi mahluk mengerikan yang hanya bisa tinggal ditempat gelap yang cenderung memakan mereka yang selamat. Selama itu Neville berkali-kali mengirimkan pesan melalui radio mencari orang yang masih hidup.

Jalan ceritanya menegangkan dimana dalam kesendiriannya di kota New York Robert Neville yang kematian anak & isterinya dan kemudian juga anjingnya Sam, menjalani jalan-jalan kota cosmopolitan itu yang semua penduduknya telah mati dan banyak mahluk manusia mutan pemakan manusia siap menerkam dirinya.

Sekalipun pada awalnya digambarkan dalam kesendiriannya mengendarai mobil, Neville melewati truk rongsokan yang bertuliskan ‘God Still Loves You’ rupanya kalimat itu merupakan ‘thesa’ yang kemudian pada 10 menit terakhir dibawa kepada ‘antithesa’ (tetapi tidak diteruskan ke sintesa) yang menghadirkan pertemuannya yang tidak terduga dengan seorang wanita bernama Anna (dimainkan oleh Alice Braga) dengan anaknya yang menolongnya ketika ia terluka karena serangan manusia mutan. Percakapan keduanya menggambarkan misi film itu.

Anna menjelaskan kepada Neville bahwa ia mendengar suara Tuhan melalui radio untuk menolongnya sehingga berhasil menyelamatkan Neville yang sekarat, Anna berkata kepada Neville bahwa ia harus ‘mendengarkan kehendak Tuhan yang telah menyuruhnya menyelamatkan Neville.’ Namun, dengan nada tinggi Neville menyuruh Anna diam dan mempertanyakan: “Bagaimana ada Tuhan kalau ia membiarkan 90% dari 6 milyar manusia mati dan hanya 1 persen selamat, sedangkan sisanya yang 9 persen berubah bentuk dan memangsa yang masih hidup?’ Neville kemudian dengan keras berseru sampai dua kali: “There Is No God!”

Digambarkan bahwa akhirnya Neville dengan anti-virus yang ditemukannya berhasil menyelamatkan mereka yang terinfeksi virus dan para manusia mutan , dan lebih dari itu ia sendiri menjadi juru selamat yang mengorbankan diri dengan meledakkan diri dengan granat ditengah-tengah manusia mutan yang menyerbu mereka demi menyelamatkan Anna, anaknya dan anti-virusnya. Pada akhirnya digambarkan banyak manusia diselamatkan dengan anti-virus penemuan Neville.

Neville menjadi ‘legenda’ yang disebut majalah Time sebagai ‘humanity saviour.’ Inilah tema film itu dimana ’Tuhan yang mencintai manusia’ dan ‘Kehendak Tuhan dan Rencananya’ dibungkam dan diganti dengan ‘Manusia dengan kemampuan intelegensianya menjadi juruselamat yang menyelamatkan umat manusia.’

Bila film ‘I Am Legend’ menolak kehendak dan rencana Tuhan sebaliknya ‘pendeta ajaran sukses’ yang diceritakan diatas terlalu menekankan Tuhan, namun si pendeta juga menyempitkan arti kehendak dan rencana Tuhan, seolah-olah kehendak dan rencana Tuhan itu cuma membuat manusia bahagia dan mengabaikan peran Iblis dengan perilaku ‘Anti Tuhan’nya yang jelas mengacau ciptaan dan membuat manusia menderita karenanya. Mengabarkan tentang Tuhan yang tidak lengkap dan hanya menekankan sisi ‘sukses’ jelas bukan Injil kabar baik yang sebenarnya.

Sebenarnya Neville harus mendengarkan bagaimana kesaksian Anna dalam film itu dimana ia mengaku ‘mendengar kehendak dan rencana Tuhan agar menolong Neville’ (dan jelas ini menunjukkan bahwa ‘God Still Loves Neville’), kabar baik yang ditolak Neville, ahli sains yang menggambarkan sifat manusia sekuler yang menolak kehadiran Tuhan di dunia ini (dan jelas tidak mau mendengar suara Tuhan yang tidak dipercayanya). Padahal, justru karena Anna percaya dan mau mendengarkan suara Tuhan dan kehendak-Nya itulah maka Neville bisa hidup dan meneruskan program anti-virusnya yang menolong banyak korban virus.

Pendeta ‘ajaran sukses’ juga keliru karena ia menyempitkan kabar baik Yesus hanya sekedar sebagai berita bahagia dimana mereka yang percaya akan bebas dari penderitaan. Film ‘I Am Legend’ dengan kritiknya juga tertuju kepada banyak pengkotbah Kristen yang terlalu terpaku pada slogan ‘sukses,’ tetapi tidak peka terhadap kenyataan dunia dimana bibit lalang masih bertebaran dimana-mana. Kotbah ‘sukses’ mungkin cocok bila dikotbahkan di gedung mewah ber’AC’ dimana hadirin adalah para pengusaha yang berkantong tebal, namun kotbah itu tidak ada artinya bila dikotbahkan ditengah-tengah orang yang menderita kebanjiran di kota Jakarta dan kota-kota lainnya. Kasih Allah yang jelas dan nyata adalah Injil Kabar Baik sebenarnya dan itulah yang harus dikotbahkan dan dilaksanakan!

Tuhan tetap mengasihi kita, dan Tuhan menyuruh umatnya peka dan menjalankan rencana dan kehendak Tuhan untuk menolong sesama manusia dan bukan hanya demi sukses/kebahagiaan pribadi. Kalau Neville berseru ‘There Is No God’, Pemazmur mengatakan:

“The Lord looks down from heaven on the sons of men to see if there are any who understand, any who seek God.” (NIV, Psalm 14:2)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar