Mesin Pencarian

Sabtu, 03 Januari 2009

Menyoal Pemahaman Kemartiran Yang Keliru

MEMAHAMI realitas terorisme dengan *suicide bombings* yang merebak di mana-mana, banyak orang bertanya, apakah mereka yang mati atas nama agama atau demi nama Tuhan itu sungguh orang yang beriman sejati?

Ataukah orang- orang yang tidak memahami ajaran agamanya dengan baik?

Persoalan ini sangat pelik dan perlu keberhati-hatian untuk mencernanya. Untuk itu pengertian yang benar tentang makna kemartiran perlu dibahas, sehingga konteks berpikir tentang paham kemartiran yang keliru bisa dihindari. Saat ini kita dihadapkan kembali dengan bom di Pulau Dewata Bali yang damai tenteram.

Ada dugaan besar bahwa pengeboman ini adalah tindakan *suicide bombing*. Dalam keadaan hiruk pikuk ini, kita patut berpikir kritis tentang pemahaman kemartiran yang keliru di balik *suicide bombings*, dan bisa mengambil tindakan yang tepat.

Kata "martir" berasal dari kata Yunani *martus* yang berarti saksi, yakni seorang yang bersaksi atas suatu fakta yang dia ketahui dari hasil pengamatannya pribadi. Dalam perkembangan waktu, makna kata martir bergeser ke dalam konteks religius.

Kemudian dalam kamus modern, *Cambrigde Advance Learner's Dictionary*, martir diartikan sebagai orang yang menderita besar atau dibunuh karena kepercayaan religius atau politis mereka, dan seringkali mereka dikagumi karenanya (*a person who suffers greatly or is killed because of their political or religious belief, and is often admired because of it*).

Jika disimak definisi tersebut dengan teliti, seorang martir adalah seorang yang "menderita besar" atau seorang yang "dibunuh." Mereka berpegang teguh pada kepercayaannya sampai rela menumpahkan darahnya sendiri dan mati dibunuh orang lain, namun tidak pernah menumpahkan darah orang lain.

*Risiko*

Kematian dalam kemartiran yang sejati bukanlah tujuan, melainkan suatu risiko yang ditanggung atas kepercayaan seseorang. Seorang martir sejati tidak dengan sengaja mencari maut agar mendapatkan gelar kemartiran. Mereka tidak pernah mencari gelar kemartiran dengan memberikan diri untuk dibunuh.

Tapi yang terjadi mereka setia pada kepercayaannya dan apapun yang terjadi mereka rela menanggungnya, bahkan kematian. Martir adalah korban kekejian orang lain yang tidak memiliki kepercayaan yang sama.

Untuk memfokuskan diri pada problem paham kemartiran yang keliru, kita ambil contoh *suicide bombers*. Ada suatu error dalam pola pikir mereka yang merancang atau yang melakukan *suicide bombings*. Mereka berpegang teguh, yakin pada imannya tentang kemartiran yang keliru secara mendangkal sampai menumpahkan darah orang lain.

Sebagai akibatnya mereka juga dengan sengaja menumpahkan darahnya sendiri dan mati membunuh diri. Kematian bagi para *suicide bombers* ini adalah tujuan karena mereka bertujuan membunuh orang lain dan diri sendiri atas dasar kepercayaan yang keliru. Jadi apakah para *suicide bombers* itu martir? Apakah mereka mati suci? Sampai di sini kesimpulan yang cerdas sudah bisa kita ambil sendiri.

Sekarang masalahnya adalah, mengapa sampai terjadi fenomena *suicide bombers *? Realitas ini sungguh kompleks. Dalam bukunya *Teror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence* (University of California Press, 2000), Mark Juergensmeyer dengan cerdas menganalisis adanya konsep *cosmic war* dalam konteks pemikiran agama-agama.

Ada suatu *grand narrative* peperangan antara yang baik dan yang jahat. Karena konteksnya suatu perang, maka dibutuhkan peran pahlawan dan musuh. Jika musuh tidak ada, musuh maka bisa direkayasa, bisa dipolitisir. Untuk menghancurkan musuh dibutuhkan sikap pengorbanan dari para pahlawan, atau lebih tepatnya "martir."

Korban bermakna menjadikan suci (sacrifice: sacer-facere), jadi mereka yang mengorbankan diri menjadikan diri suci.

Juergensmeyer menambahkan: "...*suffering imparts the nobility of martyrdom...the image of cosmic war forge failure - even death - into victory.*" Jadi mereka yang mati demi agama dan Tuhan, dan membunuh musuh agama dan musuh Tuhan dianggap sebagai martir yang mati suci.

Paham yang keliru ini bertambah parah, ketika dalam konteks *cosmic war,*konsep "musuh" yang bisa jadi direkayasa dan dipolitisir itu mendapatkan makna de-personifikasi atau de-humanisasi. Musuh, yakni sesama manusia, dianggap sesuatu entitas yang sub-human, dan ditolak kemanusiawiannya.

Maka, janganlah heran kemudian timbul istilah: kutu busuk, anjing, hewan biadab, bahkan setan untuk musuh. Musuh adalah makhluk jahat bukan manusiawi yang patut dihancurkan.

*Keliru*

Inilah latar belakang pemahaman kemartiran yang keliru. Sebagai contoh kasus konkret, jika dicermati kembali istilah "*suicide bomber,*" istilah ini mengemban dua problem serius dalam tatanan moral. Pertama adalah suicide/bunuh diri. Ajaran moral agama yang benar, jika dicerna dengan nurani yang bersih dan murni, serta akal budi yang sehat, akan menolak bunuh diri.

Setidaknya, agama-agama monotheistik menolak bunuh diri, baik sebagai sarana maupun tujuan. Pertanyaannya sekarang, apakah manusia berhak menghabisi hidupnya sendiri? Tentu saja tidak.

Paham agama yang benar mengajarkan bahwa hidup manusia adalah suatu pemberian dari Yang Mahakuasa. Teologi moral mengajarkan bahwa hidup manusia itu adalah anugerah dari Sang Pencipta. Jadi hidup atau mati adalah hak dari yang memberi hidup.

Manusia, sebagai pihak yang diberi, patut menghargai dengan sungguh anugerah kehidupan ini. Inilah yang dikenal dengan semangat *stewardship* dari pihak manusia kepada Sang Pemberi Hidup. Manusia bukanlah penguasa atas hidupnya sendiri, tapi hanyalah seorang *steward* di hadapan Yang Mahakuasa.

Membunuh diri itu melanggar dan menolak hak Allah sebagai pemberi dan penguasa hidup manusia. Manusia tidak berhak mengambil hidupnya sendiri.

Jika manusia tidak berhak begitu saja mengambil atau menghabisi hidupnya sendiri, *apalagi* mengambil hidup orang lain. *Bomber* adalah istilah kedua yang perlu dicermati. Para peledak bom dalam *suicide bombings* menganggap orang lain yang menjadi sasarannya sebagai musuh dengan segala atribut depersonifikasi dan dehumanisasinya.

Seringkali *de facto* "musuh" yang menjadi sasaran itu adalah musuh rekayasa. Rekayasa dari para elite politik yang mempunyai kepentingan tertentu. Orang-orang yang menjadi sasaran bom adalah orang-orang yang tidak bersalah apa-apa.

Apa salah orang yang mengendarai kereta api bawah tanah? Apa salah orang yang bersantai dalam restoran? Apa salah orang yang bekerja di gedung-gedung pencakar langit? Apakah mereka adalah musuh politik yang sedang diincar sasarannya? Bukan.

Mereka adalah *the innocent people *yang dianggap musuh, sedangkan mereka sebenarnya bukanlah musuh*. *Secara moral*, direct killing of the innocent people *pasti ditolak oleh instansi agama manapun di dunia ini.

Dua *logical errors* mengakar dalam fenomena *suicide bombers*, semuanya bersumber pada paham kemartiran yang keliru. Paham keliru ini bukan milik salah satu agama saja. Kalau tidak berhati-hati, paham keliru ini bisa menyebar menjadi milik semua agama, jika mereka mengarah pada fundamentalisme dangkal dalam penghayatan imannya.

Pemahaman kemartiran yang keliru ini perlu dicermati supaya tidak merebak dan berkembang ke mana-mana. Agama adalah sarana perdamaian, bukan alat kekerasan. Paham kemartiran yang keliru ini adalah hasil dari perkawinan agama dengan politik.

Tentu saja untuk mencapai tujuan politik tertentu, alat yang sangat mudah untuk membangkitkan semangat heroisme dangkal adalah agama. Memisahkan agama dari politik membuat agama bertumbuh dalam ruangnya yang sejati. Jika agama bertumbuh dalam ruang kesuciannya yang sejati, maka agama kembali dapat "menyembuhkan" politik, yakni bukan menuturkan *the grand narrative of cosmic war*, tapi menuturkan dan mengusahakan keadilan dan perdamaian.

"Biarlah kasih dan kesetiaan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman" (Kitab Mazmur 85:11). Semoga kita dengan cerdas dan dengan iman yang baik dan benar menyikapi pemahaman kemartiran yang keliru ini. Damai di bumi.

Penulis adalah pemerhati masalah etika, tinggal di Washinton DC (Seorang Romo Karmel dari Indonesia, tinggal di Biara Karmel Whitefriars Hall dan sedang menyelesaikan study di CUA, Washington DC)

"Exemplum esto fidelium in verbo in conversatione in caritate in fide in castitate." (1 Tim 4:12b)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar