Mesin Pencarian

Jumat, 02 Januari 2009

BISMILLAH

Pada kesempatan tanya jawab pada acara ceramah soal '*Nama Allah*' baru-baru ini, ada peserta yang bertanya: " *Bolehkah umat kristen mengucapkan Bismillah? Soalnya, bukankah itu ucapannya orang Arab dan Islam?*"

(Bismillah dalam bahasa Indonesia adalah '*Dalam Nama Allah*').

Pertanyaan ini timbul dilatar belakangi kekurang-tahuan yang dicampur-adukkan dengan prasangka dan sikap alergi terhadap semua yang berbau Arab dan Islam, seakan-akan yang Arab itu pasti Islam dan yang Islam itu pasti Arab. Kerancuan berfikir demikian seharusnya hilang dari pemikiran karena Arab tidak identik dengan Islam, dan orang Arab yang beragama Yahudi dan Kristen sudah jauh ada sebelum adanya agama Islam, dan bahasa Arab sudah hadir di Timur Tengah jauh sebelum penulisan Al-Quran.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama, di masa Raja Salomo sudah disebutkan adanya raja-raja *Arab *(1 Raj.10:15). Dalam kitab Yesaya orang *Arab* sebagai pengembara yang berkemah (nomad, Yes.13:20), *Arabia *disebutkan dalam Yes.21:13, dan Yeremia menyebut orang *Arab* yang di padang gurun (Yer.3:2). Dalam Perjanjian Baru sudah disebutkan bahwa ada orang *Arab* hadir dalam peristiwa di hari Pentakosta dan mendengar kotbah Petrus dalam bahasa *Arab* (Kis.2:11), demikian juga rasul Paulus dalam pertobatannya pergi ke tanah *Arab *dan Siria (Gal.1:17) dan Hagar (Ibu dari Ismael yang adalah salah satu jalur nenek-moyang *Arab*) disebut sebagai gunung Sinai di tanah *Arab *(Gal.4:25). Semua yang disebutkan disini terjadi jauh sebelum kehadiran agama Islam di abad-7M.

Pada konsili-konsili awal Gereja Kristen mula-mula, sudah ada wakil orang *Arab *beragama Kristen dan beberapa uskup berbangsa *Arab *hadir disitu. Di tahun 225 terdapat keuskupan di Beth-Katraye di wilayah Quatar. Kekristenan mengalir ke suku-suku Himyar, Ghasan, Taglib, Tanukh, Tayy dan Quda'a, jauh sebelum kedatangan agama Islam. Seorang ratu *Arab*, Maria namanya, beragama Kristen. Dia pernah mengundang uskup Musa untuk tinggal di tengah bangsanya (Anton Wessels, *Arab dan Kristen*, BPK-GM, 2002, hlm.33, dikutip dari Azis A. Atiya, *A History of Eastern Christianity, London *, 1968, hlm.258).

Sekarang bagaimana dengan ucapan *Bismillah *yang artinya '*Dalam Nama Allah *' itu? Nama Allah itu nama Tuhan siapa dan yang mana? Tuhan orang Arab atau juga Allah orang Yahudi dan Kristen dalam bahasa Arab?

Menarik untuk diketahui bahwa dalam Tenakh Yahudi, kata '* Alaah*' (hla, alef-lamed-he) bisa berarti 'sumpah' (1 Raj.8:31; 2 Taw.6:22) tetapi juga menjadi kata dasar dari kata '*Eloah *' dan '*Elohim*'. Fakta menunjukkan juga bahwa kata '*Alaah*' (hla) dalam kitab Ezra 5:1 sekalipun ditulis dalam aksara Ibrani di mengerti dalam bahasa Aram sebagai 'Alaah' yang artinya sama dengan El/Elohim/Eloah Ibrani (ayat itu berbunyi ' *Bashum Alaah Yisraeel*'

- Dalam Nama Allah Israel. Dalam Ezr.6:14 juga ditemukan kalimat '*Alaah Yisraeel*' – lihat Interlinear Bible dalam PC Study Bible. Bandingkan ini dengan '*Elohe Yisrael*'). Perlu diketahui bahwa dalam Tenakh (PL) sebagian kitab Ezra (4:8 – 6:18;7:12-26), Daniel (2:4b – 7:28), dan Yeremia (10:11) ditulis dalam bahasa Aram tetapi dengan aksara Ibrani.

Jadi nama Allah itu sudah lama dipakai dikalangan Israel yang berbahasa Aram dimana Ezra menuliskannya dalam suratnya, dan ucapan ' *Bashum Alaah*' (Ezr.5:1) dalam bahasa Aram yang dalam bahasa Arab menjadi '*Bismillah*' sudah lama digunakan oleh orang Yahudi jauh sebelum ada agama Islam. Kita tahu bahwa bahasa Aram itu salah satu nenek-moyang bahasa Arab.

Kelompok Pemuja Nama Yahweh yang sangat alergi nama 'Allah' dalam '*Kitab Suci Taurat dan Injil *' menerjemahkan Ezra 5:1;6:14 (Alaah Yisraeel) sebagai '*Eloim Israel*' dan dalam '*Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan*'

menerjemahkannya sebagai '*Tuhan Israel*.' Jadi, dalam konteks ayat-ayat Ezra 5:1;6:14, sebenarnya para pemuja nama Yahweh dalam kedua Kitab Suci itu mengakui juga bahwa ' *Allah adalah Eloim dan Tuhan Israel*.'

Pada Konsili Efesus (431) wilayah suku Arab Harits dipimpin uskup bernama '*Abd Allah*' (Hamba Allah). Inskripsi Zabad (512) diawali '*Bism al-Ilah*' (Dalam nama Allah) lengkap dengan tanda salib diikuti nama-nama Kristen, demikian juga Inskripsi 'Umm al-Jimmal' (abad-6) menyebut '*Allahu ghafran *' (Allah yang mengampuni). Inskripsi 'Hurran al-Lajja' (568) dan inskripsi lain pra'Islam' dari lingkungan Kristen menggunakan nama *Allah* pula. Jadi, umat Yahudi & Kristen berbahasa Arab sudah menggunakan nama 'Allah' jauh sebelum kelahiran agama Islam, dan ucapan *Bismillah *sudah digunakan oleh orang Yahudi berbahasa Arab, lama sebelum ada Islam bahkan pada abad-5sM sudah ditulis Ezra dalam kitabnya, dan tentu saja orang Kristen berbahasa Arab sejak abad-1 juga sudah menggunakannya. Rupanya, karena ucapan 'bismillah' sudah umum diucapkan oleh umat Yahudi dan Kristen berbahasa Arab sebelum kehadiran agama Islam, waktu penulisan Al-Quran, ucapan itu digunakan sebagai pembuka setiap Surat/surah.

Dari hal di atas kita tahu bahwa nama Ilah/Allah dalam bahasa Arab adalah padanan nama 'El/Elohim/Eloah' bahasa Ibrani dan 'Alah/Alaha/Elah/Elaha' dalam bahasa Aram Siria (kata sandang definitif 'ha' dalam bahasa Ibrani tidak biasa digunakan bila menunjuk pada El/Eloah/Elohim), dan ucapan Bismillah sekedar ucapan peneguh iman 'Dalam Nama Allah.'

Kita harus sadar adanya kenyataan bahwa sekarang ada 4 (empat) versi Alkitab dalam bahasa Arab yang digunakan umat Kristen berbahasa Arab dan ke-empatnya menggunakan 'nama Allah,' dan dalam keempat versi itu, Ezra 5:1 ditulis 'Bismillah' juga. Itu tidak berarti bahwa Alkitab bahasa Arab meniru ucapan dalam Alquran (Dalam Al-Quran ucapan 'Bismillah' menjadi pembuka setiap surat), karena sudah terbukti umat Yahudi dan Kristen berbahasa Aram/Arab sudah jauh sebelum Islam menggunakan nama dan ucapan itu. Saat ini bangsa Arab yang beragama Kristen jumlahnya sekitar 10 juta orang dan semuanya menggunakan 'nama Allah' dan mengucapkan 'Bismillah' juga!

Berdasarkan hal ini, pertanyaan peserta yang disebutkan di awal artikel ini bisa dijawab bahwa tidak ada salahnya kalau kita mengucapkan kata ' * Bismillah*' (dengan pengertian Alaah Yisraeel) kalau berhadapan dengan orang Arab atau yang beragama Islam, dan kalau kita ditanya mengapa menggunakan ucapan itu, kita dapat menjawab bahwa dalam Alkitab Perjanjian Lama sudah tertulis ucapan itu dalam dialek Aram yaitu ' *Bashum Alaah*' (Ezr.5:1, abad-6sM), 13 abad sebelum Al-Quran ditulis, Satu abad sebelum agama Islam lahir, Inskripsi Zabad dari kalangan Kristen Arab sudah menuliskan '*Bism al-ilah*' yang menunjukkan bahwa secara lisan ucapan itu sudah dipakai oleh umat Yahudi dan Kristen yang berbahasa Arab jauh sebelum digunakan dalam Al-Quran.

Sumber Artikel: Yabina Ministry

TUHAN, AJARKAN KAMI MEMBERITAKAN FIRMANMU

Judul di atas tidak pernah saya dengar secara langsung sebagai suatu doa yang dikatakan oleh pak Tong (Pdt. Dr. Stephen Tong, ed.). Namun yang pernah saya dengar adalah kesadaran akan ketidaksanggupan beliau ketika harus mengajar mata kuliah homiletika (ilmu berkhotbah, ed.), karena beliau sendiri berpendapat belum begitu bisa berkhotbah. Suatu kerendahan hati yang pura-pura supaya mendapat kemuliaan yang lebih tinggi? Saya kira tidak. Karena pengertian paradoks seperti ini tidak mungkin tidak beliau mengerti dari pengajaran Firman Tuhan sebagaimana diteruskan oleh para reformator.[1] Dan saya pikir pemahaman seperti ini bukan hanya cocok diterapkan untuk homiletika tapi juga untuk semua bidang yang lain.

Tulisan singkat ini tidak bermaksud untuk merepresentasikan homiletika yang diajarkan oleh pak Tong (lebih baik kita mendengar langsung dari beliau), namun sebagai suatu refleksi pribadi yang subyektif sifatnya, sejauh yang dapat saya cerna dan olah kembali. Saya akan mulai dari tiga, bahkan empat poin dasar yang seringkali dikatakan oleh pak Tong mengenai tugas khotbah.

Yang pertama, khotbah harus menyatakan otoritas dari Tuhan. Kita teringat perkataan Luther yang menyatakan bahwa seorang pengkhotbah setelah menyelesaikan khotbahnya tidak perlu meminta pengampunan mengenai kekurangan dan keterbatasannya, “for it is God’s Word and not (the preacher’s) and God ought not and cannot forgive it, but only confirm, praise, and crown it.”[2] Kedengarannya seperti bertentangan dengan pemahaman paradoks di alinea pertama tadi, mengapa tiba-tiba menjadi congkak di sini? Bukan bertentangan, melainkan ini adalah pengertian paradoks yang lain lagi: seorang pengkhotbah yang baik perlu menyadari ketidakberdayaannya, untuk dapat mengerti bahwa kemahakuasaan Tuhanlah yang sedang bekerja pada saat ia berdiri di atas mimbar. Ia tidak perlu merasa sungkan dan minder akan kekurangannya, karena justru melalui jalan itulah kuasa Tuhan dinyatakan secara sempurna.[3] Alangkah sulitnya untuk mengerti kebenaran yang sangat sederhana ini. Kita menjumpai mimbar-mimbar yang begitu confidence memberitakan ajaran-ajaran sesat yang tidak berasal dari Firman T uhan di satu sisi, dan di sisi yang lain pengkhotbah-pengkhotbah yang ‘minder’ dan ‘sungkan’ untuk menegur dosa mereka. Para pencari muka manusia seperti ini tidak mungkin sanggup untuk menyatakan kemuliaan wajah Tuhan yang berbicara melalui mimbar. Tidak ada otoritas, tidak ada penyertaan dari tempat yang tinggi.

Yang kedua, seorang pengkhotbah menyampaikan berita (message) yang relevan bagi pendengarnya. Ada perbedaan antara message dan information. Informasi hanya berupa data, tidak harus ada kaitan yang personal, juga tidak memiliki aspek momen waktu yang krusial. Sebaliknya, message sekalipun tidak harus selalu merupakan new insights, mungkin bahkan perkataan yang kita ‘sudah’ pernah mendengarnya, namun dibutuhkan pada saat itu, karena itu adalah sapaan pribadi dari Tuhan kepada masing-masing pendengar. Tidak ada salahnya dengan new insights yang menambah wawasan pengetahuan kita lebih luas dan kaya, namun ketika seorang menyampaikan Firman Tuhan, ia melakukan lebih daripada hal itu. Seorang pengkhotbah yang diurapi memiliki kepekaan rohani untuk membicarakan kalimat-kalimat yang menyelidiki hati manusia yang terdalam, sementara ia sendiri tidak tentu tahu pergumulan pendengarnya. Relevansi message yang disampaikannya didasarkan pada iman yang sederhana atas kemahatahuan Allah yang mengenal setiap kebutuhan domba-domba-Nya. Karunia nubuat seperti ini tentu adalah semata-mata pemberian Allah dan yang menjadi tanggung jawab si pemberita Firman adalah dia sendiri hidup bersama dengan domba-domba yang ia layani. Ia menderita dan terluka bersama dengan domba-dombanya. Ia sendiri menanggapi dan menggumuli hidupnya di hadapan Tuhan. Ia bukan mesin fotokopi dan ketika ia mengutip perkataan para orang saleh, ia dengan jujur dan tulus belajar untuk mencicipi kedalaman pergumulan jiwa mereka.

Yang ketiga, kuasa yang mengubah (transforming power). Seorang pengkhotbah yang diurapi Tuhan tidak sekadar tampil sebagai pembicara yang menarik. Menarik adalah satu hal, menyampaikan berita yang mengubah hati dan hidup manusia adalah hal yang lain lagi. Seorang pengkhotbah yang baik tidak mempedulikan apakah khotbahnya diterima dan diakui dengan baik atau tidak, melainkan ia mendorong semua pendengarnya untuk bertumbuh menjadi dewasa. Transforming power ini berkaitan erat dengan convincing power, sementara convincing power berkaitan dengan ketulusan dan kesungguhan kerinduan si pemberita untuk menaati apa yang ia sampaikan. Setiap pengkhotbah adalah orang berdosa yang selalu membutuhkan anugerah pengampunan Tuhan. Ia bukanlah orang yang sempurna dalam pengertian kesempurnaan yang mutlak kelak di sorga. Ia bahkan kadang juga gagal dalam kesaksian untuk menjadi teladan atas apa yang ia khotbahkan. Namun kesempurnaannya terutama terletak pada sikap hatinya yang menjadikan dirinya sendiri sebagai pendengar yang pertama terhadap khotbah yang disampaikannya. Bersama dengan orang-orang Puritan yang saleh, ia meneriakkan khotbah yang paling keras dan tajam kepada dirinya sendiri.

Yang keempat, dinamika. Ini mirip dengan apa yang sudah dibahas di atas tadi, yaitu kepekaan menangkap apa yang Tuhan mau katakan pada saat itu. Seorang pengkhotbah yang baik, mempersiapkan dengan baik khotbah yang akan disampaikannya. Ia bukanlah seorang yang ‘bergantung kepada kuasa Roh Kudus’ tanpa melakukan persiapan apa-apa. Lloyd-Jones (D. Martyn Lloyd-Jones, ed.) mengatakan agar setiap pengkhotbah mempersiapkan dengan baik khotbah yang akan disampaikan, “The great preachers have been men who prepared great sermons.”[4] (=Pengkhotbah agung telah menjadi orang yang mempersiapkan khotbah yang agung., ed.) Namun ketika ia berdiri di atas mimbar, ia harus mempersilakan Roh Kudus untuk memegang kontrol sepenuhnya atas setiap perkataan yang keluar dari mulutnya, “...though you may g o into the pulpit with what you regard as an almost perfect sermon, you never know what is going to happen to it when you start preaching...”[5] (=...meskipun Anda berdiri di atas mimbar dengan apa yang Anda anggap sebagai sebuah khotbah yang sempurna, Anda tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi ketika Anda mulai berkhotbah..., ed.) Dia sendiri menyaksikan bagaimana seringkali kalimat-kalimat yang terbaik yang diucapkan dalam khotbahnya justru merupakan kalimat yang tidak ada dalam persiapannya. Pengkhotbah yang terlalu bergantung pada persiapannya dan tidak terbuka pada pimpinan Roh Kudus secara mendadak di atas mimbar akan sulit untuk menyatakan dinamika ini. Sebaliknya, mereka yang hanya menantikan karya Roh Kudus namun tidak melakukan persiapan apa-apa adalah orang-orang yang tidak taat menjalankan bagian dan tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Beberapa poin tambahan lagi yang dapat kita pelajari dari pak Tong mengenai tugas khotbah yaitu suatu prinsip sederhana seperti kita warisi dari para reformator. Seorang pengkhotbah hanya memberitakan Kitab Suci. Calvin mengatakan, “The Spirit will not be a maker of new revelations.”[6] Sekalipun demikian, tugas seorang pengkhotbah adalah “to expound the scripture in the midst of the worshipping Church, preaching in the expectancy that God will do, through his frail human word, what He did through the Word of His prophets of old, that God by His grace will cause the word that goes out of the mouth of man to become a Word that proceeds from God Himself, with all the power and efficacy of the Word of the Creator and Redeemer.”[7] Keaslian (authenticity) seorang pengkhotbah bukanlah dalam pengertian ia memberitakan wahyu-wahyu baru yang tidak ada dan bahkan bertentangan dengan Alkitab, melainkan bahwa ia tetap setia memberitakan wahyu yang tua itu, namun yang senantiasa menjadi baru dan segar karena “as if men ‘heard the very words pronounced by God himself.”[8] Seorang pengkhotbah yang baik bergumul agar jemaatnya tidak melihat wajah manusia yang berdosa, melainkan kemuliaan wajah Tuhan yang sedang berkata-kata pribadi kepada domba-domba-Nya.

Dalam kaitan ini, pak Tong juga mengatakan bahwa kita perlu belajar beriman dan percaya bahwa Roh yang telah menggerakkan para nabi dan para rasul memberitakan Firman Tuhan adalah Roh yang sama yang juga dapat menggerakkan kita. Di sini, kita teringat perkataan seorang Elisa sebelum Elia terangkat ke sorga, “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.” (2 Raj. 2:9) Sayang sekali, di kalangan gereja-gereja Protestan tidak banyak pemberita-pemberita Firman yang memiliki urapan dan kuasa yang besar. Pengkhotbah-pengkhotbah yang hanya berusaha untuk menyenangkan pendengar dan jemaatnya dan tidak mencari kepenuhan kuasa dan kehadiran Tuhan dalam pelayanannya tidak mungkin dapat hidup memperkenan serta menyenangkan hati Tuhan.

Berbeda dengan pengkhotbah legendaris seperti Dr. Andrew Gih, pak Tong tidak berusaha untuk membujuk (persuade) pendengarnya untuk menerima kebenaran Injil Yesus Kristus. Seringkali pada saat calling beliau mengatakan, “Sekarang saya memberikan kesempatan terakhir bagi mereka yang mau menerima Tuhan ... setelah itu kesempatan akan ditutup.” Injil dan Firman Tuhan bukanlah sesuatu yang perlu diobral, karena bukan Tuhan yang membutuhkan manusia, tapi manusialah yang membutuhkan Tuhan dan Firman-Nya. Seorang theolog menggambarkan khotbah Jonathan Edwards demikian, “Rather than attempt to persuade the unconverted, Edwards tried by means of his preaching, in addition to offering the Word, (1) to provide the optimal conditions and circumstances within which conversion might take place, (2) to offer the logical connections between guilt and repentance so that those who have been or are being converted might better understand what is happening to them, and (3) to prevent the misinterpretation of pseudo-religious experience, especially by those who believe they have experienced grace but have not.”[9] Seorang pengkhotbah yang baik tidak menyayangkan perasaan pendengarnya agar jangan sampai dibuat terluka. Alkitab mengatakan, “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” (2Kor. 7:10)

Mungkin poin yang terakhir, seorang pengkhotbah yang baik setiap kali berdiri di atas mimbar, melihatnya sebagai kesempatan yang pertama kali, sekaligus yang terakhir kalinya. Sebagai yang pertama kali sehingga ia boleh senantiasa menjaga perasaan ketidaklayakan dan ketidakmampuan, supaya ia terus-menerus belajar bergantung kepada kuasa Tuhan. Sebagai yang terakhir kali sehingga ia berusaha untuk memberikan yang terbaik yang dapat ia berikan. Lloyd-Jones dalam bukunya Preaching and Preachers mengutip perkataan terkenal Richard Baxter, “I preach as never sure to preach again and as a dying man to dying men.”[10] Kaitan erat antara eschatological consciousness dengan hidup yang menggunakan waktu dengan baik sudah dicatat dalam Alkitab (Ef. 5:16). Ketika seseorang belajar untuk selalu melihat setiap kesempatan sebagai kesempatan yang terakhir, ia akan mempunyai cara pandang yang berbeda dalam melakukan segala sesuatu dalam hidup ini.

Dalam tulisan yang singkat ini, saya berharap dapat menggambarkan dengan gamblang bahwa homiletika Pdt. Stephen Tong mewarisi semangat dan pengertian yang dapat kita telusuri dalam sejarah Gereja, mulai dari Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, para reformator dan pengkhotbah-pengkhotbah yang diurapi Tuhan. Kiranya kita dengan rendah hati boleh belajar dari kehidupan Kristus sebagaimana dinyatakan dalam hidup hamba-hamba-Nya yang dikasihi-Nya. Sola Gratia. Sola Fide. Solus Christus. Soli Deo Gloria!

Sumber :

Handout khotbah Pdt. Billy Kristanto di sesi Worker di National Reformed Evangelical Convention (NREC) 2007.

Disalin ulang dan diedit oleh :

Denny Teguh Sutandio, S.S./ div>

(proofreader di Momentum Christian Literature, Surabaya)

Profil Pdt. Billy Kristanto :

Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.) lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. Setelah lulus SMA melanjutkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Mitzi Meyerson (1990-96).

Setelah lulus dari situ melanjutkan post-graduate study di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory) di Den Haag, a conservatory with the largest early music department in the world (mempelajari historical performance practice). Belajar di bawah Ton Koopman, seorang dirigen, organis, cembalis dan musicolog yang sangat ahli dalam interpretasi karya J. S. Bach. Selain itu juga mempelajari fortepiano di bawah Prof. Stanley Hoogland.

Setelah lulus dari situ pada tahun 1998 pulang ke Indonesia, lalu melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) di Jakarta pada Februari 1999. Pada tahun yang sama memulai study theologi di Institut Reformed di Jakarta. Lulus pada tahun 2002 dengan Master of Christian Studies (M.C.S.). Sejak tahun 2002 sampai sekarang menjabat sebagai Dekan School of Music di Institut Reformed Jakarta serta menggembalakan jemaat Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Jerman : Berlin, Hamburg dan Munich. Beliau ditahbiskan menjadi pendeta sinode Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) pada Paskah 2005 dan saat ini sedang menyelesaikan studi doktoral di bidang filsafat musik di Universitas Heidelberg, Jerman. Beliau menikah dengan Suzianti Herawati dan dikaruniai seorang putri, Pristine Gottlob Kristanto.


[1] Bandingkan perkataan Paulus bahwa di antara orang berdosa, dialah yang paling berdosa (1Tim. 1:15).

[2] Luthers Works Vol. 41, American ed., ed. by Jaroslav Pelikan and Helmut T. Lehmann (St. Louis: Concordia Publishing House; Philadelphia: Fortress, 1958-86), 216.

[3] Bersama dengan Paulus, ia mengatakan, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2Kor. 12:10)

[4] D. Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids, Mich.: 1972), 79.

[5] Ibid., 80.

[6] Commentary on John 14:26, Calvini Opera Vol. 47, 334-335. Quoted in Haroutunian, Calvin: Commentaries, 397.

[7] Ibid.

[8] T. H. L. Parker, The Oracles of God: An Introduction to the Preaching of John Calvin (London and Redhill: Lutterworth, 1947), 50. Ia mengacu pada Calvini Opera Vol. 25, 646.

[9] Stephen R. Yarborough and John C. Adams, Delightful Convinction: Jonathan Edwards and the Rhetoric of Conversion, Great American Orators, no. 20 (Westport, Conn., and London: Greenwood, 1993), 10.

[10] Lloyd-Jones, Preaching and Preachers, 86.

PERMAISURI LUCIFER

Pada suatu hari, seorang paranormal, datang berkunjung ke rumah Pak Bambang Prasetyo, ayah Lala. Paranormal yang adalah tetangga Lala itu mengatakan bahwa ada sesuatu yang khusus pada Lala, kesaktian supranatural dari Kakek Lala akan turun kepada Lala, anak ke-2 dari 2 bersaudara itu.

"Ketika Paranormal itu meminta Lala untuk berpuasa, saya pikir itu bukanlah sesuatu yang berbahaya buat anak saya," ujar Pak Bambang, yang sebelum menikah dengan Ibu Annie memeluk agama Islam. Lala pun mulai berpuasa. Ia menerima anjuran itu. Sang paranormal berkata bahwa ilmu yang Lala miliki bisa digunakan untuk kebaikan dan menolong banyak orang. Salah satunya menyembuhkan orang sakit. Meskipun masih ragu, namun Lala menurutinya. Paranormal itu menasihatkan Lala untuk hidup jujur, jangan curang dan berbuat tidak benar, sehingga Lala semakin tertarik. Bahkan ia menyampaikan pesan Kakek Lala supaya Lala rajin belajar. Lala juga percaya bahwa itu benar.

Kejadian Supranatural

Satu hari setelah berpuasa dan mengikuti ritual yang disarankan, Lala bisa melihat dan berbicara dengan arwah yang sudah mati. Arwah-arwah itu berwujud manusia dan sering mendatangi Lala sambil menitipkan pesan untuk keluarga yang mereka tinggalkan. Salah satu arwah berpesan kepada anak-anaknya supaya mereka segera berkunjung ke kuburannya. Kemudian Lala menyampaikannya.

Suatu ketika, Lala menyadari bahwa ia memiliki kemampuan untuk memindahkan barang apa pun tanpa menyentuhnya. Cukup dengan berkonsentrasi maka barang tersebut akan bergerak ke mana pun Lala kehendaki. Bahkan orang sakit dapat Lala sembuhkan.

Memasuki tahun 2001, Lala bertemu dengan Sunan Gunung Jati dan Sunan Kali Jaga. Ia bisa pindah ke satu tempat ke tempat lain, muncul pada saat orang lain tidak melihatnya. Setiap kali mengisi bensin di sebuah pom bensin, kasirnya selalu berkata bahwa Lala sudah membayarnya. Padahal Lala tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Kejadian-kejadian itu membuat Lala semakin disanjung oleh teman-temannya. Namun teman-teman Lala yang beragama Kristen tidak menunjukkan kekaguman kepada Lala, sehingga Lala merasakan suatu kejanggalan.

Tamu Misterius Datang Ke Dalam Kamar

Suatu hari, sepulangnya Lala dari kampus, ia melihat seorang laki-laki berwajah tampan sedang duduk di atas tempat tidurnya. Mukanya telihat halus dan licin. Lala hendak memarahinya karena ia lancang masuk ke dalam kamar, namun mulut Lala tidak dapat mengeluarkan suara.

Laki-laki itu menatap Lala dengan tatapan tajam lalu berkata, "Kamu adalah pilihanku, dan kamu akan kujadikan permaisuri. Akan kuberikan semua fasilitas yang kamu butuhkan, rumah, uang, mobil dan harta yang melimpah, sehingga kamu tidak merepotkan orang tuamu lagi." Lala sempat terbuai dengan tawaran itu. "Jika kamu menjadi permaisuriku maka kita berdua akan membuat Bandung berdarah," ucap laki-laki itu lagi. Lala mulai ketakutan dan sadar bahwa laki-laki ini bukan manusia. Mulutnya yang sempat terkunci tiba-tiba bisa berbicara kembali.

"Saya tidak mau," jawab Lala. Wajah laki-laki misterius itu berubah menjadi tidak bersahabat, seperti penuh dengan amarah. Dalam sekejap mata tiba-tiba ia menghilang dari kamar Lala. Dan seiring kepergiannya, terasa guncangan hebat dalam kamar Lala sehingga membuat seisi kamarnya berantakan. Bahkan orang tua Lala yang sedang berada di lantai atas ikut merasakan guncangan tersebut. Perasaan Lala mulai tidak karuan. Ia mulai merasa khawatir dan bertanya dalam hati, apa yang sekiranya akan terjadi dalam hidupnya setelah kejadian ini.

Teror Akibat Dendam Amarah Lucifer

Lima hari berlalu dari kejadian itu, ternyata belum terjadi apa-apa dalam kehidupan Lala. Ia pergi ke kampus seperti biasanya. Ketika pulang kuliah, ia melihat keadaan di dalam mobilnya berantakan. Tiba-tiba saat ia hendak masuk ke dalam mobil, pintu mobil Lala tertutup sendiri dan terbanting keras sehingga menjepit tangan Lala. Lala menjerit kesakitan namun tidak ada satu orang pun yang mendengarnya. Setelah cukup lama menahan sakit, barulah pintu itu terbuka kembali dan Lala dilarikan oleh satpam kampusnya ke rumah sakit Bandung.

Keesokan harinya, di saat Lala sedang jalan-jalan dengan teman-temannya, sesuatu yang keras seperti memukul kepalanya. Teman-teman Lala tidak melihat apa-apa, bahkan menganggap Lala hanya bergurau. Sampai tiba-tiba wajah Lala lebam dan terluka dengan sendirinya. Hanya Lala sendiri yang merasakan pukulan-pukulan itu. Seperti ada roh halus yang sedang menghajarnya.

Di dalam kelas, ketika Lala sedang mengikuti pelajaran salah satu mata kuliahnya, tiba-tiba tubuh Lala terlihat seperti ada yang menarik, dan kursi yang Lala duduki melayang ke atas udara. Seisi kelas merinding ketakutan dan bingung dibuatnya. Teman-teman Lala mulai panik melihat kejadian itu. Dan untuk mengantisipasi kejadian serupa terulang kembali, mulai di hari selanjutnya mereka mengadakan doa bersama sebelum kuliah dimulai. "Kehidupan saya tidak tenang karena ‘mereka' selalu mengganggu saya," ujar Lala.

Gangguan belum berakhir. Sewaktu makan, Lala tidak bisa memasukkan makanan yang ada di sendok ke dalam mulutnya. Ketika ia mencoba dengan garpu, garpu itu melesak ke dalam mulutnya dan menusuk ke lidah. Teman-temannya berusaha membantu Lala menarik garpu itu, namun tidak berhasil. Darah mulai mengalir dari dalam mulut Lala. Akibat dari kejadian itu Lala tidak bisa makan selama satu minggu, badannya mulai terlihat kurus sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan khusus.

Sesampainya di rumah sakit, jarum infus yang hendak dimasukkan ke pembuluh darah Lala sulit untuk dimasukkan. Dokter yang bertugas semakin dibuat heran ketika muncul tanda seperti simbol ‘X' berwarna merah di dahi Lala. Simbol itu seperti luka yang kering. Bahkan beberapa waktu kemudian muncul tulisan ‘SATAN' di tubuh Lala. "Saya dipermalukan sekali oleh Lucifer," ujar Lala.

Teror demi teror terus berdatangan. Semakin hari semakin aneh dan mengerikan. Tiba pada puncaknya ketika Lala sedang masuk ke dalam kamar mandi, ia menghilang seketika. Teman-temannya sempat terbelalak ketika mereka melihat kamar mandi dalam keadaan kosong. Karena sebelumnya mereka sempat melihat dengan jelas Lala masuk ke dalam situ. Akhirnya disebarkan berita kalau Lala hilang. Seorang petugas polisi menemukan Lala sedang berdiri di pinggir jalan. Kejadian itu terulang kembali pada hari berikutnya. Lala menghilang dan ia tiba-tiba sudah berada di pegunungan Ciwidey.

Suatu hari Lala melihat sosok iblis keluar masuk dalam tubuhnya. Perlahan penglihatannya mulai memudar dan semua yang dilihat Lala seperti buram. Pada akhirnya Lala tidak dapat melihat sama sekali. Semua serba gelap. Beberapa menit kemudian sebuah tangan yang besar terasa seperti mencekik leher Lala. Dan Lala menjadi bisu seketika itu juga. Di saat yang bersamaan, kaki Lala juga lumpuh. Kejadian itu terjadi pada bulan April 2002. Tidak sampai di situ saja. Iblis juga menyumbat pikiran Lala sehingga Lala menjadi amnesia dan tidak mengenali satu orang pun yang ada di dekatnya. Stres yang hebat mulai Lala alami. Ia merasa tidak memiliki pengharapan. Nilai-nilainya hancur dan teman-temannya satu per satu mulai pergi menjauhi dirinya.

Pencobaan Bunuh Diri

Lima hari sudah Lala lewati dalam keadaan buta, bisu, lumpuh dan tidak mengenali suara-suara yang ia dengar. Pilihan yang terlintas dalam pikiran Lala hanya ada 2; menyerahkan diri kepada iblis atau bunuh diri. Karena sudah tidak kuat menahan penderitaan tersebut, Lala memutuskan untuk bunuh diri. Ia mencoba meraba-raba seisi kamarnya untuk mencari barang yang tajam supaya dapat menikam lehernya sendiri dan menghabisi nyawanya. Tetapi niat itu batal ketika seseorang masuk ke dalam kamarnya dan menggenggam tangan Lala. Orang itu menuliskan sesuatu di atas tangan Lala, "Ini mama." Dan lagi ia menuliskan sebuah kalimat, "Segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Yesus sayang sama Lala." Hingga akhirnya Lala menemukan pilihan yang ke-3, yaitu menerima Yesus.

Mujizat Kesembuhan Terjadi Saat Pelepasan

Sementara itu, selain kedua orang tua Lala, ada banyak orang berdoa untuk Lala. Karyawan Maranatha di bagian pembukuan juga ikut berpuasa untuk Lala, bahkan mereka berdoa selama berjam-jam. Mereka berdoa agar Tuhan segera menolong dan mengasihani Lala. "Saya melihat suatu keindahan yang Tuhan perlihatkan. Rumah kami menjadi rumah doa," ucap Pak Bambang dengan wajah berseri-seri ketika memberikan kesaksian. Kebahagiaan terpancar dari mimik wajahnya yang tenang ketika ia mengingat kembali kejadian itu. Akhirnya mujizat kesembuhan terjadi. Doa orang benar besar kuasanya. Lala bisa mendengar dan berbicara lagi, meskipun ia belum bisa melihat.

Lala mulai ikut bernyanyi memuji dan menyembah Tuhan bersama teman-temannya. Dan secara ajaib perlahan-lahan warna hitam yang menutupi penglihatannya mulai berubah menjadi warna-warni. Lala bisa melihat kembali. "Saya mulai mengamati bahwa pujian dan penyembahan ada kuasa. Tuhan bertahta di atas puji-pujian," ujar Lala.

Kejadian Aneh Muncul Kembali

Beberapa hari kemudian, ketika sedang berada di dalam mobil bersama kedua orang tua dan pamannya, Lala tiba-tiba menghilang. Kejadian itu membuat mereka menjadi ngeri dan panik, karena Lala tidak lagi berada bersama mereka. Sedangkan Lala sendiri tiba-tiba sudah berada di dalam sebuah rumah besar yang aneh. Beberapa anak muda menyapa kehadiran Lala. Lala tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Kuasa iblis seperti sedang menguasainya. Lalu datang seseorang memasuki ruangan, seorang laki-laki yang dahulu pernah berada di dalam kamar Lala. "Mungkin kamu lupa sama saya, tapi hari ini kamu akan saya jadikan permaisuriku," ucap laki-laki itu. Dalam keadaan tidak berdaya, iblis membawa Lala ke pelaminannya. Anak-anak muda yang berada di dalam ruangan tersebut membaca sebuah mantera sambil mengiringi perjalanan Lala.

Lala dibawa oleh laki-laki itu dan diposisikan di sebelah dia sambil dirangkulnya. Semua orang yang ada di depan Lala memakai baju hitam, dan mereka terlihat sedang memakan daging mentah. Darah segar muncrat dari mulut mereka - mengotori lantai ruangan. Mulut mereka berlumuran darah. Lalu setelah itu anak-anak muda yang berada di dalam ruangan saling berhubungan seks.

Laki-laki misterius yang membawa Lala mulai berusaha menjamah tubuh Lala. Kemudian Lala melihat wajahnya berubah menjadi panjang. Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Lala sebuah ajakan untuk menyebut nama Yesus. Lala pun berusaha berkata dalam hati, "Yesus tolong saya, walau saya lupa tentang Kau tapi saya tahu Kau mau menolong saya, Yesus tolong saya."

Akhirnya ketika mata Lala berkedip, ia sudah berada di tempat lain lagi. Terlihat banyak angkot-angkot lewat. Lala sedang berada di pinggir jalan. Ia tidak tahu mau pulang ke mana. Walaupun dalam keadaan bingung, namun Lala bersukacita. Ia meneriakkan nama Yesus sehingga orang-orang memperhatikannya.

Lala masih tidak tahu harus pulang ke mana. Ia kembali berseru kepada Yesus. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Lala mendengar suara Tuhan yang lembut, "Anak-Ku, orang tuamu sekarang ada di Gereja Sidang Jemaat Allah, di Jalan Sudirman. Ketahuilah Aku senantiasa menyertai kamu."

Tuhan Yesus Mendatangi Lala

Setibanya di gereja itu, Lala bertemu kembali dengan pamannya. Mereka naik ke atas gedung gereja dan melihat kedua orang tua Lala sedang berdoa. Ibu Annie Prasetyo, ibu Lala, segera memeluk Lala sambil mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Yesus.

Lalu mereka semua turun ke bawah. Saat itu Lala merasa sudah sangat putus asa, dan berkata kepada ibunya bahwa ia mau mati saja. Ibu Annie mencoba menenangkan Lala. Dalam keadaan letih yang luar biasa tiba-tiba Lala melihat Yesus hadir di hadapannya. Mata Lala menatap lurus ke suatu titik. Orang-orang di sekeliling Lala mulai menengking-nengking, karena mereka berpikir Lala kembali didatangi oleh roh jahat. Namun Lala tetap tenang. Yesus mendekati Lala dan berkata, "Anak-Ku, Aku mengasihi engkau." Dia lalu membuka tangan-Nya dan mengajak Lala untuk berdoa, "Bapa Kami yang di sorga..." Lala mengikutinya dan semua orang menangis.

Tak lama kemudian perut Lala dipelintir oleh iblis dan dipukul. Lala menjerit kesakitan. Tangan kiri Lala tetap dipegang oleh Tuhan. Suasana menjadi gaduh, namun Lala sempat mendengar suara Yesus, "Percayakah Kau kepadaku?" Lala menjawab, "Saya mau percaya asalkan saya sembuh dulu!" Hingga akhirnya Lala tidak sadarkan diri. Lau ia dibawa ke ruang doa. Peristiwa yang menggemparkan terjadi. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, keluar suara lemah dari mulut Lala, "Ya Yesus, Engkau Anak Allah Yang Maha Tinggi. Engkau adalah Mesias yang sudah mengalahkan saya 2000 tahun yang lalu. Ampuni kami Tuhan." Setelah terbatuk keras, Lala mulai sadar. Tuhan Yesus kembali bertanya kepada Lala pertanyaan yang sama, dan Lala segera menjawabnya, "Saya percaya Tuhan!" Tangan Tuhan menjamah wajah Lala dan seketika itu ingatan Lala mulai pulih. Ia dapat mengenali semua orang yang ada di ruangan tersebut. "Maukah Engkau memikul salib bersama-Ku?" tanya Yesus lagi. "Ya, saya mau!" jawab Lala dengan tegas. "Sampai maranatha," ucap Yesus sebelum Ia pergi berlalu.

Kehidupan Lala dipulihkan dan diubah menjadi baru. Pak Bambang dan Ibu Annie kini mulai terlibat aktif dalam pelayanan. Mereka percaya, bahwa segala sesuatu terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan.

(Kisah ini telah ditayangkan 23 Juli 2007 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Kesaksian : Melanie Prasetyo

KEPEKAAN LEWAT SEPOTONG ROTI

Malam ini adalah malam Natal. Seisi rumah mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu sejak pagi tadi. Begitu juga dengan aku. Sesudah misa malam Natal, biasanya kami sekeluarga berkumpul untuk saling mengucapkan selamat Natal dan makan malam bersama.

Siang ini aku berencana untuk membeli dua loyang kue kesukaan keluarga kami. Satu untuk keluarga orang tuaku dan satu lagi untuk keluarga suamiku.

Setelah menentukan toko roti tempat kami akan membeli kue, kami segera berangkat ke tempat tujuan. Setibanya di toko kue, kami segera memilih kue yang dimaksud. Karena belum sempat sarapan, suamiku memintaku untuk membelikannya roti isi. Satu bungkus plastik berisi tiga buah roti dengan rasa yang berbeda.

Sesudah membayar semua belanjaan kami, segera kami menuju ke rumah mertuaku untuk mengirimkan kue yang baru aku beli. Dalam perjalanan menuju rumah mertuaku, kami sempat tercegat oleh lampu merah. Begitu aku mengerem mobil, tidak berapa lama kemudian seorang gadis kecil peminta-minta menghampiri kaca jendelaku. Seperti pengemis lain, ia langsung menengadahkan tangannya memohon sekeping uang. Refleks aku langsung melambaikan tanganku, menandakan menolak untuk memberi. Tanpa menunggu lebih lama, gadis kecil itu langsung meninggalkan mobilku.

Pada saat yang bersamaan, suamiku memberikan roti terakhirnya kepadaku. Ia memintaku untuk memberikan roti terakhirnya kepada gadis kecil tadi. Segera kubuka jendela mobil, dan setengah berteriak kupanggil gadis kecil tadi. Setelah mendekat, kuberikan roti tadi sambil tersenyum. Gadis itu segera menerima roti dariku sambil mengucapkan terima kasih.

Sambil memegang roti itu, gadis kecil segera berlari ke arah ibu-ibu berpakaian lusuh yang duduk di tepi jalan. Mungkin perempuan tua itu adalah ibunya, begitu pikirku. Gadis kecil itu menyerahkan roti tadi kepada ibunya sambil menunjuk-nunjuk dan tertawa lebar, ke arah mobilku.


Begitu lampu hijau menyala, aku segera melajukan mobilku. Tepat saat mobilku melewati mereka, si ibu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, begitu juga dengan gadis kecil itu. Tampak sukacita di wajah mereka.


Sungguh, ucapan syukur yang terungkap lewat segaris senyum yang tulus.

Aku baru menyadari, betapa berartinya pemberian yang kami pikir tidak seberapa, tapi bagi mereka, roti itu mungkin adalah sesuatu yang membahagiakan mereka. Aku jadi teringat bahwa Yesus hadir dalam diri orang-orang yang papa. Aku meyakini bahwa di malam Natal tahun ini, aku sungguh-sungguh telah melihat senyum Yesus dari wajah gadis kecil dan ibu tadi. Terima kasih Tuhan, karena engkau telah membuat hatiku menjadi peka dengan orang di sekitarku.

Diambil dan diedit seperlunya dari:
Nama situs : Glorianet
Judul artikel: tidak dicantumkan
Penulis : Maria Goreti Yuanita P

Kamis, 01 Januari 2009