Mesin Pencarian

Jumat, 02 Januari 2009

Segunung Cucian

(Sebuah pengalaman hidup)

Setelah beberapa tahun menikah, saya dan suami memutuskan untuk menjadi orang tua asuh. Kami mengambil dua anak laki-laki untuk diasuh. Setelah satu tahun dan satu setengah tahun kemudian, kami mengadopsi keduanya menjadi anak angkat kami.

Saat kedua anak laki-laki kami itu berumur dua tahun dan tiga tahun, kami memutuskan untuk mencoba mengasuh dua anak perempuan yang berumur satu tahun dan tiga tahun. Selama dua tahun berikutnya, rumah kecil kami terasa penuh dan saya sangat sibuk dengan urusan rumah tangga.

Setelah kedua anak perempuan itu tinggal bersama kami beberapa waktu, saya ingin mengikuti pelajaran Alkitab di gereja, tetapi selalu saja ada hal yang merintangi saya untuk datang. Karena merasa tidak punya waktu untuk datang, saya membeli kaset renungan dan tuntunan belajar, jadi saya berpikir bisa belajar Alkitab sendiri di rumah.

Siang hari, saat saya sudah membawa anak-anak untuk tidur siang, saya meneruskan kegiatan saya dengan membereskan segunung cucian yang bertumpuk di sofa untuk dilipat dan disetrika. Saat melipat cucian saya mulai mendiskusikan beban hati saya kepada Tuhan.

"Tuhan, Engkau tahu bahwa saya mulai mengikuti pelajaran Alkitab ini dan saya mencoba menemukan waktu yang tepat untuk melayani Engkau dan semua kegiatan yang lain - tapi kelihatannya saya tidak mempunyai cukup waktu. Saya sudah mencoba bangun subuh sekali, tapi selalu saja ada anak yang mendengar mendengar dan bangun serta meminta perhatian saya. Saat tidur tengah malam saya sudah sangat kelelahan. Saya pikir bisa melakukannya saat anak-anak tidur siang, tetapi itu adalah satu-satunya kesempatan saya harus membereskan pekerjaan rumah dan semua cucian. Saya rasa bisa menghadapi semua pekerjaan rumah kecuali membereskan semua cucian! Tuhan, saya percaya Engkau sangat mengetahuinya. Engkau memberi kami empat anak dibawah tiga tahun untuk dirawat, dan Engkau tahu mereka membutuhkan pakaian bersih; dan Engkau juga tahu banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan itu semua. Saya percaya Tuhan mengetahui itu semua."

Pada hari Minggu saya dan suami menunggu anak-anak di Sekolah Minggu, saat Betty, yang sudah kami anggap sebagai nenek sendiri, datang dan duduk di samping kami. Betty adalah seorang janda yang telah berhasil membesarkan kelima anaknya. Dia adalah wanita yang sangat baik yang selalu siap menolong orang lain yang membutuhkan. Dia juga banyak membantu keluarga kami jika ada acara dan selalu memberikan semangat dan doa.

Dia memeluk saya dan berkata, "Nenek punya sebuah saran untukmu."

Dengan rasa ingin tahu saya menjawab, "Apa itu nek?"

Dengan lembut dia meneruskan, "Saya percaya ini dari Tuhan. Biarkan nenek membereskan semua cucianmu."

Saya duduk dengan mulut ternganga sedangkan pikiran saya berputar-putar untuk memikirkan kepada siapa saja saya sudah membicarakan masalah cucian saya. Setahu saya, saya belum pernah membicarakan masalah ini kepada siapa pun, bahkan kepada Rodney suami saya. "Apakah nenek tahu seberapa banyak cucian saya?" saya berbisik sambil air mata mulai tegenang.

"Sayang, nenek sudah membesarkan lima anak. Percayalah, nenek tahu seberapa banyak cucianmu."

Dia meneruskan, "Kamu tahu, apa yang kamu lakukan bersama suamimu untuk membesarkan anak-anak ini adalah perbuatan yang sangat mulia. Tetapi nenek juga tahu bahwa itu adalah pekerjaan yang sangat berat. Nenek sudah tua dan tidak bisa membantu mengawasi anak-anak, tetapi nenek bisa membereskan cucianmu. Kamu hanya minta Rodney mengantarkan ke rumah nenek saat berangkat kerja, kemudian dia mengambilnya kembali saat pulang. Nenek akan mencuci, mengeringkan, menyeterika dan melipat semuanya dengan baik."

Saya merasa malu karena membicarakan masalah pribadi dan saya saya berpikir, "Oh Tuhan saya tidak bisa memberikan pakaian dalam saya dicuci orang lain."

Betty melanjutkan perkataannya. "Minggu lalu nenek memperhatikan kamu saat mengikuti ibadah terlihat sangat letih. Nenek terus memikirkannya sepanjang minggu itu dan Tuhan berkata, 'Tanya Ronni supaya cuciannya bisa dibantu.'" Dia mengakhiri dengan, "Sekarang, jangan menolak berkat ini."

Saya tidak tahu bagaimana menanggapinya. Karena tidak ingin menyakiti perasaan Betty saya menjawab, "Saya akan bicarakan dulu dengan Rodney ya nek."

Walaupun telah mencurahkan semua beban berat dalam hati tetang bagaimana beratnya waktu yang saya jalani dan saya ingin ingin punya waktu bersekutu denganNya, tetapi rupanya saya tidak siap dengan jawaban Tuhan untuk menyelesaikan masalah saya. Tuhan sudah memberi tugas untuk merawat keempat anak yang masih kecil ini dan saya kelihatannya mengabaikan bahwa Tuhan begitu serius menanggapi masalah yang saya hadapi. Jadi saya berpikir, "Kalau saya bisa mengatur waktu dengan lebih baik, saya bisa mengatasi semuanya tanpa bantuan orang lain."

Beberapa minggu kemudian saat saya berada di ruang cuci. Saya tertegun melihat pakaian di sekitar mesin cuci. Cucian tetap saja menggunung tidak berkurang sedikitpun walaupun saya sudah berusaha keras untuk mengatur waktu dengan baik. Kenyataannya, cucian yang saya hadapi jauh lebih banyak daripada sebelumnya. "Baiklah Tuhan," kata saya, "Saya pikir saya bisa meminta orang lain membatu mencuci, kecuali pakaian dalam kami."

Sangat mendengar sebuah suara halus dalam hati saya dengan jelas, "Jika kamu ingin cucianmu dibantu, Aku ingin semuanya dibereskan termasuk pakaian dalammu."

Saya menyerah. Gunung cucian itu sekarang telah menunjukkan gunung harga diri saya. Saya sudah memandang rendah tawaran bantuan Betty yang penuh kasih kepadaku.

Saat saya mengangkat gagang telpon, mata saya penuh dengan air mata. Saya hampir tidak sanggup berkata saat mendengar suara Betty yang lembut di ujung telpon. Dengan berbisik saya berkata, "Apakah nenek masih mau membantu saya mencuci?"

Air mata saya mengalir deras saat mendengarnya menjawab dengan sukacita, "Bawa kemari saja sayang. Bawa kemari."

Pakaian kami tidak pernah lebih bersih, lebih bercahaya dan halus dibandingkan dengan selama dua tahun Betty dengan setia dan penuh kasih membantu membereskan semua cucian kami.

Kemudian saat dua anak perempuan asuhan kami telah menemukan rumah tetap mereka - sebuah keluarga yang mengadopsi mereka - kami tahu bahwa kami akan mampu mengatasi semua cucian ini sendiri.

Walaupun tidak lagi membantu kami mencuci, tetapi Betty tetap menjadi nenek yang baik dan penuh kasih bagi anak-anak kami. Suatu hari Betty tertawa saat saya berkata, "Kalau sudah besar saya ingin jadi seperti nenek."

(Oleh Veronica Wintermote)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar