Mesin Pencarian

Jumat, 02 Januari 2009

Sang Mesias Adalah Anak Allah

Masih dalam seminar ‘The Dead Sea Scrolls’. Juga membahas gelar ‘Anak Allah’ dan ‘Anak Allah yang maha Tinggi’, ternyata tercantum dalam naskah Putra Allah, temuan dari Gua 4 nomor 246. Naskah ini termasuk naskah-naskah yang baru dibuka kepada khalayak ramai tahun 1992.

Ternyata setelah dibuka dan diterbitkan oleh Shrine of The Books, Museum Israel (yang nota bene juga bukan Kristen), ternyata naskah-naskah yang dicurigai tersebut justru mendukung klaim Iman Kristen.

Bereh di El yetamar Elyon’ (Dia akan disebut Putra Allah, mereka menyebutNya Anak dari Yang Maha Tinggi), demikian bunyi kolom 2 naskah Anak Allah tersebut.

Jadi, kaum Eseni Qumran mengharapkan kedatangan figur Sang Mesias Ilahi, yang akhirnya mendasari refleksi gereja purba mengenai keilahian dan ketuhanan Kristus dalam kerangka keesaan Allah.

Inilah kali pertama ungkapan Anak Allah ditemukan sebuah teks Palestina di luar Alkitab, kata Bambang mengutip Hershel Shanks, seorang anggota peneliti senior Qumran.

Teks ini luar biasa pentingnya bagi semua ahli Perjanjian Baru untuk memahami latar belakang term-term dari Injil Lukas, seperti Anak Yang Mahatinggi dan Anak Allah (dan juga ditemukan di sepanjang ayat-ayat Perjanjian Baru).

Sebelumnya, beberapa sarjana menyangka bahwa istilah ‘Anak Allah Yang Mahatinggi’ dan ‘Anak Allah’ berasal dari aslinya berasal dari filsafat Hellenis di luar Palestina dan menentukan perkembangan doktrin Kristen selanjutnya.

Sekarang kita mengetahui, bahwa term-term seperti itu ternyata bagian dari ajaran Kristen asli yang berakar dari lingkungan Yahudi sendiri, demikian tegas Hershel Shanks seperti dikutip Bambang dalam bukunya, The Dead Sea Scrolls: Menggoncang atau Mendukung Kekristenan, yang di launcing dalam seminar tersebut.

Teks-teks mesianis Qumran lain, mendukung gambaran Mesias Ilahi. Misalnya, teks dua 4, nomor 286, kolom 13 menyebutkan bahwa: Surga (maksudnya Allah) akan bershekinah pada Sang Mesiah selama-lamanya (Ibrani: Syemayim ‘eamo yesha-ken le ead). Begitu pula, teks gua 4, nomor 521, kolom 1 menegaskan: ‘Makhluk-makhluk di surga dan bumi akan mendengar kepada Mesiah mereka’ (Ibrani: hasy Syemayim we ha arets yishma’fu le Mashiho).

Bambang dengan berapi-api dan lancar, juga mengutip teks Ibrani dari naskah gua 1, nomor 2 kolom 12, untuk membuktikan bahwa pengharapan mesianik Qumran mengakui konsep keilahian Sang Mesiah (the concept of Divinely beggoten Messiah), yang akhirnya ditekankan Yohanes sebagai Mukadimah Injil yang ditulisnya (Yoh 1: 1-18).

‘Sesuai dengan rencana Ilahi untuk orang kemasyuranNya. Supaya dikumpulkan mereka dalam kumpulan jemaah Tuhan, ketika Allah melahirkan Sang Mesiah (‘fim yolid ‘eEl et ha Mashiah) bagi mereka’, demikian Bambang membacakan teks Qumran yang dimaksud, Setelah 15 break menit untuk makan.

Bernuansa Polemik

Perlu diketahui, bahwa sejak penemuannya yang pertama tahun 1947 hingga tahun 1990-an, baru 80% bahan Qumran yang diterbitkan, dan 20% belum diterbitkan untuk umum.

Banyak hambatan dari faktor teknis, namun telah melahirkan tuduhan bahwa seolah-olah Vatikan turut menyensor naskah karena dikhawatirkan akan mengganggu klaim keunikan Iman Kristen.

Tuduhan ini antara lain disuarakan oleh penulis sensasional Michael Baigent dan Richard Leight, The Dead Sea Scrolls Deception (1991). Keduanya juga mengarang buku sensasional lain, Hoy Blood Holy Grail, yang mengatakan bahwa Yesus telah menikah dengan Magdalena.

Dalam penelitian awal Qumran, banyak ahli terburu-buru menyimpulkan bahwa keilahian Yesus bukan ajaran Yesus dan gereja mula-mula di Yerusalem, melainkan diambil alih dari ide kafir Yunani. Termasuk penulis-penulis generasi awal ini, Powell Davies, John Alegro, dan charles Francis Potter, yang menjadi acuan penulis-penulis Indonesia seperti Prof. H.M. Rasjidi, Saleh A. Handi dan M. Hasyem.

Karena itu, tegas Bambang yang meneliti naskah-naskah Qumran sejah tahun 1995 itu, tuduhan pemalsuan Kitab Suci adalah dongeng, dan bukan fakta sejarah yang didasarkan atas evidensi penelitian manuskrip.

Bambang juga menjelaskan, bahwa penemuan Qumran sering dijadikan rujukan para penulis sensasional. Barbara Thiering itu bukan ahli biblika, tidak usah didengar, kata pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) itu.

‘Apalagi buku ini, tantangan dari Gua Qumran, karangan M. Hasyem, lha wong memasang foto manuskrip saja, huruf-huruf Ibraninya terbalik,’ kelakarnya pula dalam logat Jawanya yang medok.

‘Abbad mahmud al-Aqqad dalam bukunya ‘Aqariyyat al-Masih, yang pertama kali diterbitkan di Mesir tahun 1953, menyebutkan penemuan Qumran tanpa turut berspekulasi bahwa Yesus adalah Guru Kebenaran sekte Eseni.

Dalam bukunya yang sangat simpatik ini, ‘Aqqat menyebutkan bahwa penemuan Qumran sebagai konfirmasi atas risalah Gusti Al-Masih (tawakid al-hajatu ‘ila risalat as-Sayid al-Masih).

Sayangnya, sampai sekrang buku-buku polemik Islam yang mengutip penemuan laut mati sebagai ‘palu godam’ untuk menghantam integritas kekristenan masih banyak beredar.

Tidak ada upaya sedikitpun dari mereka untuk merevisinya, karena konklusi beberap penulis. Tetapi syukurlah tulisan-tulisan itu tidak berasal dari para ahli, sehingga biasanya dianggap sebagai ‘angin lalu saja’

Para peneliti Qumran dari tahun 1950-an itu, memang sudah banyak ditinggalkan orang, karena hasil penelitian yang lebih mendalam akhir-akhir ini.

Sumber Tabloit Gloria Edisi 374, Minggu ke IV Oktober 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar