Mesin Pencarian

Jumat, 02 Januari 2009

Titipan-Titipan Tuhan Di Tangan Kita

Suatu saat, ketika suster anak saya mau mengundurkan diri, saya bertanya tentang kesannya selama dia ikut ke gereja. Dia mengatakan sangat berkesan atas kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus atas umatNya. Lalu saya mensharingkan tentang keberdosaan manusia, akibat dosa dan keselamatan oleh Kristus. Puji Tuhan! Dia mau menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dan akhirnya dia mau ke gereja di desanya. Setelah itu, saya mengatakan kepadanya bahwa dia adalah orang yang sangat beruntung. Tuhan sangat mengasihi dia sehingga “menitipkan” dia untuk bekerja di keluarga saya, berkesempatan ikut ke gereja, mendengarkan injil dan akhirnya bertobat kepada Tuhan. Dari pengalaman ini, saya mempelajari dua hal:

Pertama, saya sadar bahwa sebenarnya Tuhan menitipkan kepada saya bukan hanya dia, tetapi masih banyak orang di sekeliling saya di mana saya berkesempatan memberitakan Injil, baik karyawan, keluarga, teman sekolah, relasi bisnis, orang yang duduk di samping saya ketika di kereta api, dll. Sebenarnya banyak orang yang dititipkan Tuhan kepada kita, tetapi maukah kita menangkap kesempatan itu? Sebenarnya banyak orang yang dititipkan Tuhan kepada kita, tetapi maukah kita menangkap kesempatan itu? Atau kita hanya menunggu orang datang kepada kita dan menanyakan tentang Tuhan Yesus? Jika kita hanya menunggu, tanpa sadar kita telah melewatkan begitu banyak kesempatan mengabarkan Injil dan akibatnya seumur hidup kita hanya akan memberitakan Injil ke beberapa orang saja.

Dalam dunia kerja, kita mengenal istilah “menjemput bola.” Bagaimanakah dengan pekerjaan Tuhan? Bukanlah kita juga harus menjemput bola? Kita harus berusaha menangkap setiap kesempatan memberitakan Injil dengan tetap setia. Dalam memberitakan Injil, yang terpenting bukan sukses karena orang yang kita Injili mau bertobat, tetapi apakah kita mau setia memberitakan Injil. Tak lama, ketika memberitakan Injil saya ditolak dengan sopan oleh orang yang duduk di sebelah saya (di dalam kereta api). Hal ini bukan masalah yang besar karena bagi yang terpenting adalah saya telah berusaha dengan sopan sehingga tidak menyinggung perasaannya. Mungkin, suatu saat nanti ketika orang lain mengabarkan Injil kepadanya, dia mau menerima Tuhan Yesus.

Kedua, memberitakan Injil bukan hanya melalui mulut saja, tetapi juga melalui perbuatan kita. Suster anak saya ternyata banyak bertemu orang Kristen yang baik. Saya pun banyak bertemu orang yang terbuka mendengar Injil karena mereka mempunyai banyak pengalaman baik dengan orang Kristen. Mereka benar-benar seperti tanah yang subur yang siap mendengar Injil. Begitu juga dengan orang di kereta api, bapak tersebut seorang Muslim, tetapi dia mempunyai banyak pengalaman baik dengan keluarga juga temannya yang beragama Kristen, sehingga saat memberitakan traktat, dengan sedikit takut kalau dilihat orang lain, dia bertanya apakah traktat tersebut boleh dia miliki? Puji Tuhan! Sebaliknya saya juga pernah beberapa kali bertemu dengan orang yang sulit menerima Injil. Ternyata mereka mempunyai pengalaman buruk dengan orang Kristen. Ternyata kesaksian hidup sangat penting bagi sekeliling kita. Ada pepatah mengatakan, “Sikap adalah 90 % kesuksesan.” Bagaimanakah sikap kita saat berhubungan dengan karyawan kita, rekan kerja, keluarga, dan teman-teman kita? Apakah kita sudah memancarkan keindahan Tuhan? Biarlah Tuhan memampukan kita menjadi anakNya yang memberitakan Injil, baik melalui mulut maupun melalui kesaksian hidup kita. Soli Deo Gloria.

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Yohanes 9:4

Sumber: Tell The Truth Edisi 29, Juli 2008, Warta Tim Kerja Penginjilan GRII – Andhika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar