Mesin Pencarian

Sabtu, 03 Januari 2009

Bapa Atau Bapa-Bapaan

(Lukas 15:11-24)

Hari Minggu kita memperingati Father’s Day, saya ucapkan selamat kepada para Bapa, supaya melalaui peringatan ini para Bapa lebih mengasihi Tuhan, mengasihi istri dan mengasihi anak-anak. Tahukah saudara dari mana sesungguhnya asal mula Fathers’ Day ini? Fathers’ Day berasal dari Amerika, lahir dari satu ide seorang bernama Henry Jackson yang ingin menyatakan penghargaan atau appraciation terhadap bapa-bapa. Ide itu dimulai dari tempat dimana Henry tinggal dan menjadi suatu kebiasaan didaerah mereka yang kemudian berkembang ke daerah-daerah yang lain. Pada tahun 1972 pemerintah Amerika menjadikan tradisi itu menjadi hari nasional. Sampai hari ini setiap awal bulan September kita merayakan Fathers’ Day.Itulah sedikit latar belakang dari Fathers’ Day.

Perumpamaan tentang "Anak yang hilang" ini menggambarkan tentang kasih dan sikap Bapa yang di Sorga terhadap anak-anakNya. Hal ini disebabkan sikap orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang tidak bisa menerima pelayanan Yesus terhadap pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka memandang rendah dan risih kepada orang banyak yang tidak mengenal Taurat Allah, mereka juga menghindari untuk bergaual dengan mereka.` Dalam hal ini Yesus ingin membenarkan tindakan-Nya dengan menggambarkan bagaimana sikap Allah terhadap orang-orang berdosa.

Coba kita lihat bagaimana sikap Bapa kita yang di Sorga terhadap anak-anakNya:

I. Bapa Di Sorga Menghargai Hak Anak-AnakNYA
Tatkala anak bungsu menuntut pembagian harta warisan kepada bapanya, sebenarnya sang bapa cukup banyak alasan untuk tidak membagikannya. sebab pada waktu itu bapanya masih hidup, tentunya segala harta benda itu masih menjadi milik si bapa. Tetapi sang bapa tidak menerapkan prinsip ini terhadap si bungsu, ia tidak mempertahankan kuasanya; namun ia justru menghargai kebebasan dan hak anaknya. Dengan suka rela ia membagikan harta warisan tersebut pada si bungsu. Hal ini dapat kita lihat dalam ayat 12 "Ia membagi-bagikan harta kekayaan itu kepada kedua anaknya." Demikian juga pada waktu anak bungsu ini hendak menjual seluruh harta kekayaannya dan hendak merantau ke negeri yang jauh, bapanya tidak memaksakan anaknya untuk taat kepadanya. Sekali lagi ia memberikan kebebasan yang penuh kepada anaknya. Ini berarti bahwa sang bapa tidak diktator atau otoriter yang memaksa anaknya untuk tunduk pada kehendaknya.

Demikian juga dengan Allah Bapa di Sorga, Ia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya supaya kita taat. Ia menghargai hak kita, oleh sebab itu Ia memberikan kebebasan kepada kita. Allah kita juga bukan Allah yang selalu menerapkan peraturan-Nya sehingga manusia mau tidak mau harus tunduk. Oleh sebab itu jangan salah paham, semua dosa yang kita pikul bukan merupakan kehendak Allah tetapi kehendak kita yang senantiasa melawan Tuhan. Dosa kita juga muncul dari ketidaktaatan kita pada-Nya.

Ada seorang bapa yang mempunyai seorang anak laki-laki, sejak kecil bapanya membiayai dia di sekolah yang terkenal dan setelah tamat SMA anaknya ini ingin menjadi insinyur, tetapi bapanya melarangnya, sang bapa ingin anaknya menjadi dokter. Ia tidak memberikan kebebasan kepada anaknya, tetapi ia memaksakan kehendaknya, ia tidak mau tahu yang penting anaknya harus menjadi dokter. Sang anak dengan terpaksa masuk ke Fakultas Kedokteran, namun karena dengan terpaksa maka anaknya itu tidak begitu serius untuk menekuninya dan akhirnya ia gagal. Ia gagal bukan karena ia bodoh, tetapi karena ia memang tidak menyukai bidang ini. Ini merupakan gambaran tentang bapa yang di dunia, tetapi tidaklah demikian dengan Bapa kita yang di Sorga, IA memberikan hak kepada kita untuk memilih, IA tidak pernah mengikat kita, IA tidak pernah memaksa kita. IA bahkan selalu memberikan yang terbaik bagi kita, namun sering kali manusia menyalahgunakan haknya.

Di dalam hidup kita, Allah menghargai hak kita untuk melakukan segala sesuatu. Janganlah kita memakai hak yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk berbuat dosa. Jikalau Allah sudah begitu baik kepada kita, IA menghargai hak kita untuk melakukan segala sesuatu, marilah kita memakai waktu, kesehatan, dan kekuatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk melakukan hal-hal yang baik juga, sebab apabila sudah tiba waktu penghukuman maka Allah Yang Maha Adil akan menetapkan keputusan-Nya berdasarkan kesalahan manusia di dalam mempergunakan kebebasan mereka. Nah pada waktu itu kesempatan telah tidak ada, menyesalpun tidak ada gunanya.

II. Bapa Di Sorga Menanti Anak-AnakNYA Dengan Setia
Tindakan anak bungsu membuat sang bapa sangat sedih hati dan kecewa. Anak bungsu menjual seluruh hartanya lalu pergi ke negeri yang jauh dan di sana ia menghabiskan semua harta milik ayahnya dengan hidup berfoya-foya dan bersenang-senang, hidup di dalam dosa dan percabulan akhirnya ia menjadi miskin. Sewaktu miskin, maka semua teman-teman pestanya satu persatu pun meninggalkannya. Keahlian si anak bungsu tidak ada sama sekali, ia hanya bisa memberi makan babi, dan inilah satu-satunya pekerjaan yang dapat dikerjakan selama di kampong halaman. Menjaga babi merupakan pekerjaan sangat menjijikkan bagi orang Yahudi; karena mereka memandang babi sebagai binatang yang paling najis. Tatkala si bungsu memberi makan babi, ia baru sadar bahwa sebenarnya ia telah berbuat salah pada bapanya, ia lapar tetapi tidak ada makanan yang boleh dia makan. Ia kemudian bernostalgia; tatkala ia berada di rumah bapanya, tidak akan begitu susah; makanan tersedia berlimpah. Akhirnya ia tidak dapat lagi menahan kelaparannya maka ia makan makanan babi itu juga. Semantara itu sang bapa setia menanti anaknya pulang. Lihat ayat 20a "Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya, ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya." Penulis yakin bahwa bapanya tentu tidak berdiri menunggu pada hari itu saja, ia saban hari berdiri di sana, menanti dan menanti anaknya.

Bapa kita di Sorga juga demikian, Ia senantiasa menanti anak-anak-Nya yang tidak setia dengan setia, walaupun anak-anak-Nya itu telah jauh dari-Nya, walaupun anak-anak-Nya tidak setia. Bapa yang di Sorga selalu dengan tangan terbuka menanti kita datang kembali kepada-Nya dengan setia.

Di dalam hidup kita, apabila kita merasakan sudah lama meninggalkan Tuhan, kita sudah lama hidup berkecimpung dalam dosa dan kenajisan, kita merasa begitu terikat dan sengsara, ingatlah bahwa Allah Bapa sedang menanti kita dengan setia agar kita pulang kembali kepada-Nya. Kalau kita merasa sudah lama meninggalkan Tuhan dan ingin kembali kepadaNya, mulailah saat ini juga, jangan tunda lagi.Tuhan senantiasa menanti kedatangan kita dengan setia.

III. Bapa Di Sorga Memberikan Pengampunan Kepada Anak-AnakNYA
Ketika anak yang bungsu ini menyesal, bertobat dan pulang ke rumah bapanya; maka bapanya mendapatkan dia, lalu memeluk dan mencium anaknya sebagai tanda pengampunan sebelum anaknya itu sendiri mengatakan sesuatu. Tatkala si bungsu berkata "Bapa, aku telah berdosa terhadap Sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa." Bapanya segera memanggil para pelayannya dan berkata : "Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersuka-cita."

Semua ini menunjukkan bahwa sang bapa menyambut dengan hangat kedatangan anaknya dan memperlakukannya dengan sikap yang menghargai. Lalu dikenakan jubah kepadanya yang melambangkan kebenaran, perangai yang suci. Tangannya diberi cincin yang melambangkan hak atau kuasa menjadi anak Allah. Kakinya dipakaikan sepatu yang baru melambangkan seseorang yang kembali kepada Tuhan dan Yesus Krisrus telah memberilkan kepada kita darah-Nya yang mulia untuk pengampunan dosa kita. Saudara, Bapa yang di Sorga memberikan pengampunan kepada anak-anakNya yang mau bertobat dan datang kepada-Nya karena Tuhan Yesus Kristus telah menebus dosa kita dengan darah-Nya yang mulia.

Sering kali di Surat Kabar kita membaca berita yang berbunyinya demikian: "Mulai hari ini, tanggal, bulan dan tahun, anak kami yang bernama, alamat, pekerjaan, tidak lagi kami akui sebagai anak. Oleh sebab itu segala tindak-tanduknya sudah berada di luar tanggung jawab kami. Tanda tangan, orang tua, nama jelas." Ini adalah suatu gambaran tentang orang tua yang tidak bisa mengampuni anaknya, tetapi Bapa yang di Sorga tidak demikian. Bapa kita yang di Sorga senantiasa memberikan pengampunan kepada anak-anak-Nya walaupun dosa mereka merah seperti Kirmizi, apabila kita bertobat dan meminta pengampunan dari-Nya, Tuhan akan memutihkannya seperti salju. Luar biasa.

Demikianlah dalam hidup kita ini, apabila kita menyesal atas segala perbuatan dosa kita yang sudah terlanjur dilakukan; kemudian kita bertobat maka Tuhan pasti menerima kita kembali dan memberikan pengampunan kepada kita melalui darah-Nya yang Kudus. Di dalam 1 Yohanes 1:9 di situ dikatakan "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

Marilah kita mengaku dosa-dosa kita karena Bapa yang di sorga memberikan pengampunan kepada kita anak-anak-Nya. Sekarang juga telah tersedia Anugerah bagi siapa saja yang mau mengakui dan menyatakan kesalahannya dan minta pengampunan pada Tuhan. Kita telah melihat bagaimana sikap Bapa kita yang di Sorga terhadap anak-anak-Nya, Ia menghargai hak mereka, Ia menantikan mereka dengan setia dan Ia memberikan pengampunan bagi mereka. Sekarang biarlah kita datang pada Tuhan, kembali pada-Nya, minta supaya hidup kita diperbaharui.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar