Mesin Pencarian

Jumat, 02 Januari 2009

Injil Menembus Keterbatasan

Hari sabtu 14 Juni 2008, seperti biasa kami melakukan PI di rumah sakit Adi Husada Undaan. Kami bertemu dengan seorang Bapak. Beliau bernama Bpk. Singgih. Saat itu beliau sedang menemani ayahnya yang menderita sakit komplikasi. Bpk. Singgih ini pendengarannya kurang baik sehingga harus menggunakan alat bantu. Awalnya kami akan menceritakan Injil kepada ayahnya yang sedang terbaring tetapi karena kami melihat kondisi ayahnya sedang tidur, kami pun mulai mengajak Bpk. Singgih berbicara. Beliau beragama Buddha. Saya berusaha menceritakan tentang Tuhan Yesus kepadanya. Oleh karena pendengarannya kurang maka dia minta diulang lagi apa yang sudah saya sampaikan dan saya pun mengulang kembali apa yang telah saya sampaikan dengan lebih lambat. Ternyata bapak itu melihat gerak mulut saya supaya bisa mengerti apa yang saya sampaikan. Sesudah selesai menceritakan berita Injil, saya mencoba bertanya kepada beliau apakah tahu jika bahwa dirinya adalah manusia berdosa. Beliau menjawab “ya”, lalu saya mengajukan pertanyaan kedua padanya, apa bapak mau percaya kepada Tuhan Yesus. Puji Tuhan! Beliau menjawab “ya.”

Sesudah itu saya mengajak beliau untuk berdoa dengan mengikuti apa yang saya ucapkan. Namun karena bapak ini bermasalah dengan pendengarannya, sesudah saya mengucapkan doa bapak tersebut belum mengikuti sehingga saya membuka mata dan ternyata bapak itu berkata, “Saya tidak bisa mendengar dengan jelas; banyak sekali suara dalam ruang ini sehingga saya tidak bisa fokus mendengar.” Sambil mengambil alat bantu dengarnya, beliau mencoba mendengar tanpa alat bantu ternyata hasilnya jauh lebih buruk dan beliau tidak dapat mendengar sama sekali. Dalam hati saya berdoa, “Tuhan bukankah hari ini adalah anugerah bagi bapak ini, dia bisa mendengar berita Injil walaupun dengan pendengaran yang terbatas. Tuhan tolonglah agar beliau ini bisa mengikuti doa dan percaya kepadaMu.”

Hati saya merasa sangat kasihan kepada beliau, karena beliau berusaha dengan sungguh mendengarkan agar mengikuti doa saya. Terlebih lagi, perawat yang khusus merawat ayah beliau ikut berdoa dengan kita sampai-sampai dia pun menangis melihat bagaimana Bpk. Singgih berusaha untuk berdoa dengan keterbatasan pendengarannya. Akhirnya perawat tersebut keluar dari ruangan karena tidak lagi sanggup melihat keadaan beliau. Akhirnya kami berdoa dengan mata terbuka dan beliau pun mencoba mengikut I dengan serius dan hampir menangis. Sungguh kami melihat bagaimana keterbatasan beliau dalam mendengar tidak membatasai kuasa dan anugerah Tuhan kepadanya. Setelah itu kami bertanya apakah kami atau rekan yang lain boleh mengunjunginya lagi di rumahnya, lalu beliau mengiyakan. Kami sungguh bersyukur diberi kesempatan memberitakan Injil pada Bpk. Singgih dan melihat bahwa Tuhan sangat mengasihi beilau dalam segala keterbatasan sehingga beliau masih diberi kesempatan untuk mendengar Injil dan dapat percaya kepada Tuhan Yesus. Soli Deo Gloria.

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, KARENA INJIL ADALAH KEKUATAN ALLAH yang menyelamatkan setiap orang yang percaya …” Roma 1:16

Sumber: Tell The Truth Edisi 30, Agustus 2008, Warta Tim Kerja Penginjilan GRII – Andhika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar