Mesin Pencarian

Jumat, 02 Januari 2009

Lampu Merah

Saat itu adalah pertama kali berada di negara asing. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di kantor pusat di Jepang. Saya merasa menjadi seperti si Kabayan yang pertama kali datang ke budaran HI. Girang bercampur tidak percaya karena berada di Jepang, jauh dari tanah air.

Setiap ada waktu luang selalu saya gunakan untuk jalan-jalan. Pokoknya jalan-jalan. Benar-benar jalan, karena saya masih belum berani naik densha (kereta listrik) atau monorel. Teman-teman Jepang saya masih sibuk untuk bisa menemani dan mengajari saya bagaimana mempergunakan alat transportasi massal yang canggih itu.

Bayangkan, kereta monorel tidak ada masinisnya. Dari bawah saya amati kereta berjalan di relnya jauh di atas kepala, tidak ada orang di bagian depan monorel. “Bagaimana bisa berhenti tepat di halte?” pikir saya. “Terus bagaimana bisa tahu kalau penumpangnya sudah bayar atau belum?” Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayuti pikiran sementara saya melihat di pintu masuk halte stasiun juga tidak tampak satu orang petugas pun.

Daripada bingung atau takut terjebak di dalam, saya memutuskan untuk berjalan-jalan menggunakan kekuatan kaki saja. Toh di sini udaranya sejuk, karena saat itu masuk bulan April. Bulan April adalah awal musim semi di Jepang. Bunga sakura mulai bermekaran, dan semua daunnya berguguran. Pada puncaknya, seluruh pohon sakura dipenuhi oleh bunga yang berwarna putih, tidak ada daun sama sekali. Lebih tepat jika dikatakan sebagai pohon bunga. Bunga sakura ada yang berwana pink, kekuningan atau kemerahan.

Saat di Indonesia saya mendengar cerita bahwa di Jepang semua orang sangat mematuhi peraturan. Kalau jalan kaki harus di trotoar. Jalur ini selain untuk orang berjalan kaki, juga merupakan jalur untuk sepeda. Jadi sepeda tidak boleh lewat di jalan aspal seperti di Indonesia. Trotoarnya lebar dan halus, sehingga nyaman untuk dipakai berjalan kaki ataupun saat berbagi dengan pengendara sepeda.

Di setiap perempatan ada lampu merah yang hanya menyala secara bergantian dua kali, tidak bergantian empat kali seperti di Indonesia. Jadi untuk jalan yang berhadapan, lampu hijaunya menyala bersamaan – sehingga jika ada mobil yang akan belok ke kanan, harus menunggu diberi jalan oleh mobil yang melintas lurus di seberangnya. Tapi sesuai dengan peraturan, mobil belok harus diberi kesempatan lebih dahulu. Mobil yang melintas lurus harus selalu melihat di seberangnya; jika ada yang mau belok ke kanan maka mobil tersebut harus berhenti untuk memberi jalan. Tidak ada satu pun yang main serobot.

Karena semua orang sangat menaati ketentuan lalu lintas, maka tidak ada kemacetan yang terkunci seperti tampak di jalan-jalan Tanah Abang atau Pasar Minggu. Lalu lintas tetap lancar walaupun jalan penuh dengan mobil. Suatu pemandangan yang bertolak belakang dibandingkan dengan yang biasa saya lihat di Jakarta.

Untuk pejalan kaki peraturannya juga sama. Orang hanya boleh menyeberang jika lampu hijau pejalan kaki menyala. Orang tidak bisa menyeberang seenaknya. Di sini peringatan “Jika akan menyeberang harus melihat ke kanan dan kiri” sama sekali tidak berlaku. Karena walaupun ada zebra cross, tetap ada lampu merahnya. Mobil tetap melaju dengan kencang, dan akan berhenti jika lampu merah di zebra cross menyala. Itu semua adalah hal pertama yang saya pelajari di negara maju ini.

Saya pun ingin menunjukkan bahwa orang Indonesia juga menaati peraturan lalu lintas. Jadi ketika melewati perempatan, walaupun masih sepi tapi saya tetap menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala sebelum menyeberang jalan. Bangga juga rasanya bisa berlaku seperti orang-orang di negara maju. Sebetulnya ini sama juga dengan semua mobil yang saya lihat di jalan. Walaupun jalan kosong dan hanya ada satu mobil saja, tetapi mobil itu tetap berhenti sendirian di perempatan menunggu lampu hijau menyala.

Setelah berputar-putar di daerah pertokoan, saya mencoba berjalan-jalan ke daerah pemukiman. Sepi sekali, tidak ada orang yang berjalan, hanya sesekali mobil yang melintas. Saya lihat tidak ada orang yang ‘nongkrong’ di perempatan. Kalau sudah demikian, saya jadi kangen dengan suasana di Indonesia. Kangen melihat banyak orang di sepanjang jalan. Ada yang ‘nongkrong’, ada yang ‘ngasong’, ada yang ‘ngamen’ – rupanya dekat berada di dekat orang yang lalu lalang juga memberi perasaan yang nyaman.

Setelah puas dan lelah berjalan saya memutuskan akan kembali ke hotel. Saya mencoba mengambil jalan pintas, dan mencari-cari tempat penyeberangan; karena walaupun sepi saya tidak bisa seenaknya menyeberang jalan. Saya melihat zebra cross di tengah-tengah jalan yang panjang dan berhenti untuk menunggu lampu hijau menyala.

Jalan panjang itu sangat sepi, tidak ada mobil dan maupun orang yang lewat dan saya berdiri di tengah-tengahnya di bawah lampu penyeberangan di depan zebra cross. Saya berdiri dengan tegap dan bangga, karena saya mematuhi peraturan lalu lintas, walaupun tidak ada satu pun yang melintas. Saya menunggu lampu hijau menyala. Satu menit, dua menit, sampai hampir lima belas menit saya lihat lampu hijau belum menyala juga. Saya mulai was-was, jangan-jangan lampu di sini rusak. Tapi saya tetap berusaha taat untuk tidak menyeberang.

Di tengah penantian itu, ada seorang oba-san (encim-encim) yang berjalan menuju ke arah saya berdiri. Kelihatannya dia juga akan menyeberang, itu membuat perasaan saya agak tenang. Dia terus berjalan mendekat dan saya semakin bangga karena dari tadi saya tidak beranjak untuk nekat menerobos lampu merah pejalan kaki.

Karena sudah tua, si oba-san berjalan dengan pelan dan memakan waktu. Selama waktu itu pula saya masih terus berpikir, kalau ada yang tidak beres pada lampu merah itu. Tapi saya berusaha untuk tetap tenang. Saya berpikir di oba-san itu juga akan memikirkan hal yang sama, karena memang sejak dia berjalan hingga hampir sampai di tempat ini waktu dibutuhkan lebih dari lima menit. Tetapi saya tidak melihat keheranan di wajahnya saat melihat lampu warna merah itu terus menyala. Justru dia heran melihat saya yang terus mematung di bawahnya.

Saya tersenyum kepadanya, dibalas dengan senyuman juga oleh si oba-san; perasaan heran di wajahnya lenyap. Saat semakin mendekat si oba-san tidak ikut berdiri di samping saya, tetapi mendekat ke tiang lampu merah. Di sana ada kotak kuning dan si oba-san menekan tombol merah yang ada di ditengahnya. Dan ... ‘sim-sala-bim’; dalam sekejap lampu merah berubah menjadi hijau. Luar biasa!

Saya tidak percaya dengan apa yang terjadi, dan saya segera berlari menyeberangi zebra cross itu. Perasaan dalam hati antara malu, senang dan tidak percaya campur aduk menjadi satu. Sampai di seberang jalan saya teringat kepada oba-san yang telah menolong saya. Saya membalikkan badan dan melihatnya berjalan dengan lambat tapi pasti di tengah-tengah zebra cross. Saya membungkukkan badan dalam-dalam ke arahnya sebagai ucapan terima kasih, dan dia membalas dengan tersenyum lebar memperlihatkan sebaris gusi tanpa gigi.

Hari itu saya mendapat pelajaran berharga yang tidak telupakan dari oba-san (encim-encim), bahwa di jalan yang sepi, lampu penyeberangan dinyalakan oleh tombol yang ada di kotak tiang lampu. Hazukashii na – malu bener ...


Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas (Amsal 3:14)

(Indriatmo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar