Mesin Pencarian

Kamis, 01 Januari 2009

Renungan : Sebuah Doa Khusus

Oleh Michael Jordan Segal


(Sebuah pengalaman hidup)

Setahu saya, ayah adalah seorang yang sangat berjiwa sosial. Dia selalu mendahulukan orang lain sebelum memikirkan dirinya sendiri. Mungkin karena itulah ayah dipilih menjadi seorang Rabbi, untuk melayani Tuhan menolong orang lain.

Setiap Natal, ayah saya, Rabbi Jack Segal, menjadi sukarelawan di Rumah Sakit Houston supaya karyawan yang beragama Kristen dapat merayakan Natal bersama orang yang mereka kasihi. Natal ini, ayah bertugas menjadi operator telpon di rumah sakit, menjawab semua telpon yang masuk ataupun meneruskan panggilan telpon. Kemudian ada satu telpon masuk berasal dari seorang wanita yang sangat cemas.

“Pak, keponakan laki-laki saya pagi ini masuk rumah sakit karena kecelakaan. Tolong ceritakan keadaannya sekarang.”

Setelah wanita itu memberikan nama si anak, ayah memeriksa data di komputer dan berkata, sesuai dengan cacatan medis yang tertulis, “Keponakan anda dalam keadaan kritis. Maafkan saya. Saya harap dia bisa berangsur-angsur pulih.” Saat ayah berkata, “kritis,” wanita itu langsung menangis dan berseru, “Oh Tuhan! Apa yang harus saya lakukan? Apa yang harus saya lakukan?”

Mendengar suara panik itu, ayah berkata dengan lembut, “Sebuah doa mungkin akan sangat berguna pada saat ini.”

Wanita itu segera menjawab, “Ya – benar. Tapi sudah sepuluh tahun saya tidak ke gereja dan saya sudah lupa bagaimana caranya berdoa,” kemudian bertanya,”Pak, apakah anda tahu caranya berdoa? Apakah anda bisa berdoa untuk saya, sambil saya mendengarkan di telpon?”

Ayah segera mejawab, “Tentu saja,” dan mulai mengucapkan sebuah doa kuno untuk kesembuhan dalam bahasa Ibrani, ‘Mee Shebayroch.’ Dan ditutup dengan kata, “Amin.”

“Terima kasih banyak Pak,” wanita di seberang telpon berkata. “Bagaimanapun juga,” dia meneruskan, “Saya sangat menghargai doanya. Tapi saya punya sebuah masalah. Saya tidak paham doa yang Bapak ucapkan, karena saya tidak bisa berbahasa Spanyol.”

Ayah tertawa dalam hati dan berkata, “Bu, itu bukan bahasa Spanyol. Saya seorang Rabbi dan doa itu dalam bahasa Ibrani.”

Wanita itu menghela nafas dengan lega. “Bahasa Ibrani? Hebat sekali. Itu adalah bahasa Tuhan. Kalau begitu Tuhan tidak perlu pernerjemah.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar